Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Indonesia dan India Perkuat Kemitraan Strategis Lewat India–Indonesia Critical Minerals Conference di Jakarta

Indonesia dan India Perkuat Kemitraan Strategis Lewat India–Indonesia Critical Minerals Conference di Jakarta

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
  • visibility 78
  • comment 0 komentar

JAKARTA — Pemerintah India dan Indonesia mempertegas kemitraan strategis di sektor baja dan mineral kritis melalui forum tingkat tinggi India–Indonesia Critical Minerals Conference yang digelar di Hotel JW Marriott Jakarta, Selasa (24/2/2026). Konferensi ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar India di Jakarta bersama Indonesian Chamber of Commerce in India (IndCham), dan mempertemukan pejabat pemerintah, pelaku industri, asosiasi pertambangan, hingga lembaga keuangan dari kedua negara.

Forum ini menjadi momentum penting dalam kunjungan resmi Secretary Ministry of Steel Pemerintah India ke Indonesia, sekaligus menandai keseriusan kedua negara dalam memperkuat kerjasama rantai pasok baja dan mineral strategis di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap nikel, baja nirkarat, dan bahan baku transisi energi.

Komitmen Tingkat Tinggi Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Konferensi dibuka oleh Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, yang menekankan bahwa India memandang Indonesia sebagai mitra kunci dalam arsitektur rantai pasok mineral global.

“Acara ini membuka berbagai peluang baru di mana perusahaan Indonesia dan India dapat bekerja sama lebih erat dalam membangun ketahanan rantai pasok dan menciptakan nilai tambah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi kedua negara tidak hanya berorientasi pada perdagangan bahan mentah, tetapi juga pada pengembangan industri hilir dan investasi jangka panjang.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Sandeep Poundrik, Secretary di Ministry of Steel Government of India. Ia menyoroti ambisi India dalam meningkatkan kapasitas produksi baja nasional secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan, yang membutuhkan dukungan pasokan bahan baku yang stabil dan berkelanjutan.

“India sedang dalam fase ekspansi besar industri bajanya. Untuk itu, kemitraan dengan negara produsen seperti Indonesia menjadi sangat strategis,” katanya.

Dari pihak Indonesia, Jisman P. Hutajulu, Staf Ahli Menteri ESDM untuk Perencanaan Strategis, menekankan pentingnya sinergi kebijakan antara kedua negara dalam mendukung hilirisasi dan transisi energi.

Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menambahkan bahwa penguatan sektor mineral kritis juga harus didukung oleh transformasi digital dan tata kelola berbasis teknologi. Ia menyebut bahwa digitalisasi rantai pasok akan meningkatkan transparansi, efisiensi, dan daya saing global.

Dengan kehadiran pejabat tinggi dan pelaku industri utama dari kedua negara, konferensi ini menjadi ruang strategis untuk membahas ketahanan rantai pasok baja, kebijakan mineral kritis, investasi, serta penguatan kerja sama industri Indonesia–India secara lebih konkret.

Ketahanan Rantai Pasok Baja dan Bahan Baku

Forum berlanjut dengan presentasi yang disampaikan oleh Subrato Kumar Ghosh, Practice Leader and Corporate Consultant di SRK Consulting.

Ia memaparkan lanskap global mineral kritis dari sudut pandang geologi, eksplorasi, serta kelayakan proyek tambang. Menurutnya, lonjakan permintaan terhadap nikel, kobalt, dan mineral strategis lainnya didorong oleh percepatan kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Namun, ia menegaskan bahwa kekuatan cadangan saja tidak cukup. Proyek tambang harus memenuhi standar pelaporan internasional, memiliki tata kelola yang transparan, serta mampu menarik pembiayaan global agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Membangun Ketahanan Rantai Pasok Baja di Tengah Ketidakpastian Global

Diskusi Panel 1 bertajuk Steel & Raw Materials Supply Chain Resilience berlangsung dinamis dengan fokus pada ketahanan rantai pasok baja dan bahan baku strategis. Panel dimoderatori oleh Abhijit Narendra, Joint Secretary di Ministry of Steel Government of India, yang membuka diskusi dengan menekankan bahwa dunia saat ini menghadapi tantangan gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik, volatilitas harga komoditas, dan kebijakan proteksionisme.

Ia menyampaikan bahwa India tengah memperluas kapasitas baja nasional secara signifikan dan membutuhkan mitra yang dapat menjamin pasokan bahan baku jangka panjang. “Ketahanan rantai pasok bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis,” ujarnya.

Manish Raj Gupta dari Steel Authority of India Limited menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas produksi baja India harus diiringi dengan diversifikasi sumber bahan baku. Ia menekankan pentingnya kemitraan dengan negara produsen seperti Indonesia agar ketergantungan pada satu kawasan dapat dikurangi.

Sementara itu, Vijay Sharma dari Jindal Stainless Limited menyoroti pentingnya integrasi hulu dan hilir dalam industri stainless steel. Ia menyatakan bahwa kestabilan pasokan nikel dan bahan baku lainnya sangat menentukan daya saing industri baja nirkarat India di pasar global. “Kolaborasi jangka panjang akan menciptakan kepastian bagi industri dan investor,” katanya.

Dari sisi Indonesia, Hernowo dari PT Krakatau Steel menegaskan bahwa industri baja nasional tengah bertransformasi untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Ia menyambut baik peluang kolaborasi dengan India dalam bidang teknologi, pembiayaan, serta pengembangan pasar regional.

Rori Surya Perdana dari Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia mengingatkan bahwa ketahanan industri baja juga bergantung pada ketersediaan energi. Ia menekankan bahwa batubara metalurgi tetap menjadi komponen penting dalam proses produksi baja konvensional.

Perspektif investor disampaikan oleh Anirudh Misra dari IMR Group, yang menekankan bahwa proyek-proyek tambang dan baja memerlukan stabilitas kebijakan dan kepastian hukum. “Investor membutuhkan kejelasan regulasi dan visi jangka panjang,” ujarnya.

Sementara itu, Patricia Lumbangaol dari PT Adaro Minerals Indonesia Tbk menyoroti potensi mineral metalurgi Indonesia yang dapat mendukung industri baja regional. Yohanes Kurniawan dari Indonesian Stainless Steel Development Association menambahkan bahwa penguatan industri stainless steel domestik harus diiringi kolaborasi teknologi dan pengembangan pasar.

Secara keseluruhan, panel ini menegaskan bahwa kemitraan Indonesia dan India memiliki fondasi kuat untuk membangun rantai pasok baja yang lebih tangguh, terdiversifikasi, dan berkelanjutan.

Indonesia dan Strategi Pengendalian Pasar Nikel

Sesi selanjutnya dibuka oleh Meidy Katrin Lengkey, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).

Ia menyampaikan bahwa Indonesia kini menguasai sekitar 65 hingga 67 persen pasokan nikel dunia.

“Indonesia sekarang terlihat seperti OPEC-nya nikel. Kami adalah pengendali. Kami adalah penentu pasar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan pengurangan kuota produksi 2026 telah mendorong kenaikan harga global secara cepat, sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan surplus pasar.

Selain itu, ia memaparkan keberhasilan hilirisasi nikel sejak larangan ekspor bijih mentah diberlakukan, yang kini menghasilkan puluhan fasilitas pengolahan dan produksi bahan baku baterai.

Ia juga mengajak investor India untuk masuk lebih aktif dalam ekosistem hilirisasi nikel Indonesia.

Mineral Kritis dan Perebutan Masa Depan Industri Global

Panel kedua bertajuk Critical Minerals: Policy, Technology and Future memperluas diskusi ke sektor mineral kritis yang menjadi tulang punggung transisi energi global.

Diskusi menghadirkan Charles Kho dari HSBC, Amitava Mukherjee dari NMDC Ltd, Manoj Kumar Behera dari PT Jindal Steel, serta Luke Mahony dari Danantara.

Amitava Mukherjee menekankan bahwa mineral kritis kini menjadi isu strategis nasional bagi banyak negara. Ia menyebut bahwa kerja sama antarnegara produsen dan konsumen menjadi kunci dalam menciptakan rantai pasok yang stabil. “Keamanan pasokan mineral adalah bagian dari keamanan ekonomi,” ujarnya.

Manoj Kumar Behera menyoroti peluang integrasi industri baja dan nikel antara Indonesia dan India. Menurutnya, kolaborasi dalam pengolahan dan hilirisasi akan menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan sekadar perdagangan bahan mentah.

Dari perspektif pembiayaan dan manajemen kinerja, Luke Mahony menekankan pentingnya efisiensi operasional dan tata kelola yang kuat agar proyek-proyek mineral kritis tetap kompetitif. Ia menyebut bahwa investor global kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dan transparansi.

Charles Kho dari HSBC menambahkan bahwa lembaga keuangan global siap mendukung proyek mineral kritis yang memenuhi standar tata kelola dan keberlanjutan internasional. “Proyek yang memiliki kepastian regulasi dan standar ESG yang jelas akan lebih mudah mendapatkan pembiayaan,” katanya.

Panel ini menggarisbawahi bahwa masa depan industri global akan sangat ditentukan oleh bagaimana negara produsen dan konsumen membangun kemitraan yang berbasis teknologi, kebijakan yang adaptif, serta investasi berkelanjutan

Awal Babak Baru Kemitraan Industri

Acara ditutup oleh Bijay Selvaraj, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar India di Jakarta.

Ia menyebut acara ini sangat sukses dan membuka banyak peluang konkret bagi perusahaan kedua negara.

“Acara ini telah membuka beberapa jalan baru di mana perusahaan Indonesia dan India dapat bekerja sama,” ujarnya.

Forum ini menandai penguatan diplomasi ekonomi Indonesia–India, khususnya di sektor baja dan mineral kritis yang semakin strategis dalam peta ekonomi global.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tokocrypto Dorong Penerimaan Pajak Kripto Nasional hingga Rp1,96 Triliun

    Tokocrypto Dorong Penerimaan Pajak Kripto Nasional hingga Rp1,96 Triliun

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Jakarta, 2 April 2026 – Penerimaan pajak dari transaksi aset kripto di Indonesia terus mencatatkan pertumbuhan yang konsisten. Hingga akhir Februari 2026, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan melaporkan total penerimaan pajak kripto telah mencapai Rp1,96 triliun sejak kebijakan ini mulai diberlakukan pada 1 Mei 2022. Angka ini meningkat dari posisi Januari 2026 yang tercatat […]

  • Bukan Sekadar Pamer Produk, MJ Solution Indonesia Tunjukkan Cara Baru Membangun Engagement Pengunjung di Jakarta Fair 2026

    Bukan Sekadar Pamer Produk, MJ Solution Indonesia Tunjukkan Cara Baru Membangun Engagement Pengunjung di Jakarta Fair 2026

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 21
    • 0Komentar

    MJ Solution Indonesia menghadirkan pengalaman interaktif berbasis gamification di Jakarta Fair Kemayoran 2026 melalui kolaborasi dengan In-Lite. Mengusung konsep Arcade Game Zone yang dikembangkan oleh CreativeLab, perusahaan menunjukkan bagaimana solusi digital dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan engagement pengunjung sekaligus menciptakan interaksi yang lebih bermakna antara brand dan audiens. Jakarta – Di tengah persaingan brand yang semakin […]

  • BRI Finance Dekatkan Layanan Pembiayaan Kendaraan melalui  Mini Expo di Kantor Pusat BRI Sudirman

    BRI Finance Dekatkan Layanan Pembiayaan Kendaraan melalui Mini Expo di Kantor Pusat BRI Sudirman

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Jakarta, 3 Juli 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) segara gencar menghadirkan program spesial menarik bagi karyawan dan nasabah BRI melalui penyelenggaraan Mini Expo Kendaraan di Kantor Pusat BRI Sudirman, Jakarta. Kegiatan yang berlangsung sejak 10 Juni hingga 31 Agustus 2026 mendatang ini, menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk semakin mendekatkan layanan pembiayaan […]

  • Toreh Sejarah, PLN NPC Tuntaskan ECRL FS 01 di Malaysia Lebih Cepat

    Toreh Sejarah, PLN NPC Tuntaskan ECRL FS 01 di Malaysia Lebih Cepat

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Jakarta – PT PLN Nusantara Power Construction (PLN NPC) menorehkan capaian bersejarah dengan berhasil menyelesaikan energized project East Coast Rail Link (ECRL) Feeder Station (FS) 01 di Tunjung, Kelantan, Malaysia, pada 15 Januari 2026. Penyelesaian proyek ini menjadi tonggak penting bagi PLN NPC karena merupakan proyek luar negeri pertama perusahaan sekaligus membuka langkah baru dalam memperluas […]

  • Sanct, Sosial Media yang Pertemanannya Dimulai dari Bertemu Langsung, Rilis Film Pendek tentang Perantau yang Belum Bisa Pulang

    Sanct, Sosial Media yang Pertemanannya Dimulai dari Bertemu Langsung, Rilis Film Pendek tentang Perantau yang Belum Bisa Pulang

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Sanct, sosial media untuk sahabat dekat dan keluarga yang didirikan founder asal Indonesia, merilis episode ketiga dari seri film pendeknya di YouTube. Film ini bercerita tentang Keisha, perantau yang bekerja di Singapura, yang harus mengabari keluarganya di Jakarta bahwa ia belum bisa pulang, dan tentang cara keluarga itu tetap menghabiskan malam bersama. Film ini membuka […]

  • Gubernur Yulius Selvanus Komaling Bahas Penguatan Sektor Kelautan Sulut Bersama Menteri KKP RI

    Gubernur Yulius Selvanus Komaling Bahas Penguatan Sektor Kelautan Sulut Bersama Menteri KKP RI

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle redaktur reputasi
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Jakarta, ReputasiPlus.com — Langkah serius Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling, dalam memperkuat sektor kelautan dan perikanan kembali ditunjukkan melalui pertemuannya dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia di Jakarta, Senin (3/11/2025). Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh substansi itu turut dihadiri oleh jajaran pejabat eselon I Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). […]

expand_less