Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Harga Emas Hari Ini Masih Rentan Turun, Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Harga Emas Hari Ini Masih Rentan Turun, Pasar Tunggu Data Inflasi AS

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
  • visibility 63
  • comment 0 komentar

Harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari Senin, 9 Maret 2026 seiring dengan penguatan Dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi global. Pada awal sesi perdagangan Asia, harga emas spot (XAU/USD) tercatat melemah dan bergerak di kisaran $5.075, setelah sebelumnya sempat menguat pada akhir pekan lalu saat sesi perdagangan Amerika Utara. Penguatan yang terjadi pada hari Jumat tersebut dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Namun demikian, tekanan eksternal dari penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS masih membatasi potensi kenaikan logam mulia tersebut.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa secara teknikal pergerakan emas saat ini masih menunjukkan kecenderungan bearish, khususnya dalam pengamatan pada timeframe H1. Berdasarkan kombinasi pola candlestick yang terbentuk serta indikator Moving Average, tekanan jual terhadap emas terlihat semakin dominan. Hal ini menandakan bahwa pasar masih berada dalam fase koreksi turun dan potensi pelemahan harga masih terbuka apabila tidak ada katalis positif yang mampu mendorong penguatan signifikan dalam waktu dekat.

Dari sisi fundamental, beberapa faktor global juga turut memengaruhi arah pergerakan emas. Salah satu faktor utama adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi di Amerika Serikat. Kondisi ini berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan. Suku bunga yang tinggi umumnya memberikan tekanan terhadap harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbasis bunga, sehingga investor cenderung beralih ke aset yang menawarkan return lebih menarik.

Selain itu, perhatian pelaku pasar saat ini juga tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada pertengahan pekan. Data inflasi tersebut akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan. Mayoritas ekonom memperkirakan bahwa Federal Reserve kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini dalam pertemuan kebijakan yang akan berlangsung pada 17–18 Maret. Bahkan sejumlah analis menilai bahwa peluang penurunan suku bunga baru akan terbuka pada pertengahan tahun 2026, yakni sekitar bulan Juni atau Juli.

Di sisi lain, data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang dirilis sebelumnya memberikan sedikit dukungan bagi harga emas dalam jangka pendek. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan bahwa perekonomian AS mengalami penurunan lapangan kerja sekitar 92.000 pekerjaan pada Februari, jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan adanya penambahan lapangan kerja. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat meningkat menjadi 4,4%, naik tipis dari 4,3% pada Januari. Data ini menunjukkan adanya perlambatan di sektor tenaga kerja yang berpotensi menekan kekuatan dolar AS dan memberikan ruang bagi penguatan harga komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, termasuk emas.

Meski demikian, tekanan terhadap emas masih cukup besar. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta penguatan dolar secara luas membuat harga emas diperkirakan akan mencatatkan penurunan mingguan yang cukup signifikan. Selain itu, data ekonomi lain seperti penjualan ritel AS yang mengalami kontraksi sebesar 0,2% secara bulanan juga menambah ketidakpastian terhadap kondisi ekonomi global, yang pada akhirnya memengaruhi sentimen investor di pasar komoditas.

Secara teknikal, Andy Nugraha memproyeksikan bahwa jika tekanan bearish terus berlanjut, maka harga emas berpotensi bergerak turun menuju area support di level 4960. Level tersebut dipandang sebagai titik penting yang dapat menjadi target penurunan berikutnya apabila tekanan jual semakin kuat. Namun demikian, apabila harga gagal melanjutkan penurunan dan justru mengalami koreksi naik, maka potensi penguatan terdekat diperkirakan berada di sekitar level resistance 5139.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor teknikal dan fundamental yang memengaruhi pasar saat ini, pergerakan emas diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek dengan kecenderungan melemah. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta dinamika geopolitik global yang dapat memicu perubahan sentimen di pasar keuangan dan komoditas, khususnya emas.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antisipasi Lonjakan Trafik Digital Sepanjang Idulfitri, Lintasarta Perkuat Infrastruktur AI dan Jaringan Nasiona

    Antisipasi Lonjakan Trafik Digital Sepanjang Idulfitri, Lintasarta Perkuat Infrastruktur AI dan Jaringan Nasiona

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Antisipasi Lonjakan Trafik Digital Sepanjang Idulfitri, Lintasarta Perkuat Infrastruktur AI dan Jaringan Nasional Menyambut periode libur panjang Idulfitri 1447 H, Lintasarta memastikan kesiapan penuh infrastruktur digital dan kecerdasan artifisial (AI) untuk menjaga keandalan layanan pelanggan di berbagai sektor strategis nasional. Sebagai Beyond AI Factory di bawah naungan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Group, Lintasarta memproyeksikan trafik […]

  • FLOQ dan ASTER Tandatangani MoU di Indonesia Blockchain Week 2026 Perluas Akses Web3 di Indonesia

    FLOQ dan ASTER Tandatangani MoU di Indonesia Blockchain Week 2026 Perluas Akses Web3 di Indonesia

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Platform perdagangan aset kripto, FLOQ dan ASTER menjalin kolaborasi strategis untuk memperluas akses pengguna Indonesia terhadap produk dan ekosistem Web3. Kerja sama yang sedang dikembangkan mencakup eksplorasi program referral, aktivasi komunitas, perluasan dukungan jaringan ASTER, serta mengeksplorasi model integrasi yang sesuai dengan lanskap aset digital Indonesia. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan MoU ini menjadi langkah bersama untuk mengembangkan momentum ASTER yang telah terbentuk di ekosistem FLOQ sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Sejak resmi terdaftar di FLOQ pada […]

  • KAI Daop 2 Bandung Dorong Masyarakat Gunakan Kereta Api untuk Mobilitas

    KAI Daop 2 Bandung Dorong Masyarakat Gunakan Kereta Api untuk Mobilitas

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Info Daop 2 Bd Selasa, 15 September 2026 KAI Daop 2 Bandung Dorong Masyarakat Gunakan Kereta Api untuk Mobilitas Bandung (Jawa Barat), 15 September 2026 – Mobilitas masyarakat di kawasan perkotaan yang semakin tinggi membutuhkan sistem transportasi yang tidak hanya andal, tetapi juga terintegrasi antara satu moda dengan moda lainnya. Integrasi antarmoda dan kawasan menjadi salah […]

  • KAI Daop 4 Semarang Pastikan Kesehatan Petugas Prasarana Selama Penanganan Genangan di Pekalongan

    KAI Daop 4 Semarang Pastikan Kesehatan Petugas Prasarana Selama Penanganan Genangan di Pekalongan

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle editor News
    • visibility 81
    • 0Komentar

    ​KAI Daop 4 Semarang terus berupaya maksimal dalam melakukan proses normalisasi jalur kereta api di Pekalongan yang terdampak banjir selama dua hari terakhir. ​KAI Daop 4 Semarang terus berupaya maksimal dalam melakukan proses normalisasi jalur kereta api di Pekalongan yang terdampak banjir selama dua hari terakhir. Di tengah tantangan cuaca ekstrim, KAI memberikan perhatian khusus […]

  • Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Tata Kelola Berbasis Data, Akurasi Produksi Sawit PTPN IV Regional III Tembus 96,77 Persen

    Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Tata Kelola Berbasis Data, Akurasi Produksi Sawit PTPN IV Regional III Tembus 96,77 Persen

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Pekanbaru — Holding Perkebunan Nusantara terus mendorong penguatan tata kelola operasional berbasis data di seluruh entitasnya. Salah satunya diwujudkan melalui transformasi on-farm yang dijalankan oleh PTPN IV Regional III dengan mengedepankan implementasi trossen telling atau perhitungan bunga buah sebagai fondasi estimasi produksi. Dalam dua tahun terakhir, pendekatan tersebut menjadi instrumen utama dalam meningkatkan akurasi perencanaan […]

  • Kira Souvenir x Pengrajin Lokal: Mengubah Kerajinan Nusantara Jadi Souvenir Corporate Premium

    Kira Souvenir x Pengrajin Lokal: Mengubah Kerajinan Nusantara Jadi Souvenir Corporate Premium

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Souvenir corporate tidak lagi dilihat sebagai formalitas semata. Banyak perusahaan kini mulai mengedepankan identitas budaya lokal. Mereka mencari sesuatu yang lebih, souvenir yang punya karakter, cerita, dan identitas yang mencerminkan nilai brand mereka. Di sinilah Kira Souvenir hadir dengan pendekatan yang berbeda: menggandeng perajin lokal Nusantara untuk menciptakan souvenir corporate yang melampaui sekadar cendera mata […]

expand_less