Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » 17 Ribu Kilometer Demi Tanah: Perjalanan Konstantin Zulske Melintasi Negara dan Benua

17 Ribu Kilometer Demi Tanah: Perjalanan Konstantin Zulske Melintasi Negara dan Benua

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
  • visibility 25
  • comment 0 komentar

Jakarta — Sulit rasanya melihat berita dunia belakangan ini tanpa dihantui perang, kelangkaan sumber daya, dan situasi politik yang penuh ketidakpastian. Banyak dari peristiwa itu terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari sehingga terkadang terasa lebih mudah untuk berpikir bahwa semua itu bukan urusan kita. Jarak sering membuat orang merasa dapat mengambil langkah menjauh dari suatu persoalan. Namun bagi aktivis lingkungan Konstantin Zulske, jarak bukan alasan untuk mengabaikannya.

Dari Jerman Timur ke India hingga Indonesia, Konstantin Zulske telah menempuh lebih dari 17.000 kilometer hanya dengan sepeda. Semua itu ia lakukan untuk mempromosikan Save Soil, sebuah gerakan yang mengangkat kesadaran mengenai degradasi tanah yang semakin cepat terjadi di berbagai belahan dunia. Selama perjalanannya, ia telah melakukan banyak wawancara, berkemah di ruang terbuka, melintasi negara-negara berbeda, serta bertemu orang-orang dari berbagai latar budaya yang ikut membentuk perjalanan hidup dan pemahamannya tentang makna gerakan ini. Saat ini, ia berada di Jakarta setelah menyelesaikan perjalanan di sejumlah wilayah Indonesia dan Bali. Wawancaranya bersama tim India News Desk di Taman Menteng menjadi salah satu titik terbaru dalam perjalanan panjangnya.

Bersepeda Melintasi Batas untuk Sebuah Misi Global

Save Soil awalnya didirikan oleh Sadhguru dan Isha Foundation sebagai upaya meningkatkan perhatian terhadap krisis degradasi tanah. Apa yang semula muncul sebagai isu lokal kemudian berkembang menjadi gerakan global dengan jutaan relawan di berbagai negara. Menurut Konstantin, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa sekitar 52 persen tanah produktif untuk pertanian di dunia telah mengalami degradasi, menciptakan dampak yang jauh melampaui sektor pertanian itu sendiri.

Bagi Konstantin, persoalan ini berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, hilangnya keanekaragaman hayati, migrasi, perubahan iklim, hingga stabilitas global.

“Semua orang berbicara tentang perubahan iklim dan krisis air. Namun hampir tidak ada yang membicarakan soal tanah,” ujarnya.

Keterlibatan Konstantin dalam gerakan ini terasa alami. Jauh sebelum perjalanan dimulai, bersepeda telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia mengaku terbiasa menempuh perjalanan jauh sejak masa sekolah hingga kuliah, bahkan sering bersepeda puluhan kilometer setiap hari. Ketika latar belakang akademiknya di bidang ilmu tanah bertemu dengan gerakan Save Soil, ia merasa menemukan perpaduan antara minat pribadi dan tujuan hidup.

“Saya suka bersepeda, saya suka menyelamatkan tanah. Jadi itulah yang mendorong saya melakukan sesuatu yang cukup gila,” katanya sambil tertawa.

Keputusan “gila” itu kemudian berkembang menjadi #cyclingforsoil, sebuah misi yang membawanya melintasi benua dan berbagai bentang alam.

Ketika ditanya mengenai bagian paling berkesan dari perjalanannya, Konstantin mengatakan banyak momen istimewa muncul justru saat ia sendirian. Di luar wawancara dan interaksi dengan masyarakat lokal, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk memperhatikan perubahan lanskap yang ia lewati. Jalanan, pegunungan, garis pantai, hutan, hingga langit malam perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.

Lanskap Indonesia, Keramahan Warga, dan Tantangan yang Tak Diduga

Meski perjalanan panjangnya dipenuhi berbagai tantangan, Konstantin justru menyebut Indonesia sebagai salah satu pengalaman tersulit secara fisik.

Setelah menghabiskan enam bulan di India untuk fokus pada yoga dan meditasi tanpa bersepeda, ia tiba di Jakarta dan langsung memulai perjalanan menuju Bandung melalui jalur Puncak. Di tengah perjalanan, ia mengalami gangguan pencernaan sekaligus nyeri hebat pada lutut saat harus menghadapi jalur menanjak.

Namun kesulitan di awal itu perlahan tergantikan oleh pengalaman-pengalaman yang membekas.

Saat pertama kali tiba di Jakarta bertepatan dengan perayaan Idulfitri, ia justru dikejutkan oleh suasana kota yang sangat sepi. Setelah datang dari Mumbai yang padat dan ramai, Jakarta yang lengang terasa sangat berbeda dari bayangannya.

Ketika mulai kembali bersepeda, ia merasakan antusiasme masyarakat Indonesia yang menurutnya sangat unik.

“Semua orang sangat antusias melihat saya,” katanya sambil tertawa saat mengingat bagaimana orang-orang meneriakkan “Mister!” dan “Bule!” berkali-kali sepanjang perjalanan.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat mengunjungi Gunung Bromo. Melihat gunung berapi dari jarak dekat untuk pertama kalinya, lalu menuruni jalur menuju Probolinggo di bawah cahaya bulan, menjadi salah satu momen yang paling ia ingat. Ia menggambarkan perjalanan melewati garis pantai, jalanan yang diterangi bulan, hingga area dengan kunang-kunang sebagai pengalaman yang sulit dilupakan.

Ia juga memuji keramahan masyarakat Indonesia.

“Orang Indonesia sangat ramah dan menyenangkan,” ujarnya sambil tertawa.

Mulai dari sekolah, universitas, hingga warga yang membuka pintu rumah dan berbagi makanan dengannya, Konstantin merasa selalu diterima selama berada di Indonesia.

Perjalanan ke Dalam Diri dan Melampaui Batas

Menjelang akhir wawancara, Konstantin mengatakan pelajaran terbesarnya bukan sekadar tentang perjalanan fisik.

Bertahun-tahun menghabiskan waktu di jalan yang panjang dan sepi memberinya ruang untuk menghadapi banyak pikiran yang selama ini tenggelam di tengah rutinitas.

Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai perjalanan yang sangat personal, bahkan spiritual. Baginya, perjalanan itu menjadi kesempatan untuk memahami apa yang benar-benar ia inginkan dalam hidup dan hal-hal yang ternyata tidak terlalu ia perlukan.

Di luar refleksi pribadi, perjalanan juga mengubah cara pandangnya terhadap orang lain. Setelah mengunjungi berbagai negara, termasuk wilayah yang sering dikaitkan dengan ketegangan politik, ia menyadari bahwa manusia di mana pun memiliki harapan dan pergumulan yang serupa.

“Pada akhirnya, manusia tetaplah manusia,” ujarnya.

Saat menutup percakapan, Konstantin mengingatkan bahwa di balik seluruh pengalaman positifnya, ia juga melihat langsung pembakaran sisa tanaman dan sungai-sungai yang mulai mengering selama perjalanannya. Degradasi tanah terus berlangsung secara perlahan di banyak tempat, tetapi ia percaya kesadaran dan tindakan bersama masih dapat mengubah masa depannya.

 

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bitcoin Kembali ke US.000, FLOQ Ingatkan Investor Waspadai Risiko Inflasi dan Geopolitik yang Masih Membayangi Pasar

    Bitcoin Kembali ke US$65.000, FLOQ Ingatkan Investor Waspadai Risiko Inflasi dan Geopolitik yang Masih Membayangi Pasar

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Jakarta, 19 Juli 2026 – Harga Bitcoin kembali menembus level psikologis US$65.000 setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan lebih besar dari perkiraan. Data Consumer Price Index (CPI) Juni tercatat turun menjadi 3,5% secara tahunan, dari 4,2% pada Mei, sementara Producer Price Index (PPI) juga melambat dari 6,0% menjadi 5,5%. Kondisi tersebut memicu […]

  • Tingkatkan Standar Trainer di Indonesia, KLTC® Gelar Program Pendidikan dan Pelatihan Khusus Profesi Trainer (PPKPT)

    Tingkatkan Standar Trainer di Indonesia, KLTC® Gelar Program Pendidikan dan Pelatihan Khusus Profesi Trainer (PPKPT)

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 35
    • 0Komentar

    KLTC® kembali menyelenggarakan Program Pendidikan dan Pelatihan Khusus Profesi Trainer (PPKPT) angkatan ke-8 yang akan berlangsung pada akhir tahun 2026. Program intensif selama 160 jam ini dirancang untuk mencetak trainer profesional melalui pendekatan praktis dan terstruktur. Dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia serta dukungan berbagai sertifikasi nasional dan internasional, PPKPT menjadi bagian dari upaya […]

  • Kulit Sensitif pada Bayi: Penyebab, Ciri-ciri, dan Cara Perawatannya

    Kulit Sensitif pada Bayi: Penyebab, Ciri-ciri, dan Cara Perawatannya

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Kulit sensitif bayi adalah kondisi yang umum dan bisa dipicu oleh banyak faktor sehari-hari. Dengan mengenali penyebab dan ciri-cirinya lebih awal, Mom & Dad dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan kulit si kecil. Melalui perawatan kulit sensitif bayi yang lembut, aman, dan konsisten, mulai dari pembersihan hingga pelembapan kulit bayi dapat tetap terhidrasi, […]

  • TP PKK DKI Jakarta Berhasil Selenggarakan Khitanan Massal untuk Lebih dari 2.000 Anak: Antusiasme Tinggi Hingga Raih Penghargaan MURI

    TP PKK DKI Jakarta Berhasil Selenggarakan Khitanan Massal untuk Lebih dari 2.000 Anak: Antusiasme Tinggi Hingga Raih Penghargaan MURI

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Melalui momentum HUT ke-499 DKI Jakarta, PAM JAYA berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai program yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung terwujudnya Jakarta sebagai kota global yang inklusif, sehat dan berkelanjutan. Jakarta, 8 Juli 2026 – TPPKK dan PAM JAYA resmi mengakhiri rangkaian kegiatan Khitanan Massal Gratis 2026 yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-499 […]

  • Band Modern Hard Rock, Mahoney Perkenalkan Single Perdana “Galagasi”

    Band Modern Hard Rock, Mahoney Perkenalkan Single Perdana “Galagasi”

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Band modern hard rock asal Jakarta, Mahoney, resmi memperkenalkan single perdana mereka berjudul “Galagasi”. Dengan energi modern hard rock yang agresif dan emosional, Mahoney hadir membawa warna baru di skena musik rock Indonesia. Mahoney diperkuat oleh Andis Anarga (gitar vokal), Rendy Puja (gitar), Imam Lutfi (bass), Fitra (drum), dan Kamal Nasar (vokal). Nama Mahoney merepresentasikan […]

  • Fitch Menaikkan Asumsi Harga Komoditas, Ini Prospeknya

    Fitch Menaikkan Asumsi Harga Komoditas, Ini Prospeknya

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 64
    • 0Komentar

    JAKARTA – Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menaikkan asumsi harga logam dan komoditas tambang untuk tahun 2026. Proyeksi ini dinilai berpotensi menjadi sentimen positif bagi kinerja saham emiten pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Melansir laporan resmi Fitch Ratings, proyeksi harga tembaga naik dari sebelumnya US$9.500/ton menjadi US$11.500/ton. Kenaikan asumsi harga tembaga didorong […]

expand_less