Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » BBCA Diborong Direksi Saat Turun! Kesempatan Langka Sebelum Harga Terbang ke 10.000?

BBCA Diborong Direksi Saat Turun! Kesempatan Langka Sebelum Harga Terbang ke 10.000?

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
  • visibility 34
  • comment 0 komentar

Di pasar saham, ada satu pedoman investasi yang jarang meleset: ketika para nahkoda kapal memborong tiket, itu tandanya kapal siap berlayar cepat. Saat ini, kita sedang menyaksikan momentum langka di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026, alih-alih bersikap defensif, jajaran petinggi BCA justru agresif menyerok saham mereka sendiri.

Ini bukan sekadar transaksi biasa. Ini adalah eksekusi strategi buy on weakness—membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon. Aksi borong ini menjadi bukti kuat bahwa pihak yang paling memahami kondisi “dapur” perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA.

Mari kita bedah fakta di lapangan pada kuartal I 2026. Angka miliaran rupiah ini dikeluarkan langsung dari kantong pribadi para direksi dan manajemen:

* Hendra Lembong: Menambah amunisi secara masif dengan dana hingga Rp7,93 miliar.

* John Kosasih (Wakil Presiden Direktur): Mengeksekusi pembelian senilai Rp4,37 miliar pada Maret 2026.

* Vera Eve Lim: Mengeluarkan dana segar Rp3,84 miliar untuk mempertebal kepemilikan.

* Santoso (Direktur): Mengunci posisi dengan total nilai transaksi Rp3,46 miliar pada Maret 2026.

* Frenkie Candra Kusuma (Managing Director): Mengakumulasi saham senilai Rp2,87 miliar sejak Maret 2025.

* Lianawaty Suwono (Direktur): Memborong 300.000 saham senilai Rp2,1 miliar di akhir Januari 2026 justru saat pasar sedang bergejolak.

Jika orang-orang nomor satu di bank paling profitable di Indonesia ini melihat harga saat ini sebagai peluang emas, mengapa investor ritel justru ragu?

Valuasi Tidak Masuk Akal: BCA Lebih Murah dari Bank Digital

Keyakinan manajemen ini sangat sejalan dengan realitas valuasi sahamnya saat ini. Namun ukuran yang lebih tepat untuk membandingkan saham bank bukan lagi PBV, melainkan PER (Price to Earnings Ratio), karena PER menunjukkan berapa lama investor “membayar” harga saham dari laba yang dihasilkan perusahaan.

Pengamat pasar modal Rendy Yefta mangatakan saat ini, saham BBCA hanya diperdagangkan di kisaran PER sekitar 15 kali. Artinya, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia. Sekarang bandingkan dengan Bank Jago (ARTO). Saham ARTO diperdagangkan di sekitar PER 64 kali. Dengan kata lain, investor harus membayar valuasi lebih dari 4 kali lebih mahal dibanding BBCA untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan.

Yang membuat situasinya terasa “gila” adalah kemampuan mencetak laba antara kedua bank tersebut sangat berbeda. BCA sudah terbukti mampu menghasilkan laba puluhan triliun rupiah secara konsisten dan bertumbuh cepat. Bahkan bila dibandingkan dari kemampuan memperbesar laba 5 kali lipat, secara realistis BCA justru berpotensi mencapainya lebih cepat dibanding ARTO karena basis bisnisnya sudah besar, jaringan kuat, CASA dominan, dan profit terus naik setiap tahun.

Jadi pertanyaannya sederhana: mengapa bank digital yang masih jauh lebih kecil, labanya lebih rendah, dan risikonya lebih tinggi justru dihargai 64 kali laba, sementara BCA yang jauh lebih mapan hanya dihargai 15 kali laba? Fenomena inilah yang disebut “salah harga”. Pasar seolah sedang memberi diskon besar kepada saham BBCA. Ketika investor mulai menyadari ketimpangan ini, biasanya yang terjadi adalah valuasi BBCA akan naik kembali menuju level yang lebih wajar.

Potensi Capital Gain Besar di Depan Mata

Valuasi murah ini dikombinasikan dengan sinyal akumulasi “orang dalam” hanya bermuara pada satu kesimpulan: saham BBCA sedang memasang kuda-kuda untuk rebound kencang. Mengambil BBCA di harga sekarang ibarat membeli properti premium di lokasi terbaik saat sedang dijual diskon.

Jika BBCA saja kembali dihargai sedikit lebih tinggi, misalnya PER 18–20 kali seperti rata-rata historisnya, maka harga sahamnya berpotensi naik signifikan dari level sekarang. Target menembus Rp10.000 per lembar dalam beberapa bulan menjadi skenario yang sangat realistis. Jangan lupa, rekor All-Time High saham ini pernah nyaris menyentuh Rp11.000 per lembar. Artinya, ruang kenaikan masih terbuka lebar. Risiko relatif kecil karena fundamentalnya sangat kuat, sementara potensi keuntungannya besar karena valuasinya masih terlalu murah.

Kesempatan membeli saham raja perbankan dengan harga “diskon” tidak datang setiap hari. Manajemen sudah memberi sinyal dengan uang miliaran rupiah. Valuasi PER juga menunjukkan bahwa BBCA jauh lebih murah dibanding bank digital seperti ARTO.

Keputusan sekarang ada di tangan investor: membeli ketika pasar masih ragu, atau baru ikut masuk ketika harga BBCA sudah kembali terbang di atas Rp10.000 per lembar.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Faculty of Humanities BINUS University Siapkan Talenta Global di Era AI, Menjawab Kekhawatiran Orang Tua akan Masa Depan Karier Anak

    Faculty of Humanities BINUS University Siapkan Talenta Global di Era AI, Menjawab Kekhawatiran Orang Tua akan Masa Depan Karier Anak

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Jakarta 20 Juni 2026 – Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mengubah lanskap dunia kerja. Sejumlah pekerjaan teknis mulai terdampak otomatisasi, tetapi kebutuhan terhadap human-centric skills atau kemampuan yang berpusat pada manusia justru semakin meningkat karena dinilai tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Laporan Future of Jobs Report 2025 yang dirilis World Economic […]

  • Bisakah Menabung Deposito Bulanan? Ini Cara Simpannya

    Bisakah Menabung Deposito Bulanan? Ini Cara Simpannya

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Punya uang lebih setiap bulan dan ingin menyimpannya supaya tidak gampang terpakai? Deposito bisa menjadi salah satu pilihan. Apalagi sekarang ada pilihan tenor yang cukup fleksibel, termasuk deposito bulanan. Namun, ada sedikit perbedaan antara menabung rutin setiap bulan dan menempatkan uang ke deposito. Yuk, kenali dulu cara kerjanya supaya kamu bisa memilih yang paling sesuai. […]

  • Dorong Ekspansi Pembiayaan, BRI Finance Siapkan Obligasi 2026

    Dorong Ekspansi Pembiayaan, BRI Finance Siapkan Obligasi 2026

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Jakarta, 9 April 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) menyiapkan langkah strategis melalui rencana penerbitan obligasi yang ditargetkan pada kuartal III 2026. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya perseroan dalam memperkuat struktur pendanaan sekaligus mendukung ekspansi pembiayaan yang direncanakan semakin meningkat pada paruh kedua tahun ini. Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan, menyampaikan […]

  • KAI Tetapkan Tarif Rp1 untuk LRT Jabodebek pada H1–H2 Lebaran 2026

    KAI Tetapkan Tarif Rp1 untuk LRT Jabodebek pada H1–H2 Lebaran 2026

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 44
    • 0Komentar

    LRT Jabodebek menetapkan tarif khusus Rp1 pada H1 dan H2 Lebaran 2026, memudahkan masyarakat bersilaturahmi dan berwisata dengan transportasi publik yang aman dan terintegrasi. KAI mengoperasikan 270 perjalanan setiap hari selama periode Lebaran. PT Kereta Api Indonesia (Persero) menetapkan tarif khusus sebesar Rp1 untuk layanan LRT Jabodebek pada H1 dan H2 Lebaran 2026 sesuai ketetapan […]

  • Holding Perkebunan Nusantara Terus Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Masyarakat melalui Seminar RS Sri Pamela Torgamba

    Holding Perkebunan Nusantara Terus Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Masyarakat melalui Seminar RS Sri Pamela Torgamba

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Labuhan Batu Selatan- Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan reproduksi, RS Sri Pamela Torgamba, salah satu entitas Holding Perkebunan Nusantara, menggelar Seminar Kesehatan dengan tema “Deteksi Dini Kanker Serviks” yang berlangsung di Dlab 2. Kegiatan ini dihadiri oleh Ibu Distrik Dlab 2 serta Ibu Desmayanti Arsam selaku Ketua IKBI Grup Labuhan Batu Selatan. […]

  • BRI Finance Bidik Pertumbuhan Pasar EV dengan Pembiayaan Bunga Mulai 3,97%

    BRI Finance Bidik Pertumbuhan Pasar EV dengan Pembiayaan Bunga Mulai 3,97%

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Jakarta, 15 Juli 2026 – Tren kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif. Di tengah meningkatnya pilihan model EV dan dukungan berbagai insentif pemerintah, penjualan kendaraan roda empat nasional juga terus menguat. Data GAIKINDO mencatat penjualan mobil nasional mencapai 436.564 unit pada semester I 2026, meningkat 15,9% dibandingkan periode yang sama tahun […]

expand_less