Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Emas Bergerak Melemah, Level 4.483 Jadi Area Penting

Emas Bergerak Melemah, Level 4.483 Jadi Area Penting

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
  • visibility 11
  • comment 0 komentar

Harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari Selasa (26/5). Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai pergerakan XAU/USD masih menunjukkan kecenderungan melemah setelah harga gagal menembus area resistance penting dalam beberapa hari terakhir.

Dalam analisis teknikal pada timeframe daily, harga emas masih bergerak di bawah area Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Kedua indikator tersebut saat ini menjadi area penahan kenaikan harga atau dynamic resistance yang cukup kuat. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tenaga beli di pasar masih belum cukup besar untuk membalikkan arah tren utama.

Menurut Geraldo Kofit, selama harga emas masih berada di bawah area tersebut, tekanan bearish atau tekanan turun diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan pasar. Artinya, peluang pelemahan harga dalam jangka pendek hingga menengah masih cukup terbuka.

Pergerakan harga emas pada perdagangan sebelumnya juga terlihat cenderung minim volatilitas. Pasar bergerak lebih tenang karena tidak adanya rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang biasanya mampu memicu pergerakan besar pada harga emas maupun dolar AS.

Minimnya sentimen baru membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati. Banyak investor memilih menunggu kepastian arah pasar sebelum kembali mengambil posisi besar. Dalam kondisi seperti ini, tekanan jual perlahan kembali mendominasi perdagangan.

Selain itu, secara teknikal harga emas juga masih memiliki peluang untuk menutup gap yang terbentuk pada awal pekan. Gap merupakan selisih harga yang muncul saat pembukaan pasar dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Dalam banyak kondisi, pasar sering bergerak kembali untuk menutup area gap tersebut sebelum menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Dengan kondisi yang ada saat ini, harga emas diperkirakan masih berpotensi turun menuju area support pertama di level 4.483. Area tersebut menjadi titik penting yang akan diperhatikan pasar untuk melihat apakah harga mampu bertahan atau justru melanjutkan penurunan lebih dalam.

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas juga masih cukup kuat akibat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Investor masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Ekspektasi tersebut membuat dolar AS tetap bergerak kuat. Ketika dolar menguat, harga emas biasanya menjadi lebih mahal bagi investor global sehingga permintaan cenderung menurun. Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas dalam beberapa waktu terakhir.

Selain penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi beban tambahan bagi emas. Banyak investor lebih tertarik pada instrumen berbasis yield karena dianggap mampu memberikan keuntungan lebih stabil dibandingkan emas yang tidak memiliki imbal hasil tetap.

Di sisi lain, pasar juga masih menunggu perkembangan terbaru terkait data inflasi dan tenaga kerja Amerika Serikat. Kedua data tersebut menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve ke depan.

Jika data ekonomi AS masih menunjukkan kondisi yang kuat, maka peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar. Situasi ini dapat kembali memperkuat dolar AS dan memberi tekanan tambahan terhadap emas.

Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai potensi perubahan sentimen sewaktu-waktu. Jika muncul sinyal perlambatan ekonomi atau pernyataan dovish dari The Fed, maka harga emas berpeluang mendapatkan dorongan positif.

Secara keseluruhan, kombinasi antara tekanan teknikal dan faktor fundamental masih membuat harga emas bergerak dalam tren bearish. Selama belum ada sentimen besar yang mampu mengangkat harga kembali di atas area resistance penting, peluang penurunan menuju level support 4.483 masih cukup terbuka.

Karena itu, investor disarankan tetap berhati-hati dan memperhatikan perkembangan pasar global, khususnya terkait arah suku bunga AS, pergerakan dolar, dan sentimen ekonomi dunia yang dapat memengaruhi harga emas dalam waktu dekat.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cuti Bersama Lebaran 2026: Saatnya Menyusun Rencana Liburan

    Cuti Bersama Lebaran 2026: Saatnya Menyusun Rencana Liburan

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Lebaran telah lama identik dengan tradisi perjalanan di Indonesia, di mana keluarga-keluarga bersiap untuk berkumpul kembali dalam salah satu momen libur paling dinantikan sepanjang tahun. Dengan telah diumumkannya jadwal resmi cuti bersama oleh Pemerintah Republik Indonesia, banyak masyarakat mulai menyusun rencana untuk memaksimalkan masa libur di tahun 2026.  Perencanaan Libur Lebaran 2026 Berbeda dengan liburan […]

  • Genap Setahun Beroperasi, KA Gunungjati Angkut 248 Ribu Penumpang dari Daop 1 Jakarta

    Genap Setahun Beroperasi, KA Gunungjati Angkut 248 Ribu Penumpang dari Daop 1 Jakarta

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Vrit Time
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Dalam satu tahun sejak mulai beroperasi pada 1 Februari 2025, Kereta Api (KA) Gunungjati telah melayani 248.486 penumpang yang berangkat dari wilayah PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta. Layanan ini dihadirkan sebagai bagian dari upaya KAI dalam menyediakan transportasi antarkota yang aman dan nyaman bagi masyarakat. Manager Humas PT Kereta Api Indonesia […]

  • Wujudkan Layanan Pangan Aman, SUCOFINDO Gelar Sosialisasi bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

    Wujudkan Layanan Pangan Aman, SUCOFINDO Gelar Sosialisasi bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Jakarta, (13/5) – PT SUCOFINDO (PERSERO) menggelar webinar bertajuk “Sosialisasi Mekanisme Sertifikasi HACCP dan Penerapan Sistem Keamanan Pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)” yang diikuti oleh SPPG di Indonesia. Webinar ini merupakan dukungan terhadap implementasi Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam penguatan sistem keamanan pangan dan peningkatan kualitas layanan pemenuhan gizi masyarakat. Dalam kegiatan […]

  • BINUS Perkuat Dampak Global: Professor BINUS Business School Raih Pengakuan Global sebagai Top 50 Most Influential People in Tacit Knowledge Management 2025

    BINUS Perkuat Dampak Global: Professor BINUS Business School Raih Pengakuan Global sebagai Top 50 Most Influential People in Tacit Knowledge Management 2025

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 51
    • 0Komentar

    BINUS kembali mencatatkan pencapaian luar biasa di tingkat internasional. Prof. Dr. Elidjen, S.Kom., MInfoCommTech., CKM, Professor of Knowledge Management di BINUS Business School, meraih pengakuan global sebagai salah satu dari Top 50 Most Influential People in Tacit Knowledge Management (TKM) 2025. Penghargaan ini diberikan kepada para profesional dan akademisi dunia yang dinilai memiliki kontribusi signifikan dalam […]

  • Hadir untuk Melayani, PAM JAYA Sediakan 15 Unit Bus untuk Dukung Program Mudik Gratis Pemprov DKI Jakarta 2026

    Hadir untuk Melayani, PAM JAYA Sediakan 15 Unit Bus untuk Dukung Program Mudik Gratis Pemprov DKI Jakarta 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 42
    • 0Komentar

    “Dengan adanya program ini, kami berharap para pemudik dapat melakukan perjalanan dengan aman dan selamat sampai tujuan, dan bisa bertemu dengan keluarga. Kami bangga bisa ikut ambil bagian dari program ini,” tutur Esa. Rini Pujiati, peserta mudik dari Jakarta Utara dengan tujuan Sragen Jawa Tengah mengapresiasi dan berterima kasih kepada Pemprov DKI dan PAM JAYA […]

  • Analisa Pasar dari FLOQ: BI Naikkan Suku Bunga, Trump Dukung Kripto, Investor Diminta Waspada Kelola Risiko

    Analisa Pasar dari FLOQ: BI Naikkan Suku Bunga, Trump Dukung Kripto, Investor Diminta Waspada Kelola Risiko

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Jakarta, Indonesia [24 Mei 2026] — Pasar aset digital global memasuki pekan keempat Mei 2026 dengan kombinasi sentimen makroekonomi dan regulasi yang semakin mempengaruhi arah pergerakan pasar kripto. Tekanan inflasi Amerika Serikat, kenaikan suku bunga Bank Indonesia, hingga langkah pro-kripto dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sorotan utama yang diperkirakan akan mempengaruhi perilaku investor global maupun domestik.  Berdasarkan analisa pasar, investor kini menghadapi kondisi pasar yang bergerak di antara tekanan likuiditas global dan meningkatnya legitimasi industri aset digital di tingkat internasional.  Inflasi Amerika Serikat kembali meningkat dengan Consumer Price Index (CPI) tahunan mencapai 3,8% pada April 2026. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (“higher-for-longer”), yang sebelumnya telah memicu arus keluar dana dari aset berisiko termasuk ETF Bitcoin Spot sepanjang awal Mei.  Di tengah tekanan makro tersebut, Presiden Donald Trump pada 19 Mei 2026 menandatangani Executive Order yang mendorong pengurangan hambatan regulasi bagi perusahaan fintech dan aset digital di Amerika Serikat. Kebijakan ini dinilai sebagai salah satu sinyal paling kuat dalam beberapa tahun terakhir terkait integrasi aset digital ke dalam sistem keuangan tradisional.  Langkah tersebut dapat memperkuat legitimasi industri kripto secara global, terutama karena regulator federal AS mulai diarahkan untuk mengeksplorasi integrasi aset digital ke sistem pembayaran tradisional dan infrastruktur keuangan nasional.  Selain itu, pasar juga menyoroti laporan mengenai “Hormuz Safe” dari Iran, sebuah platform asuransi maritim berbasis Bitcoin untuk kapal dan kargo yang melintas di Selat Hormuz. Meskipun tingkat implementasi dan skalanya masih belum terverifikasi secara independen, narasi ini memperkuat pandangan bahwa aset digital mulai digunakan tidak hanya sebagai instrumen investasi, tetapi juga alat pembayaran lintas batas dan mitigasi risiko perdagangan global.  Di Indonesia, […]

expand_less