Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Kemitraan Indonesia–India: Saatnya Mengubah Komitmen Menjadi Hasil Nyata

Kemitraan Indonesia–India: Saatnya Mengubah Komitmen Menjadi Hasil Nyata

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
  • visibility 21
  • comment 0 komentar

Jakarta — Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia menjadi kesempatan penting untuk mengangkat salah satu kemitraan strategis yang paling besar potensinya di Asia, namun hingga kini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai dua negara demokrasi besar, kekuatan maritim, anggota G20, serta suara penting bagi negara-negara Global South, Indonesia dan India sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat untuk membangun hubungan yang jauh lebih erat. Namun, berbagai capaian kerja sama selama ini masih belum sepenuhnya mencerminkan potensi yang dimiliki kedua negara. Karena itu, kunjungan ini dapat menjadi titik balik yang penting—apabila Indonesia dan India mampu melampaui simbolisme diplomatik dan mulai melembagakan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, konektivitas, keamanan maritim, serta hubungan antarmasyarakat secara lebih konkret dan berkelanjutan.

Dari Kemitraan Strategis Menuju Konvergensi Strategis

Hubungan kedua negara memperoleh momentum yang sangat kuat ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada Januari 2025, bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–India. Dalam kunjungan tersebut, kedua negara menandatangani lima kesepakatan yang mencakup kerja sama di bidang kesehatan, pengobatan tradisional, transformasi digital, keamanan maritim, serta pertukaran budaya. Kehadiran Presiden Prabowo sebagai Tamu Kehormatan pada peringatan Hari Republik India semakin menegaskan pentingnya posisi Indonesia dalam strategi Indo-Pasifik India.

Namun demikian, pertanyaan yang lebih besar adalah apakah berbagai capaian tersebut mampu menghasilkan lompatan besar (quantum leap) dalam hubungan bilateral. Jawabannya bergantung pada kemampuan kedua negara mengubah hubungan yang selama ini banyak ditopang oleh kedekatan diplomatik menjadi kemitraan yang berakar pada saling ketergantungan ekonomi, teknologi, dan inovasi.

Secara historis, Indonesia dan India memiliki hubungan peradaban yang sangat kuat serta saling memahami dalam berbagai isu politik internasional. Kerja sama selama masa perjuangan antikolonial, keterlibatan dalam semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung, serta dukungan terhadap terciptanya tatanan dunia yang lebih multipolar telah membangun fondasi yang kokoh bagi hubungan kedua negara. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan tersebut terus berkembang melalui peningkatan kerja sama maritim dan pertahanan, bertambahnya minat terhadap produk pertahanan India, perluasan pertukaran budaya dan pendidikan, dukungan India terhadap konservasi Candi Prambanan, meningkatnya investasi India di Indonesia, penjajakan mekanisme perdagangan menggunakan mata uang lokal, hingga kerja sama antara Indian Coast Guard dan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (BAKAMLA).

Meski demikian, berbagai tantangan masih membatasi perkembangan hubungan bilateral. Nilai perdagangan kedua negara masih jauh di bawah potensi yang sebenarnya, sementara investasi India di Indonesia masih tertinggal dibandingkan investasi dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, maupun Singapura. Karena itu, hubungan Indonesia–India selama ini sering dipandang memiliki arti strategis yang besar, tetapi belum berkembang secara optimal dari sisi ekonomi.

Mengapa Momentum Saat Ini Berbeda?

Terdapat sejumlah perkembangan global yang membuat situasi saat ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan sebelumnya.

Salah satunya adalah semakin kuatnya peran Indonesia dan India sebagai pemimpin negara-negara Global South. Sebagai dua negara berkembang dengan perekonomian besar, keduanya memiliki kepentingan yang sama dalam mendorong reformasi tata kelola global, memperjuangkan pembiayaan iklim yang lebih adil, meningkatkan akses terhadap pendanaan pembangunan, memperkuat ketahanan pangan, serta memperluas akses terhadap teknologi. Ketika globalisasi menghadapi tekanan akibat rivalitas geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan meningkatnya proteksionisme, Indonesia dan India memiliki peluang untuk bersama-sama memperjuangkan tatanan ekonomi global yang lebih inklusif. Berbeda dengan banyak kemitraan Global South lainnya yang sering berhenti pada tataran retorika, Indonesia dan India memiliki skala ekonomi serta pengaruh diplomatik yang cukup besar untuk benar-benar memengaruhi arah berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, maupun ASEAN.

Bidang lain yang memiliki prospek besar adalah ketahanan pangan dan energi. Kedua negara sama-sama menghadapi tantangan berupa inflasi pangan, fluktuasi harga energi, serta dampak perubahan iklim. Indonesia merupakan produsen utama minyak sawit, nikel, batu bara, dan berbagai komoditas strategis lainnya, sementara India merupakan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Investasi bersama di bidang pengolahan pangan, pupuk, energi terbarukan, biofuel, hingga pembangunan cadangan strategis akan memperkuat ketahanan kedua negara terhadap berbagai guncangan global. Justru karena didorong oleh kepentingan jangka panjang, sektor pangan dan energi berpotensi menjadi salah satu pilar kerja sama yang paling kokoh dalam hubungan Indonesia–India di masa depan.

Baik, berikut Bagian 2 dengan gaya yang tetap mengalir seperti artikel asli, tanpa memecah paragraf menjadi banyak bagian pendek.

Keamanan Maritim dan Industri Pertahanan

Dimensi maritim menawarkan salah satu peluang paling strategis dalam hubungan Indonesia dan India. Berada di jalur masuk Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, Indonesia menempati posisi yang sangat penting dalam geopolitik Indo-Pasifik. Di sisi lain, India terus memperluas keterlibatan maritimnya ke arah timur melalui kebijakan Act East Policy dan strategi Indo-Pasifiknya. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kebebasan bernavigasi, meningkatkan kesadaran situasional maritim (maritime domain awareness), memberantas penangkapan ikan ilegal, memerangi pembajakan dan kejahatan lintas negara, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana. Tahap berikutnya dari kerja sama ini seharusnya tidak lagi terbatas pada latihan militer bersama, tetapi berkembang menuju kolaborasi industri pertahanan, pembangunan fasilitas pemeliharaan bersama, produksi bersama, serta alih teknologi. Keinginan Indonesia untuk mendiversifikasi sumber pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) juga membuka peluang baru bagi berbagai platform dan teknologi pertahanan dari India.

Kemitraan Digital yang Berpotensi Mengubah Permainan

Bidang yang mungkin paling menjanjikan dalam hubungan Indonesia–India saat ini adalah kerja sama digital. Peluncuran Indonesia Open Network (ION) yang terinspirasi dari Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India merupakan salah satu contoh nyata transfer pengetahuan mengenai Digital Public Infrastructure (DPI). Keberhasilan India membangun berbagai layanan publik digital, mulai dari sistem identitas hingga infrastruktur pembayaran, telah menarik perhatian banyak negara. Dengan ekonomi digital yang terus berkembang pesat, Indonesia menjadi mitra yang sangat tepat untuk mengadaptasi berbagai inovasi tersebut sesuai kebutuhan nasional. Agenda kerja sama ke depan dapat diperluas mencakup pengembangan Digital Public Infrastructure, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), keamanan siber, teknologi finansial (fintech), digitalisasi UMKM, hingga pengembangan keterampilan digital. Di tengah semakin ketatnya persaingan teknologi global, keberhasilan kemitraan digital Indonesia–India bahkan berpotensi menjadi model kolaborasi bagi negara-negara Global South.

Tantangan yang Masih Harus Diatasi

Meski prospeknya sangat besar, terdapat sejumlah hambatan yang masih membatasi perkembangan hubungan kedua negara.

Tantangan pertama adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat dan dunia usaha mengenai satu sama lain. Banyak pelaku bisnis India yang justru lebih mengenal pasar Eropa, Amerika Utara, atau kawasan Teluk dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih memandang India hanya melalui perspektif sejarah dan budaya, tanpa memahami perkembangan ekonomi, teknologi, dan industrinya saat ini. Oleh karena itu, kedua negara memerlukan lebih banyak lembaga yang mampu menjembatani pertukaran gagasan secara berkelanjutan, seperti think tank, pusat kajian, maupun kemitraan akademik.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan persepsi. Sejumlah pemangku kepentingan di Indonesia masih memandang bahwa sebagian pihak di India terkadang melihat hubungan bilateral melalui perspektif “keunggulan peradaban”, dengan terlalu menonjolkan pengaruh sejarah India terhadap budaya Indonesia. Narasi semacam ini, meskipun tidak selalu disengaja, dapat menimbulkan kesan yang kurang setara. Indonesia modern adalah negara yang berdaulat dengan identitas dan pencapaiannya sendiri. Karena itu, hubungan Indonesia–India di masa depan harus dibangun sebagai kemitraan antara dua negara yang setara, bukan berdasarkan hubungan pewaris dan penerima warisan budaya.

Dari sisi dunia usaha, perusahaan-perusahaan India juga masih menghadapi berbagai kendala dalam memahami dinamika regulasi dan lingkungan bisnis di Indonesia. Dibandingkan perusahaan dari Jepang maupun Tiongkok, jaringan bisnis India di Indonesia dinilai masih relatif terbatas. Berbagai tantangan yang sering disampaikan antara lain proses administrasi yang lambat, dukungan fasilitasi bisnis yang belum optimal, hambatan dalam pengadaan pemerintah, ketentuan tender tertentu yang berkaitan dengan standar OECD, hingga masih terbatasnya informasi pasar yang tersedia. Selain itu, terdapat pula pandangan bahwa kapasitas diplomasi ekonomi dan promosi bisnis India masih memerlukan penguatan agar mampu bersaing dengan negara-negara lain yang telah lebih dahulu aktif di Indonesia.

Mobilitas manusia juga masih menjadi pekerjaan rumah. Interaksi bisnis selama ini masih didominasi oleh jajaran eksekutif senior. Padahal, hubungan jangka panjang akan jauh lebih kuat apabila diikuti oleh semakin banyak perpindahan mahasiswa, peneliti, profesional muda, pendiri startup, serta tenaga kerja terampil antara kedua negara. Interaksi yang lebih luas akan membangun pemahaman yang lebih mendalam sekaligus menciptakan kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan langsung terhadap keberhasilan hubungan Indonesia–India.

Selain itu, hubungan bilateral masih membutuhkan lebih banyak proyek unggulan (flagship projects) yang mampu menunjukkan manfaat nyata bagi masyarakat. Tiongkok dikenal melalui pembangunan infrastrukturnya, Jepang melalui kawasan industri, dan Korea Selatan melalui ekosistem manufakturnya. India juga memerlukan proyek-proyek berskala besar yang mudah dikenali publik, seperti taman teknologi, pusat layanan kesehatan unggulan, laboratorium kecerdasan buatan bersama, kemitraan universitas bergaya Indian Institutes of Technology (IIT), maupun pusat manufaktur farmasi. Tanpa proyek-proyek yang nyata dan mudah terlihat, persepsi publik akan selalu tertinggal dibandingkan kemajuan diplomasi yang sebenarnya telah dicapai.

Dapatkah Kunjungan Modi Menghasilkan Lompatan Besar?

Lompatan besar (quantum leap) dalam hubungan Indonesia–India sangat mungkin terjadi, tetapi tidak akan terwujud secara otomatis. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan kedua negara mengubah hubungan yang selama ini bertumpu pada niat baik diplomatik menjadi kemitraan yang menghasilkan capaian nyata. Setidaknya terdapat tiga prioritas utama yang perlu diwujudkan. Pertama, membangun kemitraan komprehensif di bidang teknologi dan ekonomi digital yang berfokus pada kecerdasan buatan, Digital Public Infrastructure, dan inovasi. Kedua, menghadirkan proyek-proyek unggulan di bidang kesehatan, pendidikan, dan teknologi yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menunjukkan komitmen India terhadap Indonesia. Ketiga, memperdalam kerja sama maritim dan industri pertahanan sehingga hubungan kedua negara menjadi salah satu pilar utama stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Indonesia dan India saat ini memiliki konvergensi kepentingan yang sangat kuat, mulai dari kepemimpinan di Global South, kepentingan menjaga keamanan maritim, kebutuhan memperkuat ketahanan pangan dan energi, hingga ambisi menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi masa depan. Kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 telah menciptakan momentum yang positif. Kini, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi memberikan kesempatan untuk mengubah momentum tersebut menjadi transformasi strategis yang nyata. Keberhasilan hubungan kedua negara pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh banyaknya deklarasi yang dibuat, melainkan oleh kemampuan mengatasi kesenjjangan pengetahuan, hambatan birokrasi, dan berbagai kesalahpahaman, sambil menghadirkan proyek-proyek nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Apabila hal tersebut dapat diwujudkan, kemitraan Indonesia–India berpotensi berkembang menjadi salah satu hubungan bilateral paling penting di kawasan Indo-Pasifik sekaligus menjadi contoh nyata kerja sama praktis antarnegara Global South pada dekade mendatang.

*Gurjit Singh adalah mantan Duta Besar India untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN. Sebagai diplomat karier dan penulis, ia dikenal sebagai salah satu pengamat terkemuka mengenai kawasan Indo-Pasifik, kebijakan luar negeri India, serta kerja sama strategis regional. Ia juga merupakan penulis buku The Mango Flavour: India, ASEAN and the Act East Policy.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dupoin Futures Ungkap Alasan Harga Emas Berpotensi Turun ke Area Support 3.873

    Dupoin Futures Ungkap Alasan Harga Emas Berpotensi Turun ke Area Support 3.873

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Pergerakan harga emas pada perdagangan hari Rabu (15/7) diperkirakan masih berada dalam tekanan setelah berbagai indikator teknikal dan fundamental belum menunjukkan sinyal perubahan tren yang berarti. Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai bahwa kecenderungan pelemahan masih menjadi skenario utama selama harga belum mampu menembus sejumlah level resistance penting. Meski […]

  • 7 Tips Memilih Tukang Jahit Garment Terdekat yang Rapi dan Tepat Waktu

    7 Tips Memilih Tukang Jahit Garment Terdekat yang Rapi dan Tepat Waktu

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Mencari tukang jahit garment terdekat untuk kebutuhan seragam bisnis, kaos komunitas, hingga produksi garmen skala besar membutuhkan ketelitian. Memilih mitra garmen yang tepat memastikan hasil jahitan rapi, presisi, dan selesai sesuai batas waktu. Berikut adalah 7 tips praktis memilih konveksi atau pabrik garmen terdekat yang profesional: 1. Cek Portofolio dan Sampel Jahitan (Sample Making) Vendor […]

  • Sambut Bulan September, BRI Finance Tawarkan Pembiayaan Mobil Baru dengan Bunga Mulai 3,33%

    Sambut Bulan September, BRI Finance Tawarkan Pembiayaan Mobil Baru dengan Bunga Mulai 3,33%

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Jakarta, 1 September 2026 – Memasuki bulan September, sejumlah rencana yang disusun sejak awal tahun mulai kembali menjadi perhatian. Bagi sebagian keluarga, salah satunya adalah rencana mengganti kendaraan atau memiliki mobil baru untuk menunjang kebutuhan mobilitas sehari-hari. Kendaraan masih menjadi bagian penting dalam aktivitas keluarga, mulai dari perjalanan ke tempat kerja dan mengantar anak hingga […]

  • Distribusi Pupuk dan Agrokimia ke Area Terpencil dengan DJI FlyCart 100

    Distribusi Pupuk dan Agrokimia ke Area Terpencil dengan DJI FlyCart 100

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Perkebunan kelapa sawit, karet, dan tanaman keras lain di Indonesia sering kali mencakup area yang tidak terjangkau kendaraan darat secara efisien, terutama di musim hujan ketika jalan tanah menjadi tidak bisa dilewati. DJI FlyCart 100 adalah drone kargo yang membawa beban hingga 85 kilogram untuk mendistribusikan material pertanian ke titik mana pun dalam radius operasional […]

  • Investasi pada Pendidikan Tinggi, BRI Danareksa Sekuritas Konsisten Dukung Generasi Masa Depan melalui Pemberian Beasiswa Berkelanjutan

    Investasi pada Pendidikan Tinggi, BRI Danareksa Sekuritas Konsisten Dukung Generasi Masa Depan melalui Pemberian Beasiswa Berkelanjutan

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 23
    • 0Komentar

    PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyalurkan beasiswa Rp120.050.000 kepada 12 mahasiswa berprestasi dari berbagai perguruan tinggi negeri melalui Yayasan Karya Salemba Empat (KSE) pada tahun ini, menandai kolaborasi keempat yang telah membantu 49 mahasiswa dengan total bantuan Rp476.517.920 sejak dimulai. Program TJSL ini bukan hanya sekadar dukungan finansial, tetapi juga mencakup pengembangan kapasitas melalui pelatihan […]

  • Phapros Hadir Temani Mudik Lebaran: “Sahabat Sehat” di Setiap Perjalanan

    Phapros Hadir Temani Mudik Lebaran: “Sahabat Sehat” di Setiap Perjalanan

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Mudik Lebaran selalu menjadi momen yang paling dinanti masyarakat Indonesia. Jutaan orang berbondong-bondong kembali ke kampung halaman, menempuh perjalanan panjang dengan berbagai moda transportasi—darat, laut, maupun udara. Namun di balik euforia tersebut, perjalanan mudik juga menyimpan tantangan tersendiri, mulai dari kelelahan, mabuk perjalanan, hingga kondisi kesehatan yang menurun akibat durasi perjalanan yang panjang. Melihat kebutuhan […]

expand_less