Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Makna Strategis Kunjungan Modi ke Indonesia bagi Asia

Makna Strategis Kunjungan Modi ke Indonesia bagi Asia

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
  • visibility 35
  • comment 0 komentar

Oleh Rajiv Bhatia*

Jakarta — Setelah melewati perjalanan panjang yang diwarnai kedekatan, periode saling menjauh, hingga hubungan yang sempat berkembang di bawah potensi sebenarnya, India dan Indonesia kini memasuki babak baru dalam kemitraan strategis mereka. Sejak kedua negara meningkatkan hubungan menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada 2018, berbagai upaya terus dilakukan untuk memberikan makna yang lebih besar bagi hubungan bilateral tersebut. Momentum itu semakin menguat setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 yang dinilai sukses membuka babak baru kerjasama kedua negara.

Sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dalam 18 bulan terakhir dan bagaimana hubungan tersebut akan berkembang ke depan akan semakin terlihat ketika Perdana Menteri India Narendra Modi mengunjungi Jakarta pada pekan pertama Juli. Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam lawatan tiga negaranya, bersama Australia dan Selandia Baru.

Kunjungan ini juga berlangsung pada saat penting dalam dinamika kawasan. Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi lebih dahulu melakukan kunjungan ke India. Rangkaian diplomasi tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian India terhadap kawasan Indo-Pasifik. Di tengah munculnya tanda-tanda melemahnya komitmen Amerika Serikat terhadap Indo-Pasifik maupun Quadrilateral Security Dialogue (Quad), dialog Modi dengan para pemimpin empat negara demokrasi utama di kawasan memiliki arti strategis yang jauh melampaui hubungan bilateral semata.

Saat ini, hubungan India dan Indonesia berada pada kondisi yang sangat kondusif. Tidak terdapat sengketa besar ataupun isu yang berpotensi mengganggu hubungan kedua negara. Hubungan personal antara Perdana Menteri Modi dan Presiden Prabowo juga terjalin dengan baik. Prabowo dikenal mengapresiasi berbagai kebijakan pembangunan yang dijalankan Modi di India, sementara Modi melihat Presiden Prabowo memiliki pendekatan yang lebih seimbang dan realistis dalam memandang peran Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik.

Kedekatan tersebut memberikan ruang bagi kedua pemimpin untuk mendorong para pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar mempercepat implementasi berbagai agenda kerja sama yang telah disepakati.

Semangat tersebut tercermin dalam Pertemuan Komisi Bersama (Joint Commission Meeting) India–Indonesia ke-8 yang digelar pada 7 Juni lalu dan dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono. Setelah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap hubungan bilateral, kedua menteri mengidentifikasi berbagai peluang baru untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang, mulai dari politik, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, perdagangan dan investasi, farmasi dan kesehatan, ekonomi digital, energi, konektivitas, antariksa, pendidikan, pelayanan konsuler, kebudayaan, hingga hubungan antar masyarakat.

Dari hasil pertemuan tersebut, besar kemungkinan kunjungan Modi ke Jakarta akan menghasilkan sejumlah nota kesepahaman baru sekaligus peta jalan yang lebih jelas untuk memperdalam hubungan kedua negara dalam beberapa tahun mendatang.

Namun, arti penting kunjungan ini sesungguhnya jauh melampaui penandatanganan berbagai kesepakatan.

India dan Indonesia diperkirakan akan semakin menyelaraskan pandangan mereka terhadap berbagai perkembangan global, terutama setelah perang di Ukraina dan Timur Tengah, serta munculnya kemungkinan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika dinamika tersebut benar-benar berkembang, dampaknya akan sangat besar bagi kawasan Indo-Pasifik, tempat India dan Indonesia sama-sama memainkan peran penting.

Indo-Pasifik merupakan rumah bersama bagi India dan Indonesia, sebagaimana juga bagi Jepang, Australia, Filipina, dan Korea Selatan. Keenam negara tersebut memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan sebagai fondasi bagi kesejahteraan ekonomi masyarakatnya.

Dalam situasi ketika sejumlah forum kerja sama seperti Quad mulai menghadapi tantangan internal akibat berkurangnya perhatian Amerika Serikat, muncul kebutuhan akan wadah konsultasi politik dan diplomatik baru yang lebih inklusif bagi negara-negara demokrasi utama di kawasan. Inilah salah satu dimensi strategis yang layak dicermati selama kunjungan Modi ke Jakarta.

Di bidang pertahanan, terdapat harapan baru bahwa kedua negara akhirnya akan mencapai kesepakatan mengenai rencana pembelian rudal jelajah supersonik BrahMos oleh Indonesia. Menteri Pertahanan India Rajesh Kumar Singh sebelumnya mengungkapkan dalam forum Shangri-La Dialogue bahwa negosiasi mengenai transaksi tersebut telah mendekati tahap final.

Apabila terealisasi, kerja sama tersebut berpotensi menjadi tonggak penting dalam hubungan pertahanan kedua negara dan membuka jalan bagi peningkatan kerja sama industri pertahanan di masa mendatang.

Di bidang ekonomi, target peningkatan perdagangan bilateral dari 30 miliar dolar AS menjadi 50 miliar dolar AS memang belum tercapai sesuai jadwal. Meski demikian, target tersebut tetap menjadi agenda penting karena akan memperkuat keterkaitan ekonomi kedua negara melalui perdagangan dan investasi yang lebih produktif.

Kerja sama dalam pengembangan mineral kritis serta perdagangan digital juga diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama pembahasan kedua pemimpin. Pernyataan bersama yang akan dikeluarkan setelah pertemuan diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai strategi kedua pemerintah dalam mewujudkan target-target tersebut.

Di era diplomasi plurilateral yang semakin berkembang, India dan Indonesia juga dipastikan akan membahas cara memperkuat koordinasi dalam berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, maupun Indian Ocean Rim Association (IORA).

Keanggotaan Indonesia sebagai anggota baru BRICS membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama dengan India sebagai salah satu anggota pendiri organisasi tersebut. Di sisi lain, India juga memerlukan dukungan Indonesia dalam menyukseskan penyelenggaraan KTT BRICS mendatang di New Delhi.

Dalam konteks kawasan, India juga diperkirakan akan menyoroti semakin eratnya hubungan dengan ASEAN, di mana Indonesia selama ini memainkan peran sentral. Kedua pemimpin kemungkinan juga akan bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi di Myanmar.

Perbedaan pendekatan masih terlihat antara ASEAN yang tetap mengedepankan implementasi Konsensus Lima Poin dan kebijakan India yang mulai beradaptasi dengan realitas politik baru di Myanmar, sebagaimana tercermin dari kunjungan resmi pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing ke New Delhi beberapa waktu lalu.

Sementara itu, pengumuman India mengenai Great Nicobar Project pada 1 Mei lalu juga memberikan dimensi baru bagi hubungan kedua negara. Proyek yang bertujuan menjadikan Kepulauan Andaman dan Nicobar sebagai pusat maritim dan ekonomi strategis tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan Indonesia mengingat kedekatan geografis kedua wilayah.

Dalam konteks yang sama, kedua negara juga memiliki kepentingan bersama untuk memperkuat konektivitas kawasan dan mendorong pengembangan Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation (BIMSTEC). Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mewujudkan visi terbentuknya komunitas ekonomi Teluk Benggala yang lebih terintegrasi.

Berbagai isu tersebut sesungguhnya telah menjadi pembahasan dalam dua putaran Dialog Track 1.5 antara Gateway House: Indian Council on Global Relations dari Mumbai dan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia yang diselenggarakan di Mumbai dan Jakarta pada September 2024 dan September 2025.

Rekomendasi yang dihasilkan dari dialog tersebut bahkan mendapat pengakuan resmi dan dicantumkan dalam pernyataan bersama India dan Indonesia pada Januari 2025.

Kini, kedua ibu kota telah memiliki berbagai gagasan kebijakan yang bersifat visioner sekaligus pragmatis. Tantangan berikutnya bukan lagi mencari ide baru, melainkan menerjemahkan berbagai gagasan tersebut menjadi langkah nyata yang mampu mempererat hubungan India dan Indonesia, sekaligus memperkuat keterhubungan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Bagi kedua negara, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Jakarta bukan sekadar agenda diplomatik. Kunjungan ini berpotensi menjadi momentum untuk membentuk konfigurasi baru kerja sama strategis di Indo-Pasifik dan memperkuat peran India maupun Indonesia sebagai dua kekuatan demokrasi yang semakin menentukan arah masa depan Asia.

*Rajiv Bhatia adalah Mantan diplomat India, Distinguished Fellow di Gateway House, serta pernah menjabat sebagai Deputy Chief of Mission di Jakarta dan Duta Besar India untuk Myanmar.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jaga Kenyamanan Bersama, LRT Jabodebek Ingatkan Etika Selama Perjalanan

    Jaga Kenyamanan Bersama, LRT Jabodebek Ingatkan Etika Selama Perjalanan

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Untuk menciptakan perjalanan yang selamat, nyaman, tertib, dan aman, LRT Jabodebek mengajak seluruh pengguna untuk memahami serta mematuhi sejumlah ketentuan yang berlaku selama berada di stasiun maupun di dalam kereta. Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menjelaskan bahwa berbagai ketentuan tersebut diterapkan sebagai bagian untuk menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, dan kenyamanan seluruh pengguna. […]

  • Hilirisasi Nikel Perkuat Transformasi Ekonomi di Sulawesi

    Hilirisasi Nikel Perkuat Transformasi Ekonomi di Sulawesi

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 11
    • 0Komentar

    JAKARTA — Perkembangan industri pengolahan mineral turut membentuk lanskap ekonomi baru di sejumlah wilayah Sulawesi. Ekspansi aktivitas pengolahan nikel memperpanjang rantai nilai mineral di dalam negeri dan membuka ruang bagi berkembangnya aktivitas industri, investasi, tenaga kerja, serta kegiatan ekonomi pendukung di daerah. Di Sulawesi Selatan, misalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian pada triwulan II […]

  • Bitcoin Hadapi Tekanan Baru, Mampukah Kembali ke US Ribu?

    Bitcoin Hadapi Tekanan Baru, Mampukah Kembali ke US$80 Ribu?

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Jakarta, 12 September 2026 – Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di kisaran US$77.000 setelah sempat menembus US$80.000 pada pekan sebelumnya. Koreksi terjadi ketika pasar menghadapi tekanan makro yang meningkat menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 16 September. Di tengah pelemahan tersebut, Bitcoin baru saja membentuk golden cross pada 8 September, ketika rata-rata pergerakan 50 […]

  • Tak Masuk Jawaban AI? Ini Risiko Baru bagi Brand

    Tak Masuk Jawaban AI? Ini Risiko Baru bagi Brand

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Banyak perusahaan merasa telah hadir secara digital. Website aktif, konten rutin diproduksi, media sosial terkelola, dan strategi SEO dijalankan selama bertahun-tahun. Namun, lanskap pencarian informasi kini berubah. Brand bisa saja hadir secara online, tetapi tidak muncul dalam jawaban yang disusun oleh kecerdasan buatan (AI). Perubahan ini bukan sekadar tren teknologi. Data dari Pew Research Center […]

  • Surya Paloh di Manado: Ketua NasDem Sulut Harus Jadi Sahabat Gubernur dalam Suka dan Duka

    Surya Paloh di Manado: Ketua NasDem Sulut Harus Jadi Sahabat Gubernur dalam Suka dan Duka

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle reputasi
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, memberikan pesan politik penting saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) NasDem Sulawesi Utara (Sulut) di Manado pada Selasa, 5 Agustus 2025. Di hadapan para kadernya, Paloh menekankan harapannya agar Ketua NasDem Sulut dapat menjadi sahabat sejati bagi Gubernur Sulawesi Utara, baik dalam suka maupun duka. […]

  • Demi Pulangkan Korban, Prajurit TNI Terobos Medan Ekstrem dan Hadapi Hujan Peluru OPM di Yahukimo

    Demi Pulangkan Korban, Prajurit TNI Terobos Medan Ekstrem dan Hadapi Hujan Peluru OPM di Yahukimo

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Mimika, 29 Juli 2026 – Menembus pegunungan terjal sejauh puluhan kilometer, menghadapi cuaca ekstrem, hingga berhadapan langsung dengan kelompok bersenjata OPM, prajurit TNI dari Satuan Tugas Habema tetap melangkah maju. Bukan untuk mencari pertempuran, melainkan menjalankan misi kemanusiaan dengan membawa pulang warga sipil Orang Asli Papua (OAP) yang menjadi korban pembunuhan di Distrik Seradala, Kabupaten […]

expand_less