Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Momentum Penguatan Industri Baja Nasional di Tengah Gejolak Selat Hormuz

Momentum Penguatan Industri Baja Nasional di Tengah Gejolak Selat Hormuz

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
  • visibility 44
  • comment 0 komentar

Jakarta, 08 April 2026
Gejolak geopolitik di kawasan Teluk, khususnya gangguan di Selat Hormuz, menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan dan daya saing industri baja nasional.

Disrupsi jalur logistik global tidak hanya meningkatkan biaya energi dan distribusi, tetapi juga memicu perubahan arus perdagangan baja dunia.

Perkuat Ketahanan dan Respons Kebijakan 

Merespons kondisi tersebut, PT Krakatau
Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group (KRAS) terus
memperkuat strategi melalui diversifikasi sumber pasokan, peningkatan
efisiensi, serta penguatan rantai pasok yang lebih adaptif.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan,  yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesia
Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik
& Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) menegaskan bahwa momentum ini harus
dimanfaatkan untuk memperkuat fundamental industri.

“Situasi ini
menjadi momentum untuk meningkatkan ketahanan industri baja nasional melalui
efisiensi, keandalan pasokan, dan daya saing yang berkelanjutan agar arah Asta Cita Bapak Presiden Prabowo tetap
terjaga,” ujar Dr. Akbar Djohan.

Krakatau Steel juga mendorong dukungan kebijakan yang responsif,
penguatan pengawasan perdagangan guna menjaga keseimbangan antara kelancaran
pasokan dan perlindungan pasar domestik.

Tekanan Ganda Industri Nasional

Pengamat Industri Baja dan Pertambangan dari Steel & Mining
Insights, Widodo Setiadharmaji, menyebut gangguan tersebut telah berkembang
dari hambatan logistik menjadi disrupsi sistemik yang memengaruhi distribusi
bahan baku dan produk baja secara global.

Menurutnya, industri
baja nasional kini menghadapi tekanan simultan. Di satu sisi, pasokan bahan
baku semi-finished seperti slab dan billet berisiko terganggu akibat hambatan
distribusi dari kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pergeseran arus perdagangan global berpotensi meningkatkan
masuknya produk baja impor ke pasar domestik dengan harga kompetitif, sehingga
menekan harga dan pangsa pasar produsen dalam negeri.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Melanie Subono Sindir Keras YouTuber Minta Jemput Helikopter untuk Donasi

    Melanie Subono Sindir Keras YouTuber Minta Jemput Helikopter untuk Donasi

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle reputasi
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Penyanyi dan aktivis kemanusiaan, Melanie Subono, kembali melontarkan kritik pedas yang diduga ditujukan kepada seorang YouTuber. Dalam sebuah pernyataan, Melanie mengungkapkan kekesalannya terhadap permintaan seorang kreator konten yang dianggapnya tidak masuk akal saat hendak memberikan donasi. Menurut Melanie, YouTuber tersebut meminta untuk dijemput menggunakan helikopter demi menyerahkan bantuan. Sontak, permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Melanie. […]

  • Bitcoin Sentuh Level Tertinggi 5 Minggu, FLOQ Lihat Momentum Positif Masih Terbuka

    Bitcoin Sentuh Level Tertinggi 5 Minggu, FLOQ Lihat Momentum Positif Masih Terbuka

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Jakarta, 26 Juli 2026 — Harga Bitcoin bergerak fluktuatif setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lima minggu di kisaran US$66.400–US$66.500 pada 21 Juli 2026. Namun, penguatan tersebut tertahan setelah BTC terkoreksi ke area US$65.600–US$65.700 pada 22 Juli 2026.  Koreksi terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia, dengan WTI menembus US$85 per barel dan Brent mendekati US$90 per barel. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadaptekanan inflasi global dan arah kebijakan suku bunga The Fed.  CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi Bitcoin tidak serta-merta menghapus peluang penguatan, tetapi pasar membutuhkan konfirmasi yang lebih kuat dari faktor makro dan arus dana institusional.  “Koreksi setelah Bitcoin menyentuh level tertinggi lima minggu adalah hal yang wajar, terutama ketika pasar menghadapi tekanan dari harga minyak dan geopolitik. Peluang penguatan tetap terbuka, tetapi pasar membutuhkan dukungan yang lebih solid, baik dari stabilisasi makro, meredanya risiko energi, maupun keberlanjutan inflow institusional,” ujar Yudho.  Menurut Yudho, harga minyak kini menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam membaca arah Bitcoin jangka pendek. Selama tekanan energi dan eskalasigeopolitik masih berlangsung, volatilitas pasar kripto berpotensi tetap tinggi.  “Dalam kondisi saat ini, harga minyak menjadi variabel yang sangat penting untuk diperhatikan. Jika kenaikan harga energi berlanjut dan kembali mendorong kekhawatiran inflasi, ekspektasiterhadap arah suku bunga The Fed juga bisa berubah. Dampaknya dapat langsung terasa pada aset berisiko seperti Bitcoin,” jelasnya.  Menurut data riset Market Outlook FLOQ, level US$66.500 menjadi resistance jangka pendek Bitcoin setelah dua kali gagal ditembus sepanjang bulan ini. Sementara itu, area US$64.000 menjadisupport penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar.  Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Fokus  Data FLOQ mencatat eskalasi konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak. Selama tekanan geopolitik dan risiko pasokan energi belum mereda, hargaminyak diperkirakan tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.  “Dalam kondisi saat ini, harga minyak menjadi indikator penting untuk membaca arah Bitcoin. […]

  • Pusat Industri RI Bergeser, Subang Jadi Arah Baru Pertumbuhan

    Pusat Industri RI Bergeser, Subang Jadi Arah Baru Pertumbuhan

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Secara nasional, kawasan industri di Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh. Kementerian Perindustrian mencatat tingkat okupansi kawasan industri hingga awal tahun ini berada pada level 58,19 persen. Namun, pertumbuhan yang terkonsentrasi di wilayah tertentu seperti Bekasi dan Karawang membuat kawasan tersebut semakin padat, sehingga mendorong pelaku industri untuk mulai mencari lokasi baru di luar koridor […]

  • Tips Mengelola Tagihan Bulanan Agar Tidak Terlambat

    Tips Mengelola Tagihan Bulanan Agar Tidak Terlambat

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Mengelola tagihan bulanan dengan baik dapat membantu menghindari denda keterlambatan, menjaga arus kas tetap sehat, dan membuat keuangan lebih terencana. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mencatat jadwal jatuh tempo, rutin cek tagihan listrik bulanan, serta memanfaatkan layanan pembayaran digital agar proses pembayaran menjadi lebih praktis. Saat ini, berbagai kebutuhan seperti listrik, air, […]

  • Motor Premium Kian Terjangkau, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Kompetitif untuk Touring

    Motor Premium Kian Terjangkau, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Kompetitif untuk Touring

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Jakarta, 7 Mei 2026 – Tren touring motor di Indonesia terus menunjukkan peningkatan, seiring berkembangnya gaya hidup berkendara jarak jauh yang mengedepankan pengalaman, eksplorasi, dan konektivitas. Aktivitas ini kini tidak hanya menjadi bagian dari komunitas otomotif, tetapi juga semakin diminati oleh masyarakat urban dan profesional muda. Secara industri, pasar sepeda motor nasional tetap menunjukkan daya […]

  • BRI Finance Pertahankan Kualitas Pembiayaan, NPF Tetap Terjaga di Level 2,23%

    BRI Finance Pertahankan Kualitas Pembiayaan, NPF Tetap Terjaga di Level 2,23%

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Jakarta, 11 April 2026 – Di tengah dinamika industri pembiayaan yang menunjukkan peningkatan risiko kredit dalam beberapa waktu terakhir, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) tetap mampu menjaga kualitas portofolio pembiayaannya secara solid. Hingga Februari 2026, rasio non-performing financing (NPF) Perseroan tercatat sebesar 2,23%, berada pada level yang sehat dan di bawah ambang batas yang […]

expand_less