Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Tancap Gas di Awal 2026, BRI Finance Catatkan Penyaluran Pembiayaan Melonjak 131,53%

Tancap Gas di Awal 2026, BRI Finance Catatkan Penyaluran Pembiayaan Melonjak 131,53%

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
  • visibility 50
  • comment 0 komentar

Jakarta, 14 April 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”), anak usaha BRI Group yang bergerak di bidang pembiayaan, mencatatkan kinerja positif pada kuartal I-2026 dengan pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang signifikan, seiring mulai terbentuknya stabilitas permintaan di pasar pembiayaan nasional.

Hingga Maret 2026, BRI Finance membukukan pertumbuhan penyaluran pembiayaan sebesar 131,53% secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian ini mencerminkan mulai terbentuknya momentum pemulihan di sektor pembiayaan, di tengah kondisi ekonomi yang masih bergerak dinamis.

Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan, menyampaikan, “Pertumbuhan ini menjadi indikasi awal membaiknya aktivitas pembiayaan yang didorong oleh permintaan yang mulai stabil. Namun demikian, kami tetap mencermati keberlanjutan tren ini dengan mempertimbangkan berbagai faktor eksternal, termasuk daya beli masyarakat dan dinamika ekonomi yang masih berkembang.”

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penguatan kolaborasi dengan mitra bisnis serta optimalisasi kanal distribusi menjadi faktor penting dalam mendukung peningkatan kinerja pada awal tahun ini.

Ke depan, BRI Finance menargetkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang berkelanjutan sepanjang 2026. Fokus perusahaan diarahkan pada peningkatan produktivitas, penguatan kualitas portofolio, serta percepatan proses bisnis guna meningkatkan daya saing. Selain itu, BRI Finance juga tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan menjaga keseimbangan antara ekspansi usaha dan pengelolaan risiko, khususnya di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.

Sebagai gambaran industri, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa piutang pembiayaan multifinance nasional mencapai Rp512,14 triliun per Februari 2026, atau tumbuh 1,01% secara tahunan (YoY). Angka ini meningkat dibandingkan Januari 2026 yang tercatat sebesar Rp508,27 triliun dengan pertumbuhan 0,78% YoY, mengindikasikan adanya perbaikan secara bertahap di industri.

Menggarisbawahi hal ini, Wahyudi menegaskan komitmen perusahaan untuk menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan kualitas pembiayaan.

“BRI Finance akan terus mendorong pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui penguatan kualitas aset, perluasan kemitraan strategis, serta peningkatan kapabilitas operasional, sehingga kami dapat memberikan nilai tambah yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutupnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bingung Pilih Ekspedisi? Ini 5 Pengiriman Luar Negeri Terbaik dan Rute Unggulannya

    Bingung Pilih Ekspedisi? Ini 5 Pengiriman Luar Negeri Terbaik dan Rute Unggulannya

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Ingin mengetahui ekspedisi mana yang paling cocok dengan negara tujuan Anda? Bandingkan rute, harga, dan estimasi waktu melalui panduan berikut untuk hasil yan paling optimal. 1. DHL: Pilihan Terkuat untuk Eropa dan Pelosok Dunia DHL dikenal sebagai ekspedisi dengan jaringan global terbesar, sehingga pengiriman ke Eropa hingga negara-negara terpencil menjadi jauh lebih mudah. Selain itu, […]

  • Mentan Soroti Harga Minyak Goreng, Holding Perkebunan Nusantara Jaga Pasokan dan Harga MinyaKita Selama Ramadhan

    Mentan Soroti Harga Minyak Goreng, Holding Perkebunan Nusantara Jaga Pasokan dan Harga MinyaKita Selama Ramadhan

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Jakarta – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idulfitri, pemenuhan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau menjadi prioritas utama. Merespons tingginya harga minyak goreng rakyat di pasaran yang sempat menembus angka Rp19.000 per liter, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo terus mengawal ketersediaan pasokan dan harga jual di […]

  • Drone Delivery Indonesia: Regulasi, Peluang, dan Tantangan

    Drone Delivery Indonesia: Regulasi, Peluang, dan Tantangan

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Adopsi Drone Delivery Indonesia ditentukan oleh dua hal, status legal operasi dan kelayakan ekonomi per lokasi. Teknologi angkut kargo lewat udara sudah matang. Hambatan sebenarnya ada di regulasi yang masih berkembang dan eksekusi di medan tropis. Artikel ini memetakan di mana operasi sudah bisa dijalankan, di mana ekonominya masuk, dan apa yang masih menahan skala. […]

  • Industri Konstruksi Terus Tumbuh, Efisiensi Sistem Bangunan Kian Jadi Prioritas

    Industri Konstruksi Terus Tumbuh, Efisiensi Sistem Bangunan Kian Jadi Prioritas

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Efisiensi ruang dan efektivitas operasional kini mulai menjadi perhatian baru dalam industri konstruksi modern di Indonesia. Pengembang dan kontraktor tidak lagi hanya mempertimbangkan material bangunan, tetapi juga bagaimana setiap sistem di dalam bangunan dapat mendukung aktivitas secara lebih optimal dalam jangka panjang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor konstruksi menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap […]

  • Krakatau Steel Raih Validasi Pasar Melalui Best Stock Awards 2026

    Krakatau Steel Raih Validasi Pasar Melalui Best Stock Awards 2026

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Vrit Time
    • visibility 76
    • 0Komentar

    PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS)/Krakatau Steel Group kembali mempertegas posisinya sebagai pemimpin industri baja nasional dengan meraih penghargaan strategis Best Stock Awards 2026 kategori Medium Cap Sektor Barang Baku. Penilaian atas penghargaan tersebut dilakukan oleh lembaga riset Infovesta dengan berdasarkan berbagai indikator di antaranya valuasi, likuiditas, volatilitas dan kinerja keuangan perseroan. Penghargaan yang diselenggarakan […]

  • Bitcoin Tembus US.000, Pasar Diuji Transisi The Fed dan Perpecahan FOMC

    Bitcoin Tembus US$80.000, Pasar Diuji Transisi The Fed dan Perpecahan FOMC

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 29
    • 0Komentar

    [Jakarta, 5 Mei 2026] – Pasar global memasuki fase transisi yang krusial. Dalam satu minggu terakhir, investor dihadapkan pada tiga perkembangan utama: pertemuan terakhir Federal Reserve di bawah kepemimpinan Jerome Powell, meningkatnya perpecahan internal dalam Federal Open Market Committee (FOMC), serta volatilitas tajam di pasar kripto pasca pengumuman kebijakan moneter.  Kombinasi ini menunjukkan bahwa pasar tidak sekadar bereaksi terhadap peristiwa jangka pendek, tetapi sedang menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan global, likuiditas, dan risk appetite ke depan.  The Fed Memasuki Era Transisi, Ketidakpastian Masih Mendominasi  Pada 29 April, Jerome Powell memimpin pertemuan FOMC terakhirnya sebagai Ketua The Fed. Suku bunga dipertahankan di kisaran 3,50%–3,75% untuk ketiga kalinya berturut-turut, menegaskan pendekatan data-dependent di tengah tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.  Di saat yang sama, Komite Perbankan Senat AS meloloskan nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya dengan selisih tipis. Jika disahkan dalam voting penuh Senat dalam waktu dekat, Warsh akan resmi menggantikan Powell pada pertengahan Mei, menandai salah satu transisi kepemimpinan paling penting bagi pasar keuangan global tahun ini.  Namun, sinyal yang lebih dalam justru datang dari dinamika internal FOMC. Empat anggota menyampaikan dissent dalam satu keputusan, fenomena yang jarang terjadi dan mencerminkan perbedaan pandangan yang semakin tajam terkait arah kebijakan moneter ke depan.  Situasi ini memperkuat narasi higher-for-longer. Selama tekanan inflasi, terutama dari sektor energi dan ketegangan geopolitik global, belum mereda, ruang bagi The Fed untuk beralih ke kebijakan yang lebih akomodatif masih terbatas.  Bitcoin dan Pola Sell-the-News: Volatilitas Tanpa Perubahan Struktur  Di pasar kripto, Bitcoin saat ini bergerak di kisaran US$80.000–US$81.000*, mencerminkan fase konsolidasi setelah reaksi cepat pasca-FOMC. Berdasarkan analisis internal , harga Bitcoin sempat turun sekitar US$1.300 hanya dalam waktu 10 menit setelah pengumuman kebijakan, melanjutkan pola sell-the-news yang telah terjadi dalam 8 dari 9 pertemuan The Fed terakhir.  Fenomena ini menegaskan bahwa volatilitas pasca-FOMC merupakan respons jangka pendek terhadap likuiditas dan positioning pasar, bukan refleksi perubahan fundamental. Secara historis, periode 24–48 jam setelah pengumuman kebijakan sering kali dipenuhi fluktuasi tajam sebelum pasar kembali mengikuti arah tren yang lebih besar.  Di tengah tekanan jangka pendek tersebut, fondasi struktural pasar kripto tetap menunjukkan ketahanan. Arus dana institusional, khususnya melalui produk spot Bitcoin ETF, masih mencerminkan akumulasi yang konsisten. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar besar tetap berfokus pada narasi adopsi jangka panjang, bukan volatilitas berbasis peristiwa.  Dari sisi teknikal, […]

expand_less