Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Dari Toko Sparepart ke Precision Parts Sourcing: Transformasi Bisnis Otomotif di Era Digital

Dari Toko Sparepart ke Precision Parts Sourcing: Transformasi Bisnis Otomotif di Era Digital

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
  • visibility 24
  • comment 0 komentar

Bravo Motor, bisnis sparepart otomotif asal Kedungdoro, Surabaya, yang didirikan pada tahun 1996 oleh Hengky Purnomo dan kini diteruskan oleh Kenny Purnomo, menyoroti perubahan besar dalam industri sparepart otomotif di era digital.

Semakin banyak pemilik kendaraan kini membeli sparepart sendiri melalui marketplace, WhatsApp, dan platform online karena ingin membandingkan harga atau menghindari markup bengkel. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul masalah baru berupa miskomunikasi antara bahasa bengkel, nama resmi sparepart, dan pemahaman konsumen.

Menurut Kenny Purnomo, banyak pelanggan datang hanya dengan informasi minim seperti foto buram, istilah umum bengkel, atau tanpa data kendaraan lengkap, tetapi tetap berharap sparepart langsung cocok dan dapat dipasang tanpa kendala. Di sisi lain, satu gejala kerusakan kendaraan juga dapat memiliki banyak kemungkinan penyebab, sehingga sparepart sering menjadi pihak pertama yang disalahkan ketika perbaikan tidak menyelesaikan masalah.

Artikel ini juga membahas bagaimana banyak konsumen masih belum memahami perbedaan antara genuine part, OEM, aftermarket, dan produk imitasi, sehingga sering memiliki ekspektasi kualitas yang tidak sesuai dengan harga produk yang dibeli.

Untuk mengurangi kesalahan identifikasi dan konflik setelah transaksi, Bravo Motor menerapkan SOP identifikasi dan retur yang ketat, termasuk meminta dokumentasi part lama, nomor rangka kendaraan, serta detail pemasangan sebelum memproses komplain atau retur barang. Menurut perusahaan, sistem tersebut berhasil menekan kesalahan identifikasi hingga mendekati nol apabila seluruh prosedur diikuti dengan benar.

Saat ini Bravo Motor melayani penjualan melalui toko offline, marketplace, WhatsApp, hingga kebutuhan bengkel dan pelanggan luar kota, dengan lebih dari 6.700 chat pelanggan tercatat hanya dalam 12 hari aktif pada Mei 2026.

Melalui pendekatan “precision and reliable parts sourcing”, Bravo Motor menilai masa depan industri sparepart tidak lagi hanya bergantung pada stok barang, tetapi pada kemampuan mengidentifikasi kebutuhan kendaraan secara akurat, membangun komunikasi teknis yang baik, dan menjaga kepercayaan pelanggan di era otomotif digital.

SURABAYA — Di sebuah kawasan perdagangan otomotif di Kedungdoro, Surabaya, aktivitas toko sparepart tidak lagi sesederhana “jual barang lalu selesai.” Telepon masuk, chat WhatsApp, foto part buram, screenshot percakapan bengkel, hingga voice note customer kini menjadi bagian dari ritme harian bisnis sparepart modern.

Perubahan perilaku konsumen otomotif dalam beberapa tahun terakhir memaksa banyak pelaku industri beradaptasi. Pemilik mobil kini semakin sering membeli sparepart sendiri tanpa melalui bengkel. Alasannya beragam: ingin membandingkan harga, lebih percaya membeli langsung, hingga kekhawatiran adanya markup dari proses pengadaan bengkel.

Namun di balik tren tersebut, muncul persoalan baru yang jarang dibahas secara terbuka: miskomunikasi antara bahasa bengkel, bahasa katalog sparepart, dan pemahaman konsumen.

Fenomena inilah yang banyak ditemui Bravo Motor, bisnis sparepart otomotif asal Surabaya yang berdiri sejak 1996 dan kini diteruskan generasi kedua oleh Kenny Purnomo.

Menurut Kenny, perubahan industri sparepart saat ini bukan lagi sekadar soal stok barang atau harga murah.

“Sekarang tantangan terbesar justru ada di identifikasi part. Orang bisa beli sparepart sendiri dengan sangat mudah, tapi belum tentu tahu barang yang sebenarnya dibutuhkan,” ujarnya.

Bahasa Bengkel Tidak Selalu Sama dengan Nama Resmi Part

Dalam praktik sehari-hari, banyak konsumen datang hanya dengan istilah umum seperti “support,” “laher,” “sensor atas,” atau “karet kaki-kaki.” Padahal dalam dunia sparepart, satu istilah dapat merujuk pada beberapa komponen berbeda.

Belum lagi perbedaan generasi kendaraan, facelift, tipe mesin, hingga kode produksi yang membuat satu model mobil tampak sama tetapi menggunakan part berbeda.

Menurut Kenny, kondisi ini semakin kompleks karena sebagian besar pembeli sebenarnya bukan mekanik atau orang teknis.

“Ada yang disuruh beli oleh bengkel, ada yang diminta bos kantor, ada yang bantu keluarga. Kadang mereka cuma bawa foto buram atau nama part yang sebenarnya bukan nama resmi,” katanya.

Marketplace dan media sosial ikut mempercepat perubahan pola pembelian tersebut. Konsumen kini terbiasa mencari sparepart secara instan hanya bermodal nama kendaraan atau gejala kerusakan.

Padahal, menurut pelaku industri, gejala kerusakan kendaraan tidak selalu mengarah pada satu komponen tertentu.

Misalnya, bunyi pada kaki-kaki mobil bisa berasal dari berbagai sumber: rack steer, tie rod end, rack end, shock breaker, hingga support shock. Sementara pada beberapa model tertentu, pola kerusakan juga mulai terlihat berulang.

Untuk Honda Brio dan Mobilio misalnya, sensor oksigen menjadi salah satu part yang cukup sering dicari. Sedangkan pada HR-V, masalah yang kerap muncul berada pada laher roda belakang dan rack steer.

Namun menurut Kenny, tantangan sebenarnya bukan hanya pada kerusakan kendaraan, melainkan ekspektasi konsumen yang menganggap semua sparepart dapat dipastikan cocok hanya dari model mobil.

“Satu model mobil bisa punya beberapa versi part berbeda. Kadang tahun produksi beda sedikit saja sudah beda barang,” ujarnya.

Ketika Sparepart Menjadi “Tersangka Pertama”

Dalam industri otomotif, proses diagnosis kendaraan sering kali menjadi area abu-abu yang tidak sederhana.

Satu gejala kerusakan dapat memiliki banyak kemungkinan penyebab. Akibatnya, ketika penggantian part tidak menyelesaikan masalah, sparepart sering menjadi pihak pertama yang disalahkan.

Menurut Kenny, tidak sedikit kasus di mana masalah sebenarnya berasal dari diagnosis awal kendaraan yang kurang tepat.

“Kalau masalah belum selesai setelah part diganti, biasanya barang langsung dianggap tidak cocok atau tidak berfungsi. Padahal belum tentu sumber masalahnya di situ,” katanya.

Ia menilai fenomena ini semakin sering terjadi sejak konsumen mulai aktif membeli sparepart sendiri.

Di satu sisi, konsumen merasa lebih aman membeli langsung karena bisa membandingkan harga pasar. Namun di sisi lain, sebagian bengkel juga lebih nyaman apabila proses pengadaan sparepart dilakukan melalui mereka sendiri agar pengerjaan lebih mudah dikontrol.

Perbedaan kepentingan tersebut kadang memunculkan konflik baru di lapangan.

Menurut Kenny, tidak sedikit toko sparepart menerima komplain bahwa barang dianggap tidak original, tidak presisi, atau kualitasnya buruk, meski belum ada proses pengecekan teknis yang benar-benar mendalam.

“Kadang ada perbedaan persepsi antara ekspektasi customer, hasil diagnosis bengkel, dan karakter produk yang dibeli,” ujarnya.

Genuine, OEM, dan Aftermarket: Konsumen Sering Salah Ekspektasi

Persoalan lain yang menurut Kenny masih sering terjadi adalah minimnya pemahaman mengenai kategori sparepart.

Banyak konsumen belum memahami perbedaan antara genuine part, OEM, aftermarket, hingga produk imitasi. Padahal masing-masing memiliki karakteristik, tingkat presisi, dan harga berbeda.

Menurutnya, genuine part umumnya memiliki tingkat presisi tertinggi karena dibuat mengikuti standar pabrikan kendaraan. Namun konsekuensinya, harga genuine juga lebih mahal.

Sementara itu, produk aftermarket memiliki pasar tersendiri karena menawarkan alternatif yang lebih ekonomis.

Masalah muncul ketika konsumen menginginkan harga murah tetapi tetap berharap kualitas identik dengan genuine bawaan pabrik.

“Kalau beli aftermarket atau imitasi, tentu ada risiko toleransi tertentu. Tidak semua bisa 100 persen sama seperti genuine,” kata Kenny.

Ia menilai edukasi mengenai jenis sparepart dan ekspektasi kualitas masih menjadi pekerjaan besar dalam industri otomotif Indonesia.

SOP Ketat Jadi Kunci

Berbeda dengan banyak toko sparepart tradisional yang masih mengandalkan pendekatan informal, Bravo Motor mulai membangun sistem identifikasi dan verifikasi yang lebih ketat.

Menurut Kenny, langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan kesalahan identifikasi sekaligus mengurangi konflik setelah transaksi.

Dalam beberapa kasus, Bravo Motor meminta dokumentasi part lama, nomor rangka kendaraan, hingga detail pemasangan sebelum memproses komplain atau retur.

Pendekatan ini memang membuat proses transaksi terlihat lebih panjang dibanding pembelian biasa di marketplace. Namun menurut Kenny, industri sparepart memang tidak bisa diperlakukan seperti penjualan produk umum.

“Kesalahan kecil dalam identifikasi part bisa bikin bongkar pasang ulang, buang waktu, bahkan biaya jadi lebih besar,” ujarnya.

Menariknya, Kenny mengklaim sistem SOP ketat tersebut berhasil menekan kesalahan identifikasi hingga mendekati nol.

“Kalau semua data lengkap dan prosesnya diikuti benar, sebenarnya kemungkinan salah identifikasi bisa sangat kecil,” katanya.

Saat ini Bravo Motor menangani penjualan melalui berbagai jalur, mulai dari toko offline, marketplace, WhatsApp, hingga webstore.

Dalam 12 hari aktif selama Mei 2026 saja, sistem internal mereka mencatat lebih dari 6.700 chat pelanggan dengan rata-rata lebih dari 560 percakapan per hari.

Angka tersebut menurut Kenny menunjukkan bahwa bisnis sparepart modern semakin bergeser menjadi bisnis berbasis komunikasi dan presisi data.

Dari Toko Sparepart Menjadi Precision Parts Sourcing

Didirikan oleh Hengky Purnomo pada 1996, Bravo Motor awalnya beroperasi sebagai toko sparepart konvensional di Surabaya dengan fokus utama kendaraan Honda.

Namun seiring perkembangan industri otomotif dan perubahan perilaku konsumen, bisnis tersebut mulai berkembang menjadi layanan precision and reliable parts sourcing untuk berbagai merek kendaraan.

Menurut Kenny, masa depan industri sparepart tidak lagi hanya bergantung pada stok barang.

“Ke depan, yang paling penting bukan cuma punya barang. Tapi kemampuan menerjemahkan kebutuhan kendaraan menjadi identifikasi part yang akurat,” katanya.

Ia menilai toko sparepart modern kini berperan sebagai penghubung antara bahasa bengkel, data kendaraan, kebutuhan konsumen, dan informasi teknis produk.

Di tengah semakin terbukanya akses pembelian sparepart secara online, Kenny justru melihat edukasi dan konsultasi akan menjadi nilai paling penting dalam industri ini.

“Semakin mudah orang membeli sparepart sendiri, semakin penting juga komunikasi yang benar supaya tidak salah beli,” ujarnya.

Bagi Bravo Motor, transformasi bisnis sparepart bukan lagi sekadar menjual komponen kendaraan. Di era digital, akurasi informasi dan kemampuan membaca kebutuhan teknis pelanggan justru menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan jangka panjang.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • JTT Pastikan Kesiapan Layanan Operasional Hadapi Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih 2026

    JTT Pastikan Kesiapan Layanan Operasional Hadapi Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih 2026

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Bekasi (13/05) – PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) memastikan kesiapan layanan operasional di seluruh ruas jalan tol yang dikelola dalam rangka menghadapi periode libur panjang Kenaikan Isa Almasih Tahun 2026. Berbagai langkah antisipasi telah disiapkan guna memastikan perjalanan pengguna jalan tetap aman, nyaman, dan lancar selama periode peningkatan mobilitas masyarakat. Vice President Corporate Secretary & […]

  • Berhasil Jangkau 40.000 Peserta Skrining Demensia Gratis,  Prodia Tambah Target 20.000 Peserta di 2026

    Berhasil Jangkau 40.000 Peserta Skrining Demensia Gratis, Prodia Tambah Target 20.000 Peserta di 2026

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Jakarta, 9 Februari 2026 – PT Prodia Widyahusada Tbk (Kode Saham: PRDA) kembali menyelenggarakan Program Skrining Demensia Gratis pada tahun 2026, sebagai respons atas tingginya partisipasi dan antusiasme masyarakat pada pelaksanaan program ini di tahun 2024–2025 yang berhasil menjangkau 40.000 peserta di seluruh Indonesia. Program ini ditujukan bagi masyarakat usia lanjut dan menargetkan 20.000 peserta […]

  • Digitalisasi SDM Sawit Holding Perkebunan Nusantara, PTPN IV PalmCo Raih Pengakuan Nasional

    Digitalisasi SDM Sawit Holding Perkebunan Nusantara, PTPN IV PalmCo Raih Pengakuan Nasional

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Vrit Time
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Upaya PTPN IV PalmCo melakukan transformasi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) berbasis digital memperoleh pengakuan di tingkat nasional. Dalam ajang Indonesia Human Capital Brilliance Awards 2025 (IHCBA 2025), subholding dari Holding Perkebunan Nusantara ini meraih predikat Platinum sebagai National Champion untuk kategori The Most Brilliant Human Capital Sustainability Strategy of The Year 2025. Penghargaan tersebut […]

  • BRI BO Otista dan BRIMedika Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis dalam Program CX 100 untuk Nasabah Pensiunan

    BRI BO Otista dan BRIMedika Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis dalam Program CX 100 untuk Nasabah Pensiunan

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Dalam rangka memberikan apresiasi dan meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah pensiunan, BRI Branch Office (BO) Otista berkolaborasi dengan BRImedika mengadakan kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis dalam program CX 100 (Apresiasi Nasabah Pensiunan BRI). Kegiatan ini diikuti oleh 100 nasabah pensiunan pilihan dan berlangsung dengan penuh antusias di lingkungan BRI BO Otista. Melalui kolaborasi ini, para nasabah […]

  • Mengusung Sustainable dan Smart Living, NARALOKA 2026 Hadirkan Karya Terbaik Mahasiswa BINUS @Malang

    Mengusung Sustainable dan Smart Living, NARALOKA 2026 Hadirkan Karya Terbaik Mahasiswa BINUS @Malang

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Malang, July 2026 — BINUS @Malang kembali menghadirkan karya terbaik mahasiswanya melalui NARALOKA – Interior Design Final Project Exhibition, sebuah pameran tugas akhir mahasiswa Program Studi Interior Design yang diselenggarakan di Lobby & Art Gallery BINUS @Malang. Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi sekaligus interaksi antara dunia akademik, industri, asosiasi profesi, serta masyarakat umum. Sebagai bagian […]

  • Harga Emas Masih Berpotensi Menguat, Tren Naik XAU/USD Bertahan di Atas .000

    Harga Emas Masih Berpotensi Menguat, Tren Naik XAU/USD Bertahan di Atas $5.000

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Pergerakan harga emas global pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan berlangsung dinamis dengan kecenderungan positif, meskipun tekanan jangka pendek belum sepenuhnya mereda. Logam mulia emas (XAU/USD) tercatat mengalami pembalikan arah ke zona negatif pada sesi perdagangan Selasa, seiring reaksi pasar terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat yang hasilnya berada di bawah ekspektasi. Data tersebut […]

expand_less