Dari Badai Menjadi Amanah: Michaela Paruntu dan Seni Bertahan Seorang Wakil Rakyat
- account_circle reputasi
- calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
- visibility 132
- comment 0 komentar

Media.REPUTASIPLUS.COM
Bagi panggung politik Sulawesi Utara, nama Michaela Elsiana Paruntu (MEP) bukanlah sekadar nama. Ia adalah representasi, peraih suara signifikan, dan seorang figur publik yang gerak-geriknya tak pernah lepas dari sorotan.
Sebagai seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), ia memanggul ekspektasi publik yang besar, dituntut untuk tampil sempurna, tegar, dan selalu menjadi solusi.
Namun, di balik jubah formalitas dan senyum yang harus selalu terpasang, ada seorang manusia. Seorang perempuan, seorang ibu, seorang individu yang, seperti tertulis dalam kutipan yang ia bagikan dalam etalase Instagramnya @mi_qa bagikan, mungkin pernah merasakan ada hari-hari di mana ia “ingin menyerah.”
Bukan karena lemah, tapi mungkin… “karena terlalu lama kuat sendirian.”
Politik adalah panggung yang kejam. Ia tidak hanya menuntut ketajaman intelektual, tapi juga kekuatan mental yang luar biasa. Michaela Paruntu, yang berasal dari keluarga dengan warisan politik yang kuat, tentu memahami ini. Namun, tak ada yang bisa mempersiapkan seseorang ketika badai yang paling personal dalam hidupnya sebuah ujian rumah tangga terjadi bukan di ruang privat, melainkan terkuak dan menjadi konsumsi jutaan mata.
Beberapa tahun silam, publik Indonesia terhenyak oleh sebuah drama personal yang menempatkannya sebagai pusat cerita. Sebuah video viral mempertontonkan sisi paling rapuh dari kehidupannya, sebuah momen yang mungkin ia harap bisa ia lewati dalam hening.
Di sinilah kita melihat relevansi dari filosofi itu: “Tetap harus terus melangkah, karena yang kamu tahu adalah bagaimana bertahan…”
Bertahan di tengah badai, bertahan di bawah tatapan publik, dan bertahan demi sebuah amanah yang sudah terlanjur dipikul di pundaknya. Perjuangan hidupnya bukanlah perjuangan biasa; ia berjuang sambil dinilai, dihakimi, dan dikasihani sebuah kombinasi yang bisa menghancurkan siapa saja.
Merangkul Kerapuhan sebagai Kekuatan
Ambisi untuk menjadi wakil rakyat yang bermanfaat seringkali digambarkan sebagai ambisi akan kekuasaan atau pengaruh. Namun, kita sering lupa bahwa esensi sejati dari seorang “wakil” adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan rakyat. Dan bagaimana bisa seseorang merasakan, jika ia tidak pernah mengizinkan dirinya untuk “rapuh”?
Kutipan itu berbisik, “Mungkin, kamu tdk harus selalu kuat, ada ruang dlm hatimu yg boleh rapuh.. Karena disanalah Tuhan akan datang dengan lembut…”
Dalam dunia politik yang menuntut citra baja, filosofi ini adalah sebuah antitesis. Michaela Elsiana Paruntu, melalui apa yang telah ia lewati, justru menunjukkan sisi kemanusiaan yang paling murni. Ia menunjukkan kepada para konstituennya, terutama kaum perempuan, bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.
Di ruang kerapuhan itulah, ia tidak “lari” dari masalah. Sebaliknya, ia menemukan tempat untuk “Bersandarlah kepadaNya.” Publik melihat bagaimana ia memilih untuk bangkit, menata kembali hidupnya, dan tetap melangkah kali ini, bukan lagi dengan topeng kekuatan palsu, tapi dengan kekuatan yang lahir dari penerimaan atas kerapuhan.
Lalu, bagaimana semua ini sinkron dengan perannya sebagai legislator?
Sederhana. Seseorang yang telah melewati “hari yang terasa berat” akan memiliki empati yang jauh lebih dalam terhadap rakyat yang juga merasakan beratnya hidup. Seorang wakil rakyat yang pernah “goyah”, tapi hatinya “terus berharap,” akan lebih memahami apa arti perjuangan.
Perjuangannya bukanlah lagi sekadar untuk mempertahankan kursi atau dinasti politik. Visinya kini telah ditempa oleh pengalaman. Ambisinya bertransformasi: dari sekadar “menjadi” wakil rakyat, menjadi “manfaat” bagi rakyat.
Ia adalah bukti bahwa “Kamu tetap berharga di hadapan Tuhan meski langkah kakimu goyah.” Pelayanannya kini diisi oleh pemahaman bahwa yang dinilai Tuhan (dan seharusnya juga rakyat) “bukan dari kecepatanmu, tapi dari hatimu yang terus berharap.”
Kini, saat ia duduk di kursi DPRD, ia tidak hanya membawa aspirasi politik. Ia membawa bekas luka yang telah sembuh. Ia membawa pemahaman bahwa setiap orang butuh tempat bersandar. Dan mungkin, itulah misinya: menjadikan lembaga yang ia wakili sebagai tempat di mana rakyat kecil, yang lelah dan merasa “kuat sendirian,” akhirnya bisa menemukan tempat untuk bersandar.
“Promise?… Semangat ya”
Sari Status Instagram @mi_qa
- Penulis: reputasi


