Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » India dan Indonesia: Hubungan Kuno yang Terjalin Melalui Sejarah, Budaya, dan Kehidupan Sehari-hari

India dan Indonesia: Hubungan Kuno yang Terjalin Melalui Sejarah, Budaya, dan Kehidupan Sehari-hari

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
  • visibility 17
  • comment 0 komentar

Oleh Dr. Manish Shrivastava*

Jakarta — Jauh sebelum ada kedutaan besar, kunjungan kenegaraan, atau perjanjian diplomatik, hubungan India dan Indonesia telah dimulai dari laut. Para pedagang, biksu, cendekiawan, perajin, pendongeng, dan peziarah tidak hanya membawa barang dagangan melintasi samudra. Mereka juga membawa bahasa, aksara, kepercayaan, kisah-kisah, tradisi kuliner, serta cara pandang terhadap kehidupan.

Di tengah lalu lintas manusia dan gagasan itu, sosok Resi Agastya turut memasuki imajinasi masyarakat Nusantara. Di Pulau Jawa, ia dikenang sebagai guru yang membawa ajaran Hindu, disiplin, dan nilai-nilai spiritual. Kehadirannya dalam tradisi candi, termasuk di Prambanan, menunjukkan betapa dalamnya pengaruh pemikiran India yang kemudian bertransformasi menjadi bagian dari identitas Indonesia sendiri.

Kerajaan-kerajaan kuno semakin mempererat hubungan tersebut. Sriwijaya di Sumatra berkembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang memiliki hubungan erat dengan Universitas Nalanda di India. Di Jawa dan Bali, kisah Ramayana dan Mahabharata menemukan kehidupan baru melalui tari, teater, seni pahat, penamaan, hingga berbagai ritual budaya.

Bagi seorang India yang berdiri di hadapan Candi Borobudur atau Prambanan, sering kali muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Kisah-kisahnya terasa akrab, tetapi cara masyarakat Indonesia menghidupkannya benar-benar memiliki karakter yang khas.

Barangkali penyair besar India, Rabindranath Tagore, juga merasakan hal serupa ketika mengunjungi Jawa dan Bali pada tahun 1927. Sebagai seorang penyair, ia mampu melihat hal-hal yang sering luput dari perhatian para pelancong. Ia menyaksikan candi, tari, musik, ritual, dan kehidupan masyarakat desa. Namun yang paling membekas baginya adalah bagaimana keindahan begitu menyatu secara alami dalam kehidupan sehari-hari.

Tagore menemukan gema India di Indonesia, tetapi setiap gema itu telah memperoleh suaranya sendiri. Kisah-kisah epik tetap hidup, namun bergerak dengan kelembutan budaya Jawa. Pemikiran Hindu tetap bertahan, tetapi di Bali berkembang melalui upacara adat, sesajen, kehidupan komunal, dan penghormatan terhadap alam. Musik gamelan memiliki kesabarannya sendiri. Tarian berbicara melalui keheningan. Gerak tubuh berlangsung perlahan, ekspresi tetap tenang, tetapi pesannya mampu menyentuh hati.

Saya sendiri berkali-kali merasakan pengalaman serupa.

Di Indonesia, masa lalu jarang hadir secara mencolok. Ia hidup tenang di balik nama-nama orang, upacara adat, candi, tradisi keluarga, bahkan dalam cara masyarakat memaknai waktu.

Perjuangan kemerdekaan kemudian memberikan makna emosional yang lebih dalam bagi kedekatan kedua bangsa.

India dan Indonesia sama-sama pernah merasakan pahitnya penjajahan. Masyarakat di kedua negara memahami bagaimana rasanya ketika tanah, perdagangan, pendidikan, bahkan martabat bangsa berada di bawah kendali pihak asing.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945 dan harus berjuang panjang memperoleh pengakuan internasional. India menyusul meraih kemerdekaan dua tahun kemudian. Saat itu, berbagai bangsa di Asia sedang merebut kembali suara dan identitas mereka setelah berabad-abad hidup di bawah kolonialisme.

Dukungan India terhadap Indonesia bukan semata-mata lahir dari kepentingan diplomatik. Dukungan itu juga tumbuh dari kesamaan pengalaman sejarah, dari rasa hormat satu peradaban tua terhadap peradaban tua lainnya yang sedang berusaha kembali menemukan tempatnya di dunia.

Laut memang memisahkan kedua negara. Bahasa dan pengalaman kolonial pun berbeda. Namun makna kebebasan yang dirasakan masyarakat keduanya sangatlah serupa.

Setelah sama-sama merdeka, hubungan India dan Indonesia memperoleh bentuk resmi melalui berbagai kerja sama antarnegara. Namun bagi mereka yang pernah hidup di kedua negeri ini, hubungan tersebut selalu terasa melalui hal-hal sederhana.

Saya menemukannya dalam nama-nama seperti Dewi, Putri, Indra, Wisnu, dan Surya.

Saya melihatnya dalam pertunjukan Ramayana di Jawa, ketika cerita berasal dari India, tetapi gerak tari, irama musik, dan suasananya sepenuhnya milik Indonesia.

Saya juga menemukannya di Bali. Seorang pengunjung dari India mungkin mendengar mantra-mantra yang familiar, tetapi akan menyaksikan cara beribadah, sesajen, kehidupan pura, dan kedisiplinan masyarakat yang berbeda namun tetap terasa dekat.

Saya merasakannya pula di Jakarta, tempat makanan India, film Bollywood, yoga, Ayurveda, dunia usaha, pendidikan, dan komunitas India hidup berdampingan secara harmonis dengan keramahan masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia, tata krama, dan budaya lokal.

Kunjungan resmi dari India ke Indonesia pada bulan Juli ini menjadi bagian dari tradisi panjang tersebut. Bagi saya pribadi, kunjungan ini menyentuh sesuatu yang telah saya alami dalam kehidupan sehari-hari selama bertahun-tahun.

Saya datang ke Indonesia sebagai seorang profesional biasa dari India. Hal pertama yang ditantang negeri ini bukanlah kemampuan saya bekerja, melainkan cara saya memandang waktu.

Saya datang dengan kebiasaan khas India: ingin bertanya cepat, mengambil keputusan cepat, menindaklanjuti pekerjaan dengan cepat, dan menganggap bahwa jika sesuatu sudah jelas bagi saya, maka tentu akan segera jelas pula bagi orang lain.

Indonesia tidak pernah memperdebatkan kebiasaan itu.

Indonesia hanya membuat saya belajar menunggu.

Sebuah percakapan sering kali dimulai dengan secangkir teh. Sebuah keputusan lahir setelah banyak percakapan kecil. Bahkan sebuah kata “ya” pun membutuhkan waktunya sendiri. Kata nanti dapat memiliki begitu banyak makna.

Pada awalnya saya merasa gelisah.

Namun perlahan saya memahami bahwa masyarakat Indonesia bukan sedang menguji efisiensi saya. Mereka hanya ingin mengetahui apakah saya dapat dipercaya, apakah saya mampu mendengarkan, dan apakah saya tetap tenang ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai jadwal yang saya buat.

Saat Idulfitri pertama saya di Indonesia, saya mendengar ucapan, “Mohon maaf lahir dan batin.”

Ucapan itu langsung mengingatkan saya pada tradisi Jain di India yang mengenal ungkapan Micchāmi Dukkaḍaṃ, yaitu permohonan maaf atas segala kesalahan yang dilakukan, baik disengaja maupun tidak.

Bahasanya berbeda. Tradisi agamanya pun berbeda.

Namun maknanya terasa sangat akrab.

Saya melihat keluarga saling mengunjungi, membawa makanan, meminta maaf, berbicara dengan lembut, serta menempatkan hubungan antarmanusia di atas ego pribadi.

Nilai-nilai serupa juga saya temukan dalam keluarga-keluarga di India, terkadang saat perayaan, setelah terjadi perselisihan keluarga, atau melalui penghormatan yang diberikan kepada orang tua tanpa perlu dijelaskan alasannya.

Pengalaman-pengalaman kecil inilah yang kemudian menjadi benih lahirnya buku saya, Sabar, Sambal & Survival.

Kini, setiap kali memikirkan hubungan India dan Indonesia, yang terlintas justru momen-momen sederhana tersebut.

Seorang warga India yang belajar berbahasa Indonesia sebelum bertamu ke rumah orang Indonesia.

Seorang sahabat Indonesia yang dengan sabar menjelaskan adat setempat tanpa membuat orang asing merasa canggung.

Sebuah meja makan tempat sambal berdampingan dengan masakan India, dan keduanya terasa sama-sama pantas berada di sana.

Atau ucapan selamat hari raya yang membawa semangat saling memaafkan, meski diucapkan dalam bahasa yang berbeda.

Indonesia mengajarkan saya cara baru memahami manusia, tata krama, penghormatan, humor, makanan, agama, keluarga, bahasa, dan rasa memiliki.

Di India, saya sering mendengar pepatah, “Sabr ka phal meetha hota hai” yang berarti “buah kesabaran itu manis.”

Namun setelah tinggal di Indonesia, saya memahami maknanya secara berbeda.

Di sini, kesabaran tidak pernah diajarkan melalui nasihat.

Kesabaran hadir melalui proses menunggu, secangkir teh, keheningan, keluarga, makanan, senyuman, dan terkadang sedikit sambal di sampingnya.

Ketika akhirnya kita benar-benar memahaminya, kesabaran bukan lagi sekadar terasa manis.

Ia memiliki rasa.

*Dr. Manish Shrivastava adalah penulis dan profesional asal India yang berbasis di Jakarta. Ia telah tinggal dan bekerja di Indonesia sejak 2008 serta memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang layanan kesehatan berbasis Ayurveda, termasuk lebih dari sepuluh tahun memimpin bisnis Himalaya di Indonesia dan memperkenalkan produk-produk kesehatan berbasis Ayurveda kepada masyarakat Indonesia. Ia telah menulis 14 buku, termasuk seri sepuluh buku berjudul Krantidoot yang mengangkat kisah para pejuang kemerdekaan India yang kurang dikenal. Buku terbarunya, Sabar, Sambal & Survival, merefleksikan pengalaman hidupnya di Indonesia sekaligus kedekatan budaya antara India dan Indonesia.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • BRI Branch Office Veteran Sukses Laksanakan Distribusi Payroll PT Aksara Garment Indonesia di Pemalang

    BRI Branch Office Veteran Sukses Laksanakan Distribusi Payroll PT Aksara Garment Indonesia di Pemalang

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Sebagai bentuk komitmen dalam memberikan layanan perbankan yang prima serta mendukung kemudahan transaksi bagi mitra korporasi, BRI Branch Office Veteran melaksanakan kegiatan Distribusi Payroll kepada karyawan PT Aksara Garment Indonesia di Kabupaten Pemalang. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya BRI dalam menghadirkan solusi pengelolaan penggajian yang aman, cepat, dan efisien bagi perusahaan, sekaligus memberikan kemudahan […]

  • Nikmati Perjalanan Lebih Maksimal, BRI Finance Tawarkan Pembiayaan Motor Baru Mulai 0,7% per Bulan

    Nikmati Perjalanan Lebih Maksimal, BRI Finance Tawarkan Pembiayaan Motor Baru Mulai 0,7% per Bulan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Jakarta, 20 Juli 2026 – Sepeda motor masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk menunjang mobilitas sehari-hari. Selain praktis dan efisien, kendaraan roda dua juga berperan penting dalam mendukung berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, menjalankan usaha, hingga memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah mobilitas masyarakat yang semakin dinamis, memiliki kendaraan yang andal menjadi salah satu kebutuhan […]

  • BRI Finance Optimistis Hadapi Dinamika Suku Bunga  Lewat Strategi Pendanaan Adaptif

    BRI Finance Optimistis Hadapi Dinamika Suku Bunga Lewat Strategi Pendanaan Adaptif

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Jakarta, 19 Mei 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) terus memperkuat strategi pendanaan guna menjaga efisiensi biaya dana (cost of fund) sekaligus mendukung pertumbuhan pembiayaan yang sehat di tengah kondisi suku bunga dan yield obligasi yang masih bergerak dinamis sepanjang tahun 2026. Hingga Kuartal I-2026, BRI Finance mencatat cost of fund yang tetap […]

  • KAI Bandara Perkuat Konektivitas Medan–Binjai–Kuala Bingai untuk Dukung Mobilitas dan Perekonomian Sumatera Utara

    KAI Bandara Perkuat Konektivitas Medan–Binjai–Kuala Bingai untuk Dukung Mobilitas dan Perekonomian Sumatera Utara

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Vrit Time
    • visibility 70
    • 0Komentar

    PT Railink sebagai operator Kereta Api Bandara terus berkomitmen menghadirkan layanan transportasi publik yang terintegrasi dan terjangkau bagi masyarakat Sumatera Utara. Melalui layanan KA Srilelawangsa yang berlaku mulai 1 Januari 2026, KAI Bandara melayani rute Stasiun Medan – Stasiun Binjai – Stasiun Kuala Bingai guna memperkuat konektivitas antarwilayah serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Rute ini […]

  • Bittime Catatkan Lonjakan Transaksi Emas $XAUT dan $SLVON di Tengah Meredanya Ketegangan Perang Iran

    Bittime Catatkan Lonjakan Transaksi Emas $XAUT dan $SLVON di Tengah Meredanya Ketegangan Perang Iran

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Jakarta, 25 Maret 2026 – Tren positif kembali menghampiri pasar komoditas global yang kini merambah kuat ke sektor aset digital, di mana harga emas dunia terpantau mulai menunjukkan pemulihan signifikan setelah sempat mengalami tekanan. Bertepatan dengan ini, Bittime juga mencatatkan kenaikan harga aset kripto berbasis emas yakni Tether Gold ($XAUT) hingga mencapai 4,23% (25 Maret […]

  • Dukung Penampilan Profesional Insan BRILian, BRI Branch Office Otista Region 6/Jakarta 1 Jalin Sinergi dengan Expressions Parfum

    Dukung Penampilan Profesional Insan BRILian, BRI Branch Office Otista Region 6/Jakarta 1 Jalin Sinergi dengan Expressions Parfum

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle editor News
    • visibility 72
    • 0Komentar

    BRI Branch Office Otista Region 6 terus berinovasi dalam memberikan nilai tambah bagi para pekerjanya. Kali ini, BRI KC Jakarta Otista menjalin sinergi positif dengan Expressions Parfum, merek wewangian berkualitas yang dikenal luas dengan berbagai aroma elegannya. Kolaborasi ini bertujuan untuk mendukung standar grooming dan rasa percaya diri para pekerja (Insan BRILian) dalam memberikan pelayanan […]

expand_less