Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Ikatan Indonesia–India yang Tak Terpisahkan

Ikatan Indonesia–India yang Tak Terpisahkan

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
  • visibility 31
  • comment 0 komentar

Oleh Ashish Bharadwaj* dan Manjeet Kripalani**

Jakarta — India dan Indonesia dipisahkan oleh Samudra Hindia, tetapi dipersatukan oleh sejarah, budaya, perdagangan, dan nilai-nilai yang sama. Hubungan kedua negara tidak pernah semata-mata dibangun melalui perdagangan atau perjanjian diplomatik, melainkan tumbuh dari penghormatan terhadap keberagaman, toleransi, dan persahabatan yang telah terjalin selama berabad-abad. Kini, ada satu dimensi baru yang perlu mendapat perhatian lebih besar, yakni pendidikan tinggi dan riset sebagai jembatan strategis yang akan memperkuat hubungan kedua negara di masa depan.

Hal ini menjadi semakin penting di tengah perubahan geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi. India dan Indonesia merupakan dua negara berkembang yang tengah bertransformasi menjadi kekuatan menengah (middle powers) dengan potensi besar untuk memainkan peran yang lebih menentukan dalam tatanan global. Agar mampu memanfaatkan momentum tersebut, keduanya perlu berinvestasi bukan hanya pada infrastruktur fisik dan ekonomi, tetapi juga pada ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Perjalanan pembangunan India dan Indonesia memiliki banyak kesamaan. Rata-rata usia penduduk India sekitar 29 tahun, sementara Indonesia 31 tahun. Secara bersama-sama, kedua negara mewakili hampir seperlima populasi dunia. Keduanya juga termasuk masyarakat yang sangat terkoneksi secara digital. Kawasan Asia-Pasifik merupakan pengguna media sosial terbesar di dunia, dengan India dan Indonesia menjadi dua negara yang paling aktif memanfaatkan berbagai platform seperti Facebook, WhatsApp, X, dan YouTube, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun dalam situasi darurat. Bonus demografi yang besar ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan, yakni bagaimana memastikan generasi mudanya memperoleh pendidikan yang lebih baik, kesempatan ekonomi yang lebih luas, dan kualitas hidup yang semakin tinggi sebelum momentum tersebut berlalu.

Selama bertahun-tahun, kedua negara mengandalkan sistem pendidikan tinggi dan model penelitian yang banyak mengacu pada Barat. Namun, model tersebut kini menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi pendanaan maupun relevansinya terhadap tantangan masa depan. Seiring semakin memudarnya warisan kolonial dan hadirnya generasi baru yang tumbuh bersama teknologi, menjadi wajar apabila pemerintah India dan Indonesia mulai memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada pembangunan kapasitas riset dan inovasi di bidang-bidang yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Indonesia telah mengambil langkah penting melalui pembentukan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada 2010 dengan dana abadi sekitar 10 miliar dolar AS untuk mendukung pendidikan tinggi, penelitian, dan beasiswa. Pada 2023, lebih dari 35.500 penerima manfaat memperoleh dukungan dari program tersebut. Di sisi lain, India melalui National Education Policy 2020 membentuk National Research Foundation (Anusandhan) yang mulai beroperasi pada 2023 dengan dana sekitar 14,5 miliar dolar AS untuk memperkuat riset dan inovasi di berbagai perguruan tinggi.

Salah satu mekanisme kerja sama yang telah terbukti efektif sepanjang sejarah adalah kemitraan antar lembaga pendidikan dan riset. Ilmu pengetahuan berkembang melalui kolaborasi, bukan kompetisi. Karena itu, hubungan akademik antara India dan Indonesia seharusnya menjadi salah satu prioritas utama dalam memperkuat kemitraan strategis kedua negara.

Sayangnya, kondisi saat ini masih jauh dari ideal. India mengalokasikan sekitar 56 miliar dolar AS untuk pendidikan tinggi pada 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia sendiri menganggarkan sekitar 43 miliar dolar AS untuk sektor pendidikan, dengan sekitar 11 persen dialokasikan bagi program beasiswa, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.

Namun, keterhubungan kedua sistem pendidikan masih sangat terbatas. Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman masih menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri. India bahkan belum menjadi salah satu destinasi pilihan. Pada 2022, hanya sekitar 115 mahasiswa Indonesia yang belajar di India, sementara jumlah mahasiswa India yang menempuh pendidikan tinggi maupun riset di Indonesia bahkan kurang dari sepuluh orang.

Padahal, dari sudut pandang ekonomi, kerja sama pendidikan memberikan manfaat jangka panjang yang sangat besar. Investasi di bidang pendidikan menghasilkan peningkatan produktivitas, mendorong pertumbuhan pendapatan, memperbaiki distribusi kesejahteraan, serta menciptakan lingkungan sosial ekonomi yang lebih baik bagi kedua negara.

Apabila abad ke-21 benar-benar akan menjadi Abad Asia, maka dua demokrasi terbesar di kawasan ini harus memperbanyak kemitraan akademik, membangun lebih banyak jembatan riset, dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa serta peneliti untuk belajar dan berinovasi bersama.

India dan Indonesia pernah menjadi pelopor Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Pada masa itu, kedua negara berupaya mencari model pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter negara-negara yang baru merdeka. Saat itu, keduanya masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi, politik, dan sosial. Kini, kondisinya telah jauh berbeda. India dan Indonesia telah berkembang menjadi negara dengan pengaruh ekonomi dan politik yang jauh lebih besar serta mulai memainkan peran aktif dalam membentuk tatanan geopolitik dan ekonomi internasional yang baru.

Untuk menjalankan peran tersebut, kedua negara perlu memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, lembaga riset, serta sektor swasta. Pemerintah India dan Indonesia telah menempatkan banyak tokoh terbaiknya untuk memimpin transformasi di bidang pendidikan dan penelitian. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan melalui berbagai bentuk kolaborasi yang lebih konkret.

Universitas-universitas swasta terkemuka di India seperti BITS Pilani, yang dikenal memiliki keunggulan di bidang teknik, riset mutakhir, inovasi teknologi, dan kewirausahaan, dapat menjadi pelopor berbagai proyek penelitian bersama dengan perguruan tinggi di Indonesia. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui pertukaran mahasiswa, penyelenggaraan konferensi ilmiah, pengembangan kurikulum baru, hingga penelitian bersama mengenai berbagai isu yang menjadi kepentingan kedua negara.

Peluang kerja sama riset juga sangat luas. Keberhasilan Indonesia dalam menurunkan angka kemiskinan secara drastis selama empat dekade terakhir dapat menjadi bahan pembelajaran penting bagi para ekonom pembangunan dan pembuat kebijakan di negara-negara Global South. Empat puluh tahun lalu, sekitar 74 persen penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kini angkanya telah turun menjadi kurang dari dua persen.

Sebaliknya, India memiliki berbagai pengalaman yang dapat dibagikan kepada Indonesia. Industri farmasi India menjadikannya dikenal sebagai “apotek dunia”, sementara infrastruktur digitalnya yang digunakan lebih dari satu miliar orang setiap hari menjadi salah satu sistem digital publik terbesar dan paling canggih yang pernah dibangun. India juga termasuk kelompok kecil negara yang berhasil mengembangkan program antariksa dengan berbagai pencapaian penting.

Karena itu, bidang-bidang seperti farmasi, kesehatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, transfer teknologi berbasis kekayaan intelektual, riset antariksa, telekomunikasi, rekayasa semikonduktor, komputasi kuantum, oseanografi, deep technology, perusahaan rintisan berbasis teknologi, hingga kemaritiman seharusnya menjadi bagian dari agenda riset bersama antara India dan Indonesia.

Kerja sama di bidang pendidikan tinggi merupakan awal yang sangat baik untuk mempererat hubungan kedua negara. Ketika perguruan tinggi, mahasiswa, peneliti, dan ilmuwan bekerja bersama pada bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama, hubungan India dan Indonesia akan berkembang jauh melampaui diplomasi dan perdagangan.

Visi baru kerja sama pendidikan dan riset kedua negara dapat dirangkum dalam konsep IND, yaitu Integration, Nimbleness, and Decisiveness atau integrasi, kelincahan, dan ketegasan. IND bukan sekadar singkatan dari India dan Indonesia. Lebih dari itu, IND menandai dimulainya babak baru hubungan kedua negara, ketika pendidikan, penelitian, dan inovasi menjadi fondasi utama bagi kemitraan strategis Indonesia dan India pada masa depan.

*Ashish Bharadwaj adalah Distinguished Fellow for Law and Education di Gateway House.

**Manjeet Kripalani adalah Executive Director Gateway House.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jumlah Pengguna LRT Jabodebek Tumbuh 36,86 Persen Sepanjang 2025

    Jumlah Pengguna LRT Jabodebek Tumbuh 36,86 Persen Sepanjang 2025

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle editor News
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Pertumbuhan pengguna yang signifikan sepanjang 2025 menegaskan peran LRT Jabodebek sebagai moda transportasi publik berbasis rel yang semakin diandalkan masyarakat Jabodebek. Mobilitas masyarakat di kawasan Jabodebek sepanjang tahun 2025 semakin mengandalkan transportasi publik berbasis rel. Layanan LRT Jabodebek mencatat pertumbuhan signifikan jumlah pengguna, dengan total 28.816.787 pengguna sepanjang 2025, meningkat dibandingkan 21.055.870 pengguna pada 2024. […]

  • KAI Bandara dan Paguyuban Wartawan Kulon Progo Salurkan Bantuan Sembako dalam Rangka Hari Pers Nasional 2026

    KAI Bandara dan Paguyuban Wartawan Kulon Progo Salurkan Bantuan Sembako dalam Rangka Hari Pers Nasional 2026

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026, PT Railink (KAI Bandara) bersama Paguyuban Wartawan Kulon Progo menyalurkan bantuan paket sembako kepada masyarakat di wilayah Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, pada Minggu (9/2). Sebanyak kurang lebih 50 kepala keluarga menerima bantuan paket sembako yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat serta mempererat hubungan antara perusahaan, […]

  • Pemadaman Sering Berawal dari Sambungan yang Panas. Begini Cara Drone Thermal Menemukannya Lebih Awal

    Pemadaman Sering Berawal dari Sambungan yang Panas. Begini Cara Drone Thermal Menemukannya Lebih Awal

    • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Thermal inspection transmisi memakai kamera thermal pada drone untuk menemukan titik panas (hotspot) pada tower, kabel, dan sambungan jaringan listrik sebelum komponen itu rusak. Kamera DJI Zenmuse H30T membaca suhu dengan resolusi 1280 x 1024 piksel dari jarak aman, tanpa memadamkan aliran listrik dan tanpa petugas memanjat tower. Banyak pemadaman listrik berawal dari masalah kecil […]

  • Belajar AI Langsung dari Industri, 150 Siswa SMK Telkom Makassar Kunjungi Telkom AI Center

    Belajar AI Langsung dari Industri, 150 Siswa SMK Telkom Makassar Kunjungi Telkom AI Center

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Sebanyak 150 siswa SMK Telkom Makassar mengikuti lima rangkaian kunjungan industri di Telkom AI Center of Excellence Makassar untuk belajar langsung tentang AI, robotics, startup digital, hingga implementasinya di industri. Makassar, 30 Mei 2026 – Telkom AI Center Makassar kembali memperkuat perannya sebagai ruang edukasi dan pengembangan talenta digital melalui penerimaan lima rangkaian kunjungan industri […]

  • Air Bekas Mencuci Kereta Tidak Langsung Dibuang, Begini Cara LRT Jabodebek Mengolahnya

    Air Bekas Mencuci Kereta Tidak Langsung Dibuang, Begini Cara LRT Jabodebek Mengolahnya

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 29
    • 0Komentar

    LRT Jabodebek menerapkan sistem Automatic Train Wash Plant (ATWP) yang terintegrasi dengan Water Treatment Plant (WTP) untuk mencuci kereta secara otomatis sekaligus mengolah air bekas pencucian agar dapat digunakan kembali. Sistem ini mendukung efisiensi penggunaan air dan pengelolaan lingkungan. Manager Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menyampaikan bahwa kebersihan kereta menjadi bagian penting dari kualitas […]

  • Pelindo Dukung Kelancaran Distribusi Bantuan Kemanusiaan Aceh – Sumut

    Pelindo Dukung Kelancaran Distribusi Bantuan Kemanusiaan Aceh – Sumut

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle editor News
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Medan, Januari 2026 – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya dalam mendukung kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan melalui layanan kepelabuhanan yang andal, aman, dan berorientasi pada kepentingan publik. Sepanjang periode 30 November 2025 hingga 11 Januari 2026, Pelindo Regional 1 mencatat pelayanan terhadap 127 kunjungan kapal yang mengangkut logistik bantuan kemanusiaan untuk wilayah Aceh dan Sumatera […]

expand_less