Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Belajar dari Indonesia: Ketika Sebuah Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup

Belajar dari Indonesia: Ketika Sebuah Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
  • visibility 32
  • comment 0 komentar

Oleh Gunjan Prasad*

Jakarta — Salah satu konsekuensi tak terduga ketika membangun kehidupan di negara lain adalah tanpa disadari kita berubah menjadi seorang antropolog. Selama hampir dua belas tahun Indonesia menjadi rumah bagi keluarga kami, saya merasa cukup hanya dengan mengamati.

Baru ketika diminta menulis refleksi ini saya mulai mencari kata-kata untuk menjelaskan apa yang selama ini saya rasakan. Saya bertanya kepada teman-teman Indonesia, mencarinya di Google, bahkan bertanya kepada ChatGPT apakah bahasa Indonesia memiliki istilah untuk menggambarkan berbagai nilai yang diam-diam saya kagumi selama tinggal di sini. Sebagian memang memiliki padanan kata. Namun sebagian lainnya, seperti martabat yang tenang dalam cara masyarakat Indonesia menjalani hidup, terasa sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Tulisan ini lahir dari berbagai pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan saya di Indonesia: rumah, keluarga, lingkungan sekitar, sekolah anak-anak, spiritualitas, makanan, hingga kebudayaan.

Pelajaran pertama yang saya dapatkan dari Indonesia datang jauh sebelum saya mengetahui bahwa nilai itu memiliki sebuah nama.

Pelajaran itu saya temukan di rumah.

Apabila salah satu anggota staf rumah tangga kami menyelesaikan pekerjaannya lebih dahulu, ia akan membantu rekan lainnya tanpa diminta. Ketika ada yang sedang sakit, pekerjaan berpindah tangan begitu saja, hampir tanpa terlihat. Tidak pernah terdengar pertanyaan, “Itu tugas siapa?” Mereka hanya melihat apa yang perlu dilakukan, lalu mengerjakannya bersama. Rumah kami terasa berjalan bukan sebagai tempat kerja dengan pembagian tugas yang kaku, melainkan sebagai sebuah komunitas kecil.

Awalnya saya mengira kami hanya beruntung memiliki orang-orang yang luar biasa.

Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa yang saya saksikan sebenarnya adalah salah satu naluri budaya paling mendasar di Indonesia.

Gotong royong.

Dalam bahasa Inggris istilah ini sering diterjemahkan sebagai mutual cooperation. Namun terjemahan itu terasa terlalu kaku. Gotong royong bukan sekadar bekerja sama karena seseorang meminta bantuan. Nilai itu lahir dari keyakinan bahwa kesejahteraan saya dan kesejahteraan Anda saling berkaitan.

Begitu saya mulai memahami maknanya, saya melihat gotong royong hadir hampir di mana-mana.

Saya menemukannya kembali di sekolah internasional tempat anak-anak kami belajar. Seperti banyak keluarga ekspatriat lainnya, kami datang dengan harapan yang tidak jauh berbeda. Kami ingin anak-anak berprestasi, menemukan bakat mereka, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Sekolah tentu mendorong mereka untuk meraih prestasi. Namun pada saat yang sama, sekolah juga mengajarkan sesuatu yang lebih penting, yaitu bahwa keberhasilan tidak boleh diraih dengan mengorbankan orang lain. Di ruang kelas, lapangan olahraga, kegiatan seni, maupun proyek pelayanan masyarakat, anak-anak terus menerima pesan yang sama. Jika kita memiliki kesempatan untuk berhasil, maka kita juga memiliki tanggung jawab membantu orang lain berkembang bersama kita. Prestasi memang penting, tetapi memberikan ruang bagi orang lain untuk berhasil sama pentingnya.

Ada lagi satu kata yang menurut saya hampir mustahil diterjemahkan dengan tepat, yaitu ramah.

Bahasa Inggris biasanya menerjemahkannya sebagai friendliness. Namun bagi saya, ramah lebih merupakan cara menyambut seseorang. Sebuah kemampuan sederhana untuk membuat orang lain merasa diterima bahkan sebelum mereka melakukan apa pun.

Saya menemukannya di tempat-tempat yang paling biasa.

Saat mewawancarai narasumber ketika masih menjadi jurnalis lepas, berbincang dengan pengemudi Grab, bermain bridge, duduk di salon langganan, berbelanja di pasar tradisional, hingga dalam percakapan-percakapan kecil yang diawali dengan bahasa Indonesia saya yang masih terbata-bata.

Lebih sering daripada yang saya bayangkan, kesalahan saya dalam berbahasa tidak disambut dengan koreksi, melainkan dengan senyum dan kegembiraan yang tulus. Sebagai seorang ekspatriat, saya tidak pernah merasa harus “membuktikan diri” agar diterima. Keramahan di Indonesia bukan sekadar membuat orang merasa disambut, melainkan membuat mereka hampir tidak pernah merasa sebagai orang asing.

Kemudian saya mengenal makna ikhlas.

Selama tinggal di Indonesia, kami berkesempatan bekerja bersama banyak orang Indonesia yang luar biasa. Etos kerja mereka sangat tinggi, loyalitasnya tidak pernah diragukan, standar kerjanya sangat baik, dan semangat belajar mereka selalu menginspirasi.

Namun, yang paling membekas justru bukan semua itu.

Yang paling saya ingat adalah betapa kecilnya keinginan mereka untuk mencari pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan. Kini saya memahami bahwa mungkin itulah makna ikhlas: melakukan sesuatu sepenuh hati tanpa terus-menerus berharap dipuji atau diakui.

Bersamaan dengan itu saya juga belajar mengenai harga diri.

Di balik kesopanan masyarakat Indonesia tersimpan rasa hormat terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Ketika kepercayaan rusak atau rasa hormat hilang, jarang sekali saya melihat kemarahan yang meledak-ledak. Yang lebih sering terjadi justru seseorang memilih menjaga jarak dengan tenang. Ada hal-hal yang tidak dapat diperbaiki hanya melalui penjelasan atau negosiasi.

Indonesia juga memiliki satu kata yang sangat saya sukai: adem.

Kata ini bukan hanya berarti sejuk. Adem adalah perasaan ketika segala sesuatu terasa tenang dan berada pada tempatnya. Itulah yang selalu saya rasakan setiap kali duduk bermain bridge di Jakarta.

Indonesia melahirkan banyak pemain bridge terbaik yang pernah saya temui. Kemampuan teknis mereka luar biasa dan mereka selalu mengikuti perkembangan strategi terbaru. Namun yang paling mengesankan bukanlah kecerdasannya, melainkan ketenangannya. Mereka tidak pernah merasa perlu memamerkan kemampuan. Di Indonesia, rasa percaya diri dan kerendahan hati ternyata dapat berjalan berdampingan.

Saya juga mengira selama ini telah memahami arti sabar.

Ternyata Indonesia mengajarkan makna yang jauh lebih dalam.

Sabar bukan sekadar kemampuan menunggu, tetapi keyakinan bahwa proses tidak harus selalu dipercepat. Saat membesarkan dua putra kami hingga beranjak dewasa, saya sering mengingat pelajaran tersebut. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa dipaksa. Kita hanya bisa merawatnya dengan penuh kasih dan percaya bahwa semuanya akan berkembang pada waktunya sendiri.

Dan mungkin sabar selalu berjalan berdampingan dengan sahabatnya yang paling setia: syukur.

Sabar mengajarkan kita untuk percaya pada sesuatu yang masih berproses. Syukur mengingatkan kita untuk menghargai apa yang telah kita miliki hari ini.

Setiap kali kami memulai perjalanan, sopir kami selalu mengucapkan doa singkat. Ketika kami tiba di tujuan, doa lain kembali dipanjatkan. Tidak ada seremoni. Tidak ada penonton. Hanya ungkapan syukur yang sederhana.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa rasa syukur tidak harus menunggu peristiwa besar dalam hidup. Tiba di tujuan dengan selamat pun sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur. Pelajaran sederhana itu kini menjadi salah satu yang paling saya hargai.

Ada satu bagian yang sengaja tidak saya ceritakan di sini.

Hubungan saya dengan makanan Indonesia rasanya layak mendapat tulisan tersendiri.

Cukuplah saya katakan bahwa isi dapur kami pun perlahan berubah. Ketumbar dan jintan kini berbagi tempat dengan kemiri, terasi, daun jeruk, dan kecap manis. Berbagai resep yang dahulu saya coba karena rasa penasaran kini justru menjadi hidangan favorit keluarga, bahkan lebih sering diminta dibanding makanan yang kami nikmati sejak kecil. Tanpa saya sadari, perubahan isi dapur itu ternyata sedang menceritakan kisah yang jauh lebih besar.

Baru ketika menulis refleksi ini saya menyadari betapa dalam Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami.

Kami kini sedikit lebih lambat menghakimi orang lain, sedikit lebih cepat merangkul mereka, sedikit lebih sabar, dan jauh lebih mudah bersyukur.

Mungkin memang begitulah hidup di negara lain dalam waktu yang cukup lama.

Suatu hari kita menyadari bahwa negeri itu tidak lagi sekadar tempat tinggal sementara. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita, dan perlahan ikut membentuk siapa diri kita sebenarnya.

*Gunjan Prasad adalah penulis asal India yang telah tinggal di Indonesia selama hampir 12 tahun. Melalui pengalaman hidup bersama keluarganya di Indonesia, ia banyak menulis tentang budaya, masyarakat, pendidikan, serta pengalaman lintas budaya yang memperkaya hubungan antara Indonesia dan India.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penuh Keceriaan, Lomba Gebuk Bantal Meriahkan Rangkaian BRILiaN Culture Festival BRI Region 6

    Penuh Keceriaan, Lomba Gebuk Bantal Meriahkan Rangkaian BRILiaN Culture Festival BRI Region 6

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Rangkaian BRILiaN Culture Festival (BCF) BRI Region 6 di Ciloto semakin semarak dengan digelarnya lomba gebuk bantal antar pekerja. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang menghadirkan suasana penuh keceriaan sekaligus menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan dan engagement antar pekerja BRI Region 6. Lomba gebuk bantal berlangsung dengan meriah dan mengundang antusiasme para peserta maupun […]

  • Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Budaya ONE PTPN melalui Implementasi 3ON3 di PT Industri Karet Nusantara

    Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Budaya ONE PTPN melalui Implementasi 3ON3 di PT Industri Karet Nusantara

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Medan — Holding Perkebunan Nusantara melalui anak perusahaannya, PT Industri Karet Nusantara, terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat transformasi dan peningkatan kinerja berkelanjutan melalui program Internalisasi dan Implementasi 3ON3 di seluruh unit kerja. Program ini menjadi bagian penting dalam penguatan budaya ONE PTPN sekaligus pembentukan karakter Nusantara EntrePlanters yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil. Program […]

  • Bharat Corner Resmi Hadir di Unsrat, Perkuat Kerja Sama Akademik Indonesia–India

    Bharat Corner Resmi Hadir di Unsrat, Perkuat Kerja Sama Akademik Indonesia–India

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Jakarta — Upaya memperkuat hubungan akademik dan budaya antara Indonesia dan India kembali diperluas melalui peresmian Bharat Corner di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado, Jumat (24/4/2026) lalu. Fasilitas ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi kolaborasi pendidikan yang lebih luas sekaligus mendukung agenda internasionalisasi perguruan tinggi. Peresmian dilakukan langsung oleh Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep […]

  • Glow Society Makin Seru di K Mall at Menara Jakarta

    Glow Society Makin Seru di K Mall at Menara Jakarta

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 11
    • 0Komentar

    K Mall at Menara Jakarta menghadirkan Glow Society, rangkaian aktivitas yang berlangsung pada 11 September hingga 4 Oktober 2026. Mengusung semangat Discover Your Inner Glow, Glow Society mengajak pengunjung menikmati berbagai pengalaman seputar wellness, movement, beauty, dan mindful living, sekaligus menjadi ruang bertemunya beragam komunitas di K Mall. Sebagai destinasi lifestyle dan community hub dengan […]

  • Holding Perkebunan Nusantara Kembangkan Kawasan Bawang Putih Berbasis Konservasi di Jawa Barat

    Holding Perkebunan Nusantara Kembangkan Kawasan Bawang Putih Berbasis Konservasi di Jawa Barat

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), resmi menginisiasi penyiapan lahan strategis untuk budidaya bawang putih di Jawa Barat sebagai langkah konkret mendukung percepatan swasembada pangan nasional. Inisiatif ini dimulai di Perkebunan Teh Gedeh, Cianjur, sebagai tindak lanjut atas instruksi Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Pertanian Amran Sulaiman guna […]

  • Peluang Bisnis Fashion dari Lulusan Desain Produk Busana

    Peluang Bisnis Fashion dari Lulusan Desain Produk Busana

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Industri fashion Indonesia terus berkembang, menghadirkan peluang besar bagi generasi kreatif. Di balik brand lokal yang sukses, ada proses panjang desain busana yang matang dan terarah. Desain busana bukan sekadar membuat pakaian terlihat menarik, tetapi juga tentang riset, konsep, eksplorasi material, hingga strategi bisnis. Sobat Unggul, jika kamu punya passion di dunia fashion, memilih jalur […]

expand_less