Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pertambangan, Bidik Mineral Kritis dan Peluang Hilirisasi

India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pertambangan, Bidik Mineral Kritis dan Peluang Hilirisasi

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
  • visibility 26
  • comment 0 komentar

Jakarta — India dan Indonesia mendorong penguatan kerja sama di sektor pertambangan dan batu bara dengan memperluas kolaborasi dari perdagangan komoditas menuju investasi, teknologi, mineral kritis, industri hilir, dan keamanan rantai pasok. Peluang tersebut dibahas dalam roundtable “Boosting India-Indonesia Collaboration in Mining and Coal Sectors” di Tagore Hall, New Chancery, Kedutaan Besar India di Jakarta, 11 September 2026.

Pertemuan mempertemukan pejabat pemerintah, perusahaan pertambangan, asosiasi industri, investor, kontraktor, dan pemangku kepentingan dari kedua negara. Indonesia menawarkan sumber daya mineral yang besar, sementara India memiliki kemampuan industri, teknologi, investasi, dan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

India Ingin Menjadi Mitra, Bukan Sekadar Pembeli Bahan Mentah

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan bahwa India tidak tertarik hanya mendapatkan akses bahan baku. “Kami tidak tertarik hanya mengambil bahan mentah. Kami ingin bermitra dengan Anda, dan kami ingin menjadi mitra dalam kemajuan Anda.”

Menurutnya, kebijakan hilirisasi Indonesia telah mengubah lanskap investasi. Perusahaan India perlu melihat Indonesia bukan hanya sebagai sumber mineral, tetapi juga sebagai tempat membangun fasilitas pengolahan, manufaktur, dan industri bernilai tambah.

Mineral Kritis Jadi Area Strategis Baru

Vivek Kumar Bajpai, Joint Secretary, Ministry of Mines, Government of India, menjelaskan transformasi sektor pertambangan India melalui eksplorasi, pengelolaan data geologi, keterlibatan swasta, dan pengembangan pengolahan mineral.

India juga memberikan perhatian besar terhadap National Critical Mineral Mission (NCMM), yang mencakup eksplorasi, lelang blok, akuisisi aset luar negeri, fasilitas pengolahan, daur ulang, serta penelitian dan pengembangan.

“Perusahaan-perusahaan India sangat tertarik untuk datang ke Indonesia dan melakukan investasi di sini,” kata Bajpai. Langkah berikutnya, menurutnya, adalah mempertemukan perusahaan India dengan proyek dan mitra yang tepat di Indonesia.

Batu Bara Tetap Strategis, India Dorong Modernisasi

Bhuvaneshwari S., Deputy Secretary, Ministry of Coal, Government of India, menjelaskan bahwa batu bara masih berperan penting dalam sistem energi India. Namun, pemerintah mendorong reformasi kebijakan, modernisasi teknologi, serta pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan nilai tambah.

India membuka sektor pertambangan batu bara melalui commercial mining dan mendorong penggunaan AI, GPS, GIS, serta sistem pemantauan terintegrasi. Melalui National Coal Gasification Mission, India juga mengembangkan teknologi untuk mengubah batu bara menjadi produk dan bahan baku industri, dengan tetap memperhatikan lingkungan dan keselamatan.

Indonesia Punya Potensi Besar Mineral Kritis

Debdutta Ganguly, President Director PT HDJ Consultant Indonesia, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam industri pertambangan global, termasuk batu bara, nikel, tembaga, emas, bauksit, dan timah.

Indonesia telah mengidentifikasi 47 mineral kritis, sementara India memiliki sekitar 30. Nikel, kobalt, tembaga, grafit, timah, dan rare earth elements menjadi sejumlah mineral yang memiliki kepentingan bagi kedua negara.

Ganguly mendorong kedua negara segera menentukan proyek prioritas. “Identifikasi beberapa proyek prioritas. Kita cocokkan kemampuan India dengan proyek-proyek di Indonesia. Kemudian kita dapat meluncurkan dua atau tiga proyek percontohan.”

APNI Buka Peluang bagi Perusahaan India

Meidy Katrin Lengkey, Secretary General Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), memaparkan pesatnya perkembangan industri nikel Indonesia. Menurutnya, sekitar 450 perusahaan tambang nikel aktif berproduksi, sementara hilirisasi telah mendorong pembangunan berbagai fasilitas pengolahan dan pemurnian.

Indonesia kini memasok sekitar 65 persen kebutuhan nikel dunia. Namun, Meidy menyoroti dominasi investor China di sektor hilir. “Sayangnya, sejak program hilirisasi dimulai, kita dapat melihat bahwa sekitar 90 persen sektor hilir berasal dari China.”

Kondisi tersebut membuka ruang bagi India untuk menjadi mitra baru Indonesia, tidak hanya di nikel tetapi juga 47 mineral kritis yang telah diidentifikasi Indonesia.

Dari Nikel Menuju Produk Bernilai Tambah

Kamlesh Kumar, COO Tata Power Indonesia, menilai peluang nikel seharusnya tidak hanya diarahkan untuk menambah kapasitas produksi. Sejumlah segmen telah menghadapi oversupply, sehingga peluang lebih menarik dapat berada pada tahapan lebih tinggi dalam rantai nilai.

Selain nickel pig iron (NPI), perusahaan dapat mempertimbangkan bahan kimia dan material yang digunakan dalam rantai nilai baterai. Tembaga, timah, bauksit, dan coal gasification juga dinilai memiliki peluang kerja sama.

Ashok Mitra, mantan CEO Kaltim Prima Coal (KPC), menambahkan bahwa gasifikasi batu bara bukan konsep baru di Indonesia, tetapi masih menghadapi tantangan ekonomi proyek, kebutuhan investasi, serta ketersediaan batu bara yang sesuai.

Adani Dorong Perusahaan India Lebih Agresif

Siddharth Taparia, Country Head Adani Indonesia, mengatakan perusahaan India perlu melihat peluang lebih luas dan tidak hanya berfokus pada batu bara. Nikel, tembaga, dan bauksit dapat menjadi pintu masuk baru.

Ia menilai perusahaan China telah bergerak sangat agresif dengan membawa modal, teknologi, peralatan, dan kemampuan engineering. “Kita harus lebih agresif.” Namun, perusahaan yang masuk ke Indonesia juga harus memahami ekosistem lokal dan memberikan nilai tambah.

Danantara Melihat Peluang dari Tambang hingga Baterai

Suryadi Wijaya, Director Investment Danantara, mengatakan peluang investasi dapat dikembangkan melalui co-investment dan kemitraan dengan investor strategis, dengan tetap berorientasi pada commercial return.

Rantai nilai tersebut mencakup pengolahan mineral, material baterai, anode, cathode, battery cell, hingga kendaraan listrik. Indonesia juga membutuhkan diversifikasi teknologi agar tidak bergantung pada satu pendekatan atau sumber teknologi.

Mineral Kritis Bukan Sekadar “Dig and Sell”

Naveen Chandralal, Director PT Amman, menekankan bahwa mineral kritis membutuhkan perspektif jangka panjang. “Mineral kritis bukan sekadar dig and sell.”

Pengembangan mineral kritis membutuhkan fasilitas pengolahan, modal besar, teknologi, dan kepastian pasar. Tembaga, misalnya, semakin penting bagi India seiring meningkatnya kebutuhan industri. Indonesia dapat menjadi mitra strategis karena memiliki sumber daya dan pengalaman dalam operasi pertambangan berskala besar.

Tantangan Pasokan Nikel

Arief Perdana Kusumah, Chairman Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), menyoroti konsentrasi pasar nikel Indonesia ke China. Ia menyebut sekitar 93 persen produksi logam nikel Indonesia mengalir ke China.

Arief juga menyoroti kebutuhan impor bijih nikel dari Filipina, terutama karena Maluku Utara menghadapi defisit bijih di tengah terkonsentrasinya kapasitas pengolahan nikel di wilayah tersebut.

Salah satu opsi yang dibahas untuk menjamin pasokan adalah long-term offtake agreement dengan produsen yang telah beroperasi. Pilihan lainnya adalah kepemilikan saham atau akuisisi fasilitas yang sudah beroperasi.

Meidy menjelaskan bahwa impor bijih dari Filipina berkaitan dengan karakteristik bijih yang dibutuhkan fasilitas pengolahan dan dapat dicampur dengan bijih domestik. Di tengah oversupply pada sejumlah segmen, Indonesia dinilai perlu semakin berfokus pada nilai tambah.

Peluang bagi Kontraktor Pertambangan India

Roundtable juga membahas peluang bagi perusahaan India untuk masuk sebagai kontraktor pertambangan maupun melalui model Mine Developer and Operator (MDO).

Kuhan Selvaretnam, Director Sumbar Mitra Jaya, memberikan perspektif dari sisi kontraktor pertambangan Indonesia. Menurutnya, Indonesia telah berkembang pesat dari sisi teknologi pertambangan.

“Dari perspektif pertambangan, Indonesia sudah cukup maju. Kita memiliki akses terhadap teknologi terbaru, baik untuk alat berat, pengawasan tambang, pengembangan tambang dan sebagainya.”

Ia juga melihat perbedaan model kontraktor Indonesia dan MDO di India sebagai peluang untuk saling belajar. Kuhan turut mengapresiasi perkembangan regulasi pertambangan India dan upaya menuju praktik pertambangan batu bara yang lebih ramah lingkungan.

Saatnya Mengubah Dialog Menjadi Aksi

Bijay Selvaraj, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar India di Jakarta, menilai forum tersebut mempertemukan keahlian dari pembuat kebijakan, perusahaan, investor, perbankan, dan Danantara.

“Sudah menjadi sangat jelas bahwa Indonesia adalah tempat di mana hampir segala sesuatu terjadi dalam hal pertambangan. Anda dapat menyebut mineral apa pun, dan mineral itu ada di sini.”

Menurutnya, peluang tersebut harus berjalan bersama kebijakan hilirisasi dan transisi menuju industri yang lebih bersih. “Kita tidak bisa hanya berada di apa yang disebut sebagai ruang kotor. Kita harus masuk ke ruang yang bersih dan juga menunjukkannya.”

India Mining Week Jadi Forum Lanjutan

Selvaraj mengundang pelaku industri Indonesia untuk melanjutkan pembicaraan melalui India Mining Week pada 15–17 November 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi peluang investasi dan kemitraan yang lebih konkret.

Pertemuan di Jakarta menunjukkan bahwa kerja sama pertambangan India dan Indonesia mulai bergerak melampaui perdagangan komoditas. Batu bara tetap menjadi bagian penting, tetapi peluang masa depan semakin mengarah pada mineral kritis, hilirisasi, teknologi, pengolahan, manufaktur, investasi bersama, dan keamanan rantai pasok.

Tantangan berikutnya adalah mengubah komplementaritas kedua negara menjadi proyek nyata dengan menentukan proyek prioritas, mempertemukan perusahaan yang tepat, dan membangun proyek percontohan sebagai dasar kemitraan industri jangka panjang.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bukan Sekadar Potongan: Ini Manfaat Jaminan Hari Tua (JHT) Buat Karyawan

    Bukan Sekadar Potongan: Ini Manfaat Jaminan Hari Tua (JHT) Buat Karyawan

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Kalau kamu perhatiin slip gaji setiap bulan, pasti ada deretan potongan dengan berbagai nama. Dari pajak, sampai BPJS Kesehatan. Salah satunya, Jaminan Hari Tua alias JHT. Kadang suka muncul pertanyaan, “Dipungut tiap bulan, tapi apa sih manfaatnya buat kita?” Padahal, JHT ini bukan potongan asal-asalan, lho. Program ini justru salah satu bentuk perlindungan finansial jangka […]

  • Petugas LRT Jabodebek Dibekali Manajemen Kelelahan agar Keselamatan dan Pelayanan Tetap Optimal

    Petugas LRT Jabodebek Dibekali Manajemen Kelelahan agar Keselamatan dan Pelayanan Tetap Optimal

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 32
    • 0Komentar

    LRT Jabodebek menggelar sosialisasi manajemen kelelahan (fatigue management) dan pencegahan cedera akibat kerja bagi pekerja operasional sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan, keandalan, dan kenyamanan layanan. Kegiatan ini diikuti oleh petugas operasi, sarana dan prasarana, serta frontliner stasiun. Materi disampaikan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi, dr. M. Arief Novianto, MKK, Sp.Ok, yang membahas penyebab kelelahan […]

  • Holding Perkebunan Nusantara Dorong Hilirisasi Sawit, PalmCo Serap 6,8 Juta Bibit Bersertifikat

    Holding Perkebunan Nusantara Dorong Hilirisasi Sawit, PalmCo Serap 6,8 Juta Bibit Bersertifikat

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mempercepat hilirisasi industri kelapa sawit nasional. Sejalan dengan agenda tersebut, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo terus memperkuat transformasi bisnis sekaligus meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan sawit rakyat sebagai fondasi pengembangan industri hilir nasional. Dukungan tersebut ditegaskan […]

  • Mengapa Pasangan Mata Uang Tertentu Lebih Likuid di Pasar Forex

    Mengapa Pasangan Mata Uang Tertentu Lebih Likuid di Pasar Forex

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Pasar forex dikenal sebagai pasar finansial terbesar dan paling cair di dunia dengan volume transaksi harian yang mencapai triliunan dolar. Namun, likuiditas ini tidak tersebar secara merata di seluruh pasangan mata uang yang tersedia. Likuiditas dalam forex mencerminkan seberapa mudah sebuah aset dapat dibeli atau dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang signifikan. Fenomena ini sangat […]

  • Indomaret Kembali Hadirkan Produk Bertema Pokémon di Indonesia

    Indomaret Kembali Hadirkan Produk Bertema Pokémon di Indonesia

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Indomaret kembali menghadirkan produk bertema Pokémon bagi para penggemar di Indonesia. “Pokémon School Collection” diluncurkan pada Kamis (25/6), sementara seri terbaru Pokémon Game Kartu Koleksi, “Ancaman Bayangan”, mulai tersedia pada Jumat (26/6). Peluncuran produk-produk terbaru ini merupakan bagian dari upaya Indomaret untuk menghadirkan Pokémon lebih dekat dengan keseharian para penggemar. Jakarta, 26 Juni 2026 – […]

  • Open Network: Paradigma Baru untuk Ekonomi Digital yang Inklusif

    Open Network: Paradigma Baru untuk Ekonomi Digital yang Inklusif

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Vrit Time
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Sebuah berita terbaru di Jakarta Post mengenai para penjual e-commerce di Indonesia yang harus menghadapi kenaikan biaya platform menarik perhatian saya. Berita itu juga mengingatkan saya pada sebuah komitmen bilateral antara India dan Indonesia. Dalam kunjungan Presiden Prabowo ke India pada Januari 2025 atas undangan Perdana Menteri Modi, kedua pemimpin menegaskan komitmen untuk mempercepat kerja […]

expand_less