Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Kemitraan Indonesia–India: Pengembangan Sumber Daya Manusia Perlu Mendapat Perhatian Lebih Besar

Kemitraan Indonesia–India: Pengembangan Sumber Daya Manusia Perlu Mendapat Perhatian Lebih Besar

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
  • visibility 17
  • comment 0 komentar

Jakarta — Persahabatan yang semakin erat tengah terjalin antara dua pemimpin politik paling berpengaruh di Asia. Sejak kunjungan kenegaraan pertama Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 atas undangan Perdana Menteri India Narendra Modi, kedua pemimpin berhasil membangun hubungan yang hangat dan saling percaya. Persahabatan tersebut akan semakin diperkuat melalui kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli atas undangan Presiden Prabowo. Kunjungan ini merupakan lawatan resmi pertama Modi ke Indonesia sejak Presiden Prabowo menjabat, sekaligus kunjungan keempatnya secara keseluruhan ke Indonesia.

Namun, arti penting kunjungan ini jauh melampaui penandatanganan berbagai kesepakatan bilateral. Kunjungan tersebut mencerminkan semakin strategisnya hubungan Indonesia–India di tengah perubahan lanskap geopolitik dan ekonomi kawasan Indo-Pasifik. Pada saat Presiden Prabowo berkunjung ke India pada Januari 2025, kedua pemimpin telah menyepakati sejumlah agenda prioritas, antara lain memperdalam kerja sama pertahanan, memperluas perdagangan dan investasi, memperkuat keamanan maritim, meningkatkan kolaborasi di bidang teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta mempererat kemitraan di sektor kesehatan dan pendidikan. Pertemuan di Jakarta diharapkan menjadi momentum untuk mengubah berbagai komitmen politik tersebut menjadi implementasi yang nyata.

Dari Look East Menuju Act East

Kunjungan Perdana Menteri Modi juga mencerminkan semakin kuatnya keterlibatan India di Asia Tenggara. Dalam satu dekade terakhir, hubungan India dengan kawasan ini telah mengalami perubahan mendasar. Jika sebelumnya lebih banyak berorientasi pada diplomasi melalui kebijakan Look East Policy, kini India mengembangkan pendekatan yang jauh lebih ambisius melalui Act East Policy. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa India tidak lagi sekadar ingin menjalin hubungan dengan Asia Tenggara, tetapi juga menjadi bagian penting dari arsitektur ekonomi kawasan.

Bagi Asia Tenggara, India merupakan salah satu ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia sekaligus pasar yang dihuni lebih dari 1,4 miliar penduduk. Sebaliknya, bagi India, Asia Tenggara merupakan pintu gerbang menuju kawasan Indo-Pasifik, pusat manufaktur yang semakin penting, serta mitra strategis dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Hubungan ekonomi kedua belah pihak pun berkembang sangat pesat. Nilai perdagangan antara India dan Asia Tenggara hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, meningkat dari sekitar US$76 miliar pada 2014 menjadi US$140 miliar pada 2024. ASEAN kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar India dengan kontribusi sekitar 11 persen terhadap total perdagangan global negara tersebut. Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia menjadi jangkar utama dalam hubungan ekonomi yang terus berkembang ini.

Jika satu dekade terakhir ditandai oleh pertumbuhan perdagangan yang sangat pesat, maka satu dekade mendatang berpotensi menjadi periode yang jauh lebih penting. Pergeseran rantai pasok global mendorong banyak perusahaan untuk meninjau kembali strategi investasinya. Berbagai perubahan struktural yang sedang berlangsung menciptakan peluang baru bagi negara-negara yang mampu menawarkan ekosistem manufaktur yang saling melengkapi. Dalam konteks inilah Indonesia dan India memiliki peluang menjadi penggerak utama perubahan, ketika kedua pemimpin negara merumuskan arah baru bagi kemitraan bilateral.

Seiring semakin banyak perusahaan global mengurangi ketergantungan pada satu basis produksi melalui strategi China+1 maupun China+Many, India dan Asia Tenggara tidak lagi dipandang sebagai pesaing, melainkan sebagai ekosistem manufaktur yang saling melengkapi di berbagai sektor seperti elektronik, otomotif, farmasi, semikonduktor, dan industri kimia. India mengembangkan berbagai kebijakan seperti Make in India dan National Logistics Policy, sementara negara-negara Asia Tenggara memiliki keunggulan masing-masing. Vietnam menjadi kekuatan utama dalam ekspor elektronik, Indonesia tengah membangun industri kendaraan listrik, Thailand mempertahankan posisinya sebagai pusat otomotif regional, sedangkan Malaysia memainkan peran penting dalam pengemasan dan pengujian semikonduktor. Bila dipadukan dengan peran Singapura sebagai pusat konektivitas global dan layanan keuangan kelas dunia, seluruh negara tersebut berpotensi membentuk rantai nilai regional yang semakin kuat dan terintegrasi.

Pengembangan Sumber Daya Manusia sebagai Kunci

Ketika Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Modi bertemu di Jakarta, pembahasan mereka seharusnya juga memberikan perhatian besar pada perkembangan teknologi paling revolusioner saat ini, yaitu kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). AI akan mengubah secara mendasar cara manusia bekerja, belajar, berinteraksi, dan menjalani kehidupan di masa depan. Karena itu, kunci utama untuk memaksimalkan manfaat AI bukan semata-mata terletak pada teknologinya, melainkan pada kualitas sumber daya manusia yang mampu memanfaatkannya. Inilah salah satu bidang kerja sama Indonesia–India yang paling menjanjikan, namun hingga kini masih belum banyak mendapatkan perhatian. Kedua negara sama-sama memiliki populasi muda yang produktif dan membutuhkan lebih banyak lapangan kerja berkualitas serta peluang karier yang menjanjikan. Di tengah berbagai pembahasan mengenai perdagangan, pertahanan, dan teknologi digital, investasi pada pengembangan sumber daya manusia justru berpotensi memberikan dampak ekonomi jangka panjang yang paling besar bagi kedua negara.

Membangun Talenta untuk Masa Depan

Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang besar dan produktif, tetapi masih menghadapi tantangan dalam memperluas ketersediaan talenta, terutama pada tingkat manajemen dan kepemimpinan. Di sisi lain, kekuatan terbesar India bukan hanya terletak pada besarnya jumlah penduduk, melainkan pada kedalaman ekosistem ekonomi berbasis pengetahuan yang telah dibangunnya selama puluhan tahun. Meski demikian, hubungan akademik antara kedua negara masih belum berkembang seoptimal potensi yang dimiliki. Hingga kini, hanya sedikit perguruan tinggi India yang secara aktif membangun kemitraan strategis dengan universitas-universitas di Indonesia melalui pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, maupun penelitian bersama.

Beberapa universitas Indonesia seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor memang telah menjalin Nota Kesepahaman (MoU) dengan berbagai institusi pendidikan tinggi terkemuka di India, termasuk Indian Institutes of Technology (IIT), Indian Institutes of Management (IIM), University of Delhi, dan Jawaharlal Nehru University. Namun, hingga kini belum banyak kemitraan berskala besar dan berdampak strategis seperti yang telah dibangun Indonesia bersama berbagai universitas di Australia, Jepang, Tiongkok, Singapura, maupun Amerika Serikat. Padahal, ruang untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan India masih sangat terbuka.

Potensi terbesar justru tidak terletak pada program pertukaran mahasiswa konvensional. Yang lebih dibutuhkan adalah kolaborasi yang bersifat strategis, seperti penyelenggaraan pendidikan eksekutif, akademi bersama di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan keterampilan digital, pusat riset bersama, serta program pendidikan yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri. Bahkan, terbuka peluang membangun kemitraan segitiga antara perguruan tinggi Indonesia, India, dan Singapura untuk menghadirkan program pendidikan yang dapat melayani kebutuhan kawasan Asia Tenggara secara lebih luas.

Apabila dipandang dari perspektif pembangunan ekonomi, kerja sama antarpendidikan tinggi dapat berkembang menjadi salah satu pilar utama hubungan Indonesia–India. India memiliki kapasitas yang sangat besar dalam mencetak insinyur, manajer, dan tenaga ahli teknologi, sementara Indonesia membutuhkan semakin banyak talenta di bidang-bidang tersebut untuk mendukung transformasi industrinya. Melalui kemitraan kelembagaan yang dirancang secara baik, Indonesia dapat mempercepat pengembangan sumber daya manusianya, sementara India memperluas pengaruh pendidikan tingginya di Asia Tenggara. Hasilnya bukan hanya menguntungkan sektor pendidikan, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi kedua negara dalam jangka panjang.

Kemitraan semacam ini juga akan mempererat hubungan antarmasyarakat (people-to-people connections) sekaligus memperkuat hubungan antarlembaga. Ketika India semakin memperluas perannya di Asia Tenggara melalui kebijakan Act East, dan Indonesia terus mendorong transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi di bawah agenda ekonomi Presiden Prabowo Subianto, investasi pada pengembangan sumber daya manusia berpotensi menjadi fondasi utama fase berikutnya dalam hubungan bilateral kedua negara. Bagi berbagai institusi yang bergerak di bidang pendidikan eksekutif dan pengembangan kepemimpinan, momentum ini menghadirkan peluang yang sangat besar. Ke depan, pengembangan kepemimpinan kemungkinan akan menjadi sama pentingnya dengan perdagangan, investasi, maupun kerja sama pertahanan dalam memperkuat hubungan Indonesia–India.

*Shoeb Kagda adalah Country Director Singapore Management University (SMU) Indonesia Office sekaligus Co-Founder Indonesia Economic Forum. Selama lebih dari tiga dekade, ia aktif mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan, bisnis, dan kebijakan publik, dengan fokus pada pengembangan kepemimpinan, pendidikan eksekutif, investasi, dan hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Asia.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jumlah Penumpang LRT Jabodebek Terus Meningkat, Capai 5,2 Juta Pengguna di Awal 2026

    Jumlah Penumpang LRT Jabodebek Terus Meningkat, Capai 5,2 Juta Pengguna di Awal 2026

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 77
    • 0Komentar

    LRT Jabodebek mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah penumpang di awal 2026, dengan total 5,2 juta penumpang dan rata-rata 88 ribu penumpang per hari. LRT Jabodebek mengawali tahun 2026 dengan kinerja yang terus bertumbuh. Sepanjang periode 1 Januari hingga 28 Februari 2026, layanan ini telah melayani 5,2 juta penumpang atau rata-rata 88 ribu penumpang per hari. […]

  • Kemitraan Strategis Siloam Hospitals Mampang dan Agewell untuk Meningkatkan Layanan Kesehatan dan Kualitas Hidup Lanjut Usia

    Kemitraan Strategis Siloam Hospitals Mampang dan Agewell untuk Meningkatkan Layanan Kesehatan dan Kualitas Hidup Lanjut Usia

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 28
    • 0Komentar

    JAKARTA, 15 Mei 2026 – Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjalani masa lanjut usia yang berkualitas, kebutuhan akan layanan kesehatan yang terintegrasi bagi lansia terus berkembang. Menjawab kebutuhan tersebut, Siloam Hospitals Mampang, sebagai salah satu rumah sakit dalam jaringan Siloam International Hospitals yang berfokus pada pelayanan orthopaedi komprehensif di Indonesia yang berlokasi di Jakarta […]

  • Prospek Perusahaan Tambang Semester 2, Peluang MIND ID Grup

    Prospek Perusahaan Tambang Semester 2, Peluang MIND ID Grup

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA – Perhatian investor tertuju kepada perusahaan tambang di bawah naungan Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dalam menjaga pertumbuhan, arus kas, serta margin keuntungan di tengah kondisi pasar yang lebih menantang pada Semester II/2026. Hal ini sejalan pembukuan kinerja positif emiten tambang di bawah naungan MIND ID Group sepanjang semester I-2026, di tengah dinamika […]

  • Dukung Kenyamanan Perjalanan di Trans Jawa, JTT Optimalkan Layanan Rest Area di Sejumlah Ruas Strategis

    Dukung Kenyamanan Perjalanan di Trans Jawa, JTT Optimalkan Layanan Rest Area di Sejumlah Ruas Strategis

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 32
    • 0Komentar

    PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) terus mengoptimalkan layanan Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) / Rest Area di sepanjang Jalan Tol Trans Jawa sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung perjalanan yang aman, nyaman, dan lancar bagi masyarakat. JTT telah memastikan kesiapan layanan pada 42 rest area yang tersebar di sejumlah ruas strategis Jalan Tol Trans […]

  • Bea Cukai Indonesia Semakin Digital. Mampukah Sistem Bisnis Mengimbanginya?

    Bea Cukai Indonesia Semakin Digital. Mampukah Sistem Bisnis Mengimbanginya?

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 8
    • 0Komentar

    Indonesia tengah mempercepat digitalisasi ekosistem kepabeanan dan perdagangan. Namun, perkembangan sistem pemerintah belum selalu diikuti oleh kesiapan sistem bisnis untuk terhubung dan beradaptasi. Dengan berbagai platform pemerintah yang memiliki fungsi dan persyaratan berbeda, pelaku usaha masih menghadapi tantangan seperti input data manual, duplikasi informasi, rekonsiliasi data, serta kompleksitas integrasi teknis. Artikel ini membahas tantangan struktural […]

  • Cara Buat QRIS neobank untuk Usaha Rumahan, Praktis Terima Pembayaran Digital

    Cara Buat QRIS neobank untuk Usaha Rumahan, Praktis Terima Pembayaran Digital

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Cara buat QRIS neobank untuk usaha rumahan kini semakin mudah karena proses pendaftaran dilakukan secara digital dan dirancang untuk membantu pelaku usaha menerima pembayaran non-tunai melalui satu kode QR.  Dengan menggunakan QRIS neobank, pelaku UMKM dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi pembayaran yang mendukung standar QRIS, sehingga transaksi menjadi lebih praktis dan efisien. Seiring meningkatnya […]

expand_less