Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Memajukan Masa Depan AI yang Inklusif bagi Global South

Memajukan Masa Depan AI yang Inklusif bagi Global South

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
  • visibility 58
  • comment 0 komentar

Oleh Sandeep Chakravorty
Duta Besar India untuk Indonesia

JAKARTA — India akan menjadi tuan rumah Global AI Impact Summit 2026 di New Delhi pada 16–20 Februari 2026. KTT ini akan mempertemukan lebih dari 100 negara dan organisasi internasional, dengan tujuh kelompok kerja khusus, atau “Chakras,” yang diketuai bersama oleh India dan dua negara lainnya, untuk merumuskan hasil yang relevan bagi Global North maupun Global South.

Melalui sidang pleno para pemimpin, forum diskusi CEO, tantangan inovasi pemuda, serta simposium riset berdampak tinggi, tujuan KTT ini adalah membangun visi bersama bahwa masa depan kecerdasan buatan harus bersifat inklusif, transparan, dan dikelola melalui tata kelola kolaboratif. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong dampak nyata dan dapat ditingkatkan skalanya dalam berbagai bidang, mulai dari prediksi pandemi hingga efisiensi pertanian, pemantauan iklim, serta peningkatan keterampilan digital bagi komunitas yang kurang terlayani.

Indonesia memainkan peran aktif dalam membentuk hasil nyata dari KTT ini, yang dapat berkontribusi pada pengembangan solusi berbasis AI yang berpusat pada manusia dan berlandaskan etika. Dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia, bersama Belanda, telah memberikan kontribusi signifikan dalam Kelompok Kerja “AI untuk Pertumbuhan Ekonomi dan Kebaikan Sosial.” Mengingat banyaknya kesamaan pendekatan India dan Indonesia dalam membangun ekosistem AI yang human-centric, partisipasi aktif Indonesia, baik dalam proses pembentukan hasil KTT maupun dalam pelaksanaan KTT itu sendiri, akan memberikan manfaat besar bagi Global South secara keseluruhan.

Strategi AI Nasional Indonesia (Stranas KA), sejalan dengan visi AI yang berpusat pada manusia dan beretika. Visi jangka panjang menuju tahun 2045 menekankan pengembangan talenta serta penerapan AI secara terarah di sektor-sektor prioritas seperti kesehatan, pertanian, dan layanan publik. Hal ini menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam menerjemahkan inovasi menjadi nilai sosial yang nyata. Pengalaman Indonesia dalam membangun “Sahabat,” sebuah ekosistem model bahasa besar (Large Language Model/LLM) yang dirancang untuk beroperasi dalam Bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah lainnya, merupakan upaya pionir yang patut dibagikan untuk direplikasi secara global.

Indonesia juga melakukan investasi penting dalam kapasitas GPU (graphics processing unit) serta pusat data. Berdasarkan Stanford AI Index Report 2025 dan sumber lainnya, Indonesia termasuk dalam 10 negara teratas dalam pertumbuhan talenta AI, dengan peningkatan konsentrasi talenta AI hampir 200 persen antara tahun 2016 hingga 2024. Hal yang menggembirakan adalah Indonesia termasuk negara paling optimistis di dunia terhadap AI, dengan 80 persen penduduk memandang AI sebagai sesuatu yang bermanfaat. Indonesia juga diakui sebagai pemimpin regional di Asia Tenggara dalam hal adopsi AI.

Pendekatan India terhadap AI tidak terbatas pada kemajuan teknis dan keuntungan ekonomi semata. India menargetkan dampak sosial-ekonomi yang nyata, dengan memanfaatkan AI untuk meningkatkan layanan kesehatan, mengoptimalkan pertanian, mentransformasi pendidikan, serta memperkuat ketahanan iklim. Ambisi India adalah memberdayakan setiap warga negara dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan serta inklusif, khususnya bagi Global South. Laporan Stanford menempatkan India pada posisi ketiga secara global dalam hal daya saing AI. Peringkat ini menyoroti pertumbuhan pesat India dalam lanskap AI global. Laporan tersebut mengukur pertumbuhan dan inovasi AI dari tahun 2017 hingga 2024, yang mencerminkan meningkatnya talenta AI India, kapabilitas riset yang kuat, ekosistem startup yang dinamis, investasi dan dampak ekonomi, infrastruktur, serta kebijakan dan tata kelola.

Berlandaskan visi “Making AI in India and Making AI Work for India,” India meluncurkan IndiaAI Mission pada Maret 2024, dengan alokasi anggaran sekitar US$100 miliar selama lima tahun. Misi ini menjadi langkah penting dalam menjadikan India pemimpin global dalam kecerdasan buatan.

Sejak diluncurkan, misi ini telah menunjukkan kemajuan besar dalam memperluas infrastruktur komputasi nasional. Dari target awal 10.000 GPU, India kini telah mencapai 38.000 GPU, sehingga menyediakan akses terjangkau terhadap sumber daya AI berkelas dunia. GPU tersebut tersedia bagi para pengembang aplikasi dengan tarif bersubsidi, yaitu kurang dari satu dolar per jam. Salah satu pilar IndiaAI Mission, yaitu “AIKosh,” mengembangkan kumpulan data besar untuk melatih model AI. Platform ini mengintegrasikan data dari sumber pemerintah maupun nonpemerintah. AIKosh memiliki lebih dari 5.500 dataset serta 251 model AI dan teknologi bahasa yang mencakup 20 sektor. Melalui inisiatif seperti BHASHINI dan BharatGen, India mendemokratisasi akses terhadap alat AI multibahasa.

India dan Indonesia memiliki pendekatan bersama terhadap AI yang inklusif, yang didasarkan pada keyakinan kuat bahwa teknologi harus meningkatkan kualitas hidup dan memperluas peluang. AI tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai penggerak pembangunan yang sejalan dengan visi Viksit Bharat atau India Maju 2047 dan Indonesia Emas 2045. Dengan skala besar, demografi muda, serta ekosistem inovasi yang terus berkembang, kedua negara berada pada posisi yang kuat untuk menjadi pemimpin regional dalam AI yang bertanggung jawab.

Kedua negara kita juga menyadari bahwa keberagaman dan keseimbangan gender dalam ekosistem AI bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Bias dalam data akan menghasilkan bias dalam hasil. Inklusi dalam desain menentukan inklusi dalam dampak. Hal ini juga memperkuat alasan untuk mengembangkan bersama model AI multibahasa serta sumber daya bahasa yang dikembangkan secara lokal guna mengurangi bias data dan memastikan relevansi kontekstual bagi masyarakat Global South.

Patut dicatat bahwa Stranas KA dan kerangka etika AI Indonesia menekankan kepercayaan, transparansi, pengembangan talenta, serta akuntabilitas dalam mengintegrasikan AI ke sektor-sektor prioritas nasional. Berdasarkan Indeks Kesiapan AI IMF, muncul alasan kuat bagi terbentuknya aliansi AI antara India dan Indonesia, karena skor masing-masing negara menunjukkan “kekuatan” institusional yang saling melengkapi.

Kekuatan India terletak pada skala, keterampilan STEM, Digital Public Infrastructure (DPI, India Stack), riset dan pengembangan (volume paten AI yang tinggi), perusahaan teknologi besar, serta investasi asing yang signifikan di sektor ini. Sementara itu, Indonesia memiliki skor yang kuat dalam kesiapan infrastruktur, regulasi dan etika, serta konektivitas telekomunikasi.

Dengan menyelaraskan kerangka regulasi dan kebijakan, dua raksasa Asia ini dapat mencegah Global South menjadi “lahan uji coba” bagi model bisnis pihak lain yang bersifat oportunistik, sekaligus menetapkan standar yang adil dan berpusat pada manusia sesuai semangat “AI untuk Semua.” Bidang kerja sama lain yang layak dipertimbangkan adalah investasi kolaboratif serta pengembangan bersama pusat data dan kapasitas pemrosesan, yang juga dapat berguna secara strategis. Isu-isu tersebut menjadi inti pembahasan dalam acara pra-KTT Global AI Impact Summit yang diselenggarakan di Jakarta. Diskusi tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada langkah-langkah konkret untuk membangun ekosistem AI yang inklusif dan berkelanjutan menjelang Global AI Impact Summit 2026.

Bagi negara seperti India dan Indonesia, pertanyaan seputar AI bukanlah hal yang abstrak atau jauh. Isu ini bersifat segera, berdampak besar, dan sangat terkait dengan jalur pembangunan nasional. Dengan populasi yang besar dan beragam, sistem pemerintahan demokratis, keragaman bahasa, serta prioritas pembangunan yang masih terus berkembang, pilihan yang kita ambil terkait AI akan membentuk tidak hanya hasil nasional tetapi juga norma global tentang bagaimana AI dikelola, diterapkan, dan dialami.

Sebagaimana disampaikan oleh Wakil Menteri Nezar Patria dalam acara pra-KTT, kemitraan antara Indonesia dan India dapat menghadirkan peluang besar bagi pengembangan kecerdasan buatan yang berorientasi pada kepentingan Global South secara lebih luas, serta membentuk wacana masa depannya melalui pendekatan yang berpusat pada manusia.

Secara keseluruhan, diskusi pra-KTT menegaskan perlunya pergeseran dari strategi menuju implementasi, dengan kerja sama Selatan–Selatan muncul sebagai jalur utama menuju AI yang inklusif dan akuntabel. Hanya melalui aksi kolektif kesenjangan AI dapat dijembatani. India tetap berkomitmen kuat untuk memajukan AI yang inklusif dan dapat ditingkatkan skalanya, serta siap bermitra dan menciptakan solusi bersama.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tips Memilih Jaringan Wifi di Kota Dumai yang Cepat dan Stabil untuk Rumah

    Tips Memilih Jaringan Wifi di Kota Dumai yang Cepat dan Stabil untuk Rumah

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Jakarta, 26 Februari 2026 – Kebutuhan Wifi di Kota Dumai makin terasa penting. Internet bukan lagi sekadar untuk hiburan. Di banyak rumah, koneksi dipakai untuk bekerja, belajar, streaming, sampai transaksi online. Saat semua aktif bersamaan, koneksi yang kurang stabil langsung terasa. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau APJII 2024 menunjukkan penetrasi internet nasional sudah […]

  • Lintasarta Dorong Keamanan Siber sebagai Strategi Inti Ketahanan Perbankan di Era Digital melalui CxO Forum 2026

    Lintasarta Dorong Keamanan Siber sebagai Strategi Inti Ketahanan Perbankan di Era Digital melalui CxO Forum 2026

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Lintasarta bersama Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) menyelenggarakan CxO Forum Banking Update 2026 pada Rabu (13/5) di Jakarta. Mengangkat tema “Memperkokoh Keamanan Siber Perbankan: Dari Strategi Investasi Hingga Ketahanan  Operasional di Era Digital”, forum ini menjadi wadah strategis bagi pimpinan perbankan, regulator, dan pelaku industri nasional.  untuk membahas penguatan keamanan digital ditengah percepatan adopsi kecerdasan artifisial […]

  • Apa Itu AVO? Ini Konsep di Balik Cara Brand Direkomendasikan AI

    Apa Itu AVO? Ini Konsep di Balik Cara Brand Direkomendasikan AI

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Di era digital saat ini, cara orang mencari informasi mulai bergeser. Jika dulu pengguna mengetik kata kunci di mesin pencari dan memilih sendiri dari daftar link yang muncul, kini semakin banyak orang bertanya langsung ke asisten AI seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude dan menerima satu jawaban yang sudah disaring. Pergeseran ini memunculkan kebutuhan akan strategi […]

  • FLOQ Catat 1,8 Juta Pengguna, Perkuat Ekosistem Keuangan On-Chain Bersama AWS

    FLOQ Catat 1,8 Juta Pengguna, Perkuat Ekosistem Keuangan On-Chain Bersama AWS

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Jakarta, 7 Agustus 2026 — Pertumbuhan jumlah investor kripto dan perkembangan teknologi blockchain membuka peluang baru bagi transformasi aset digital di Indonesia. Founder dan CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis,menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aset kripto telah berkembang menjadi bagian dari industri jasa keuangan yang lebih luas.  Dalam presentasinya di AWS Summit Jakarta 2026, Yudhono menyampaikan bahwa Indonesia saat ini memiliki lebih dari 20 juta investor aset kripto. Nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang 2025 juga telahmencapai lebih dari Rp400 triliun, sementara sekitar satu dari 14 penduduk Indonesia tercatat telah berinvestasi pada aset kripto.  “Ini bukan lagi hanya cerita tentang kripto. Ini sudah menjadi cerita tentang industri jasa keuangan,” ujar Yudho dalam presentasinya di AWS Summit Jakarta 2026 dapa Kamis, 6 Agustus 2026.  Menurut Yudho, tingkat penetrasi aset kripto di Indonesia yang masih berada di kisaran 7% menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan industri masih terbuka lebar. Peluang tersebut juga semakin besar seiringberkembangnya stablecoin, tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA), serta integrasi kecerdasan buatan dengan sistem keuangan berbasis blockchain.  Secara global, nilai transaksi stablecoin disebut telah mencapai sekitar US$33 triliun sepanjang 2025, tumbuh 72% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai aset dunia nyata yang telah ditokenisasi dan ditempatkan secara on-chain telah melampaui US$35 miliar.  Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi blockchain tidak lagi terbatas pada perdagangan aset kripto. Infrastruktur on-chain mulai digunakan untuk pembayaran, tokenisasi surat berharga, dana investasi, komoditas, deposito, hingga pengembangan sistem keuangan yang dapat diprogram.  “Pertanyaannya bagi Indonesia bukan lagi apakah layanan keuangan akan bergerak secara on-chain, tetapi siapa yang akan membangun jembatan menuju ekosistem tersebut,” kata Yudho.  Pertumbuhan FLOQ  Di tengah pertumbuhan industri tersebut, FLOQ mencatat perkembangan bisnis yang signifikan sejak proses pembangunan platform dimulai pada Januari 2025. Perusahaan kemudian meluncurkan platformnya pada Mei 2025 atau sekitar empat bulan setelah proses pengembangan dimulai.  Pada hari peluncuran, platform FLOQ menerima lebih dari 600.000 trafik secara bersamaan. FLOQ juga menjadi aplikasi dengan jumlah unduhan tertinggi di Indonesia pada […]

  • Keterampilan Abad 21 bagi Mahasiswa: Bekal Penting untuk Masa Depan Karier

    Keterampilan Abad 21 bagi Mahasiswa: Bekal Penting untuk Masa Depan Karier

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Di era transformasi digital, perubahan dunia kerja berlangsung semakin cepat. Perusahaan tidak lagi hanya mencari lulusan dengan nilai akademik yang tinggi, tetapi juga individu yang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu beradaptasi, berkolaborasi, serta memanfaatkan teknologi secara efektif. Inilah yang dikenal sebagai Keterampilan Abad 21 (21st Century Skills). Bagi mahasiswa, keterampilan ini menjadi bekal utama untuk […]

  • Centang Biru WhatsApp Barantum Bantu Tingkatkan Kepercayaan

    Centang Biru WhatsApp Barantum Bantu Tingkatkan Kepercayaan

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Barantum menyatukan CRM, AI Agent, Omnichannel dan WhatsApp Business API dalam satu dashboard, memudahkan bisnis mengelola semua percakapan pelanggan, meningkatkan efisiensi, serta mempercepat respon. Hasilnya, kepuasan pelanggan meningkat dan penjualan bisnis lebih optimal. WhatsApp kini menjadi salah satu channel utama komunikasi bisnis dengan pelanggan. Namun di tengah maraknya akun palsu dan penipuan digital, banyak customer […]

expand_less