Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Ketika Mantan PETI Bersama-sama Membangun Pongkor

Ketika Mantan PETI Bersama-sama Membangun Pongkor

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
  • visibility 57
  • comment 0 komentar

Bogor – Penambang Tanpa Izin (PETI) menjadi permasalahan di banyak wilayah tambang, praktik penambangan ilegal yang tidak hanya menimbulkan keresahan lingkungan dan sosial, tetapi tak jarang membahayakan nyawa. Tak terkecuali di wilayah Pongkor, Kabupaten Bogor, isu PETI bergulir sejak lama.

Namun, seiring waktu, kesadaran baru tumbuh. Tidak sedikit mantan PETI yang mulai menyadari banyaknya sisiko yang muncul dari pekerjaan yang dilakukan. Di berbagai sudut desa sekitar Pongkor, muncul kegelisahan yang sama, keinginan untuk menemukan penghidupan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, menjadi salah satu cermin perubahan tersebut. Kawasan yang berada dalam bentang Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini pernah menghadapi tekanan sosial ekonomi yang kuat.

Sebagian warga kala itu menggantungkan hidup pada aktivitas yang beririsan dengan pembalakan liar dan penambangan ilegal. Hutan menjadi ruang yang rentan, sementara masyarakat berada dalam situasi yang serba terbatas.

Di tengah situasi itulah Hendrik mulai bergerak dengan niat untuk kembali membangun desa agar kembali memberikan manfaat bagi masyarakatnya.

“Di Pongkor dulu isu penambang liar itu seperti hal yang biasa terdengar. Banyak orang melihatnya sebagai pilihan hidup, tapi semakin dijalani, saya merasa itu bukan sesuatu yang baik untuk jangka panjang. Risiko besar, hasil tidak pasti, hidup juga penuh rasa khawatir,” ujar Hendrik.

Kesadaran itu menjadi titik balik. Bersama masyarakat, Hendrik terlibat dalam penguatan Kelompok Model Kampung Konservasi Cisangku, sebuah ruang kolektif yang perlahan menggeser orientasi dari eksploitasi menuju pelestarian. Perubahan tersebut kemudian menemukan momentumnya melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Antam (Persero) Tbk UBPE Pongkor.

Melalui Program Pepeling Cisangku, masyarakat diperkenalkan pada alternatif mata pencaharian yang bertumpu pada konservasi dan pemulihan lingkungan. Persemaian bibit tanaman endemik, pengembangan pupuk bokashi, hingga inovasi pupuk hayati mikoriza menjadi bagian dari ekosistem baru yang dibangun bersama.

Lahan yang dahulu menyimpan jejak aktivitas PETI kini menampilkan pemandangan berbeda. Bibit-bibit tanaman tumbuh teratur dalam polybag. Aktivitas yang berjalan bukan lagi menggali, melainkan menanam. Bagi masyarakat, perubahan itu menghadirkan stabilitas baru sekaligus rasa aman yang sebelumnya jarang dirasakan.

“Sekarang kami belajar melihat alam dengan cara yang berbeda. Dulu mungkin orang berpikir bagaimana mengambil dari hutan. Sekarang kami justru merawat dan menanam. Ada rasa bangga ketika melihat pohon tumbuh di tempat yang dulu rusak.” lanjut Hendrik.

Transformasi di Cisangku tidak hanya mengubah lanskap fisik, tetapi juga struktur sosial dan ekonomi warga. Kegiatan produktif melibatkan lebih banyak elemen masyarakat, dari kelompok ibu ibu hingga pemuda desa. Potensi alam berkembang menjadi ruang eduekowisata, sementara aktivitas konservasi menciptakan sumber penghidupan alternatif yang lebih stabil.

Cerita perubahan di Pongkor tidak berhenti di Cisangku. Di desa lain yang masih berada dalam bentang wilayah yang sama, kisah serupa tumbuh dengan warna berbeda.

Sudin, yang lebih dikenal sebagai Kang Gemer, adalah salah satu di antaranya. Lahir dan besar di Kampung Parigi, Desa Cisarua, Kang Gemer pernah menjalani kehidupan sebagai gurandil dalam kurun waktu yang panjang. Selama bertahun tahun, aktivitas PETI menjadi bagian dari realitas hidupnya. Namun perjalanan waktu membawa refleksi yang tak terhindarkan.

“Dulu saya berpikir yang penting bisa bekerja dan ada penghasilan, Tapi lama lama terasa, pekerjaan itu penuh risiko. Bukan cuma soal keselamatan, tapi juga kesehatan dan keluarga. Ada rasa khawatir yang terus mengikuti.” ujar Kang Gemer.

Keputusan untuk beralih profesi menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Melalui Program Sistem Pengembangan Usaha dan Perlindungan Lingkungan Cisarua atau Sundung Cisarua yang dijalankan Antam UBPE Pongkor, Kang Gemer mulai mengenal dunia yang sepenuhnya berbeda: peternakan.

Dari serangkaian pelatihan dan pendampingan, ia menapaki usaha budidaya domba. Aktivitas yang awalnya asing perlahan menjadi sumber penghidupan yang stabil sekaligus ruang pembelajaran baru.

“Beternak domba memberi saya rasa yang berbeda, Ada kepastian yang dulu tidak saya rasakan. Kami bisa merencanakan, bisa mengembangkan. Hidup terasa lebih tenang.” Lanjut Kang Gemer.

Seiring waktu, peran Kang Gemer berkembang melampaui dirinya sendiri. Ia dikenal sebagai mantri domba, aktif berbagi pengetahuan kepada warga dan bahkan menjadi narasumber di berbagai kegiatan pelatihan. Kisahnya menjadi contoh nyata bagaimana perubahan individu dapat memicu perubahan sosial yang lebih luas.

Baik di Cisangku maupun Cisarua, benang merahnya serupa. Kesadaran, ketika bertemu dengan kesempatan dan dukungan yang tepat, mampu menggeser arah hidup. Dari aktivitas berisiko tinggi menuju penghidupan yang lebih aman, dari eksploitasi menuju keberlanjutan.

Sekretaris Perusahaan Antam, Wisnu Danandi Haryanto menyebutkan, upaya pengelolaan lingkungan di sekitar wilayah operasi menjadi tanggung jawab dan bagian yang integral dari bisnis Antam. Di Pongkor, Antam bersama masyarakat bersinergi untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dan kemandirian masyarakat melalui berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Pelibatan para mantan PETI menjadi bagian dari upaya perusahaan tambang tersebut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya menjaga lingkungan dan memingkatkan perekonomian melalui cara yang harmonis dengan alam.

“Melalui berbagai program inovasi sosial yang dilakukan UBPE Pongkor, kami bersama masyarakat termasuk para mantan PETI berjalan bersama untuk membangun Pongkor menjadi desa yang mandiri dan hijau,” kata Wisnu.

Wisnu menegaskan, komitmen para mantan PETI dalam membangun Pongkor sangatlah penting karena alam yang ada saat ini bukan hanya untuk generasi saat ini, tetapi perlu dilestarikan demi generasi yang akan datang.

“Kami sangat bersyukur tidak sedikit mantan PETI yang sudah bergerak bersama untuk membangun Pongkor. Kami berkomitmen untuk terus bersama-sama memajukan perekonomian wilayah sejalan dengan pengelolaan lingkungan yang baik demi masa depan yang lebih baik,” tutup Wisnu.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • KANTEEN & CO. Hadirkan Pengalaman Social Dining yang Interaktif dan Penuh Aktivitas Melalui Acara “Rediscover KANTEEN & CO.”

    KANTEEN & CO. Hadirkan Pengalaman Social Dining yang Interaktif dan Penuh Aktivitas Melalui Acara “Rediscover KANTEEN & CO.”

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Jakarta, 8 Mei 2026 – KANTEEN & CO. menggelar acara “Rediscover KANTEEN & CO.”, sebuah gathering yang memperkenalkan konsep baru restoran sebagai destinasi social dining di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Bertempat di KANTEEN & CO., acara ini menghadirkan pengalaman bersantap yang menggabungkan hiburan interaktif, permainan kelompok, serta live music dalam suasana yang hangat dan dinamis. […]

  • Insentif Tetap Jalan, Pembiayaan Kendaraan Listrik  BRI Finance Tumbuh Positif

    Insentif Tetap Jalan, Pembiayaan Kendaraan Listrik BRI Finance Tumbuh Positif

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Jakarta, 18 Mei 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) menyambut positif kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang membebaskan pajak kendaraan listrik. Kebijakan ini dinilai dapat menjadi dorongan baru bagi masyarakat untuk beralih ke kendaraan ramah lingkungan, sekaligus membuka peluang pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik di industri multifinance. Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, […]

  • “Aku Tidak Sabar untuk Pergi ke Sekolah Besok…”

    “Aku Tidak Sabar untuk Pergi ke Sekolah Besok…”

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi banyak orang tua, artinya besar sekali. Tidak semua anak bangun pagi dengan semangat untuk berangkat ke sekolah. Ada yang harus dibujuk, ada yang merasa cemas, bahkan ada yang merasa tidak nyaman. Bagi mereka, sekolah hanya sekadar tempat belajar—bukan tempat yang terasa menyenangkan. Sekarang bayangkan kalau seorang anak berkata […]

  • Ketegangan Amerika-Iran Kembali Memanas, Bittime Soroti Pentingnya Diversifikasi Aset Investasi

    Ketegangan Amerika-Iran Kembali Memanas, Bittime Soroti Pentingnya Diversifikasi Aset Investasi

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Jakarta, 21 April 2026 – Situasi keamanan global saat ini tengah berada di ambang ketidakpastian yang tinggi seiring dengan mendekatnya batas waktu berakhirnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berakhir pada Rabu, 22 April 2026. Memandang ini, Bittime tekankan pentingnya diversifikasi aset investasi terhadap instrumen lindung nilai di tengah gejolak volatilitas pasar. […]

  • Membawa Kehangatan ke Kota Pahlawan,  Scandia Hadir di PRJ Surabaya 2026

    Membawa Kehangatan ke Kota Pahlawan, Scandia Hadir di PRJ Surabaya 2026

    • calendar_month 19 jam yang lalu
    • account_circle vritimes
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Surabaya, 18 Oktober 2026 – Scandia, brand furnitur dan home living, menandai langkah baru dengan kembali hadir di Surabaya melalui partisipasinya dalam PRJ Surabaya 2026. Berlangsung pada 8–18 Oktober 2026 di Grand City Convex, Hall 1 No. 46, kehadiran Scandia menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lebih dekat koleksi furnitur yang mengutamakan kenyamanan, fungsionalitas, dan desain modern […]

  • Gubernur Lemhannas RI: Kesadaran Geopolitik, Bukan Sekadar Milik Diplomat Saja

    Gubernur Lemhannas RI: Kesadaran Geopolitik, Bukan Sekadar Milik Diplomat Saja

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Bandung — Kesadaran geopolitik bukan hanya milik diplomat atau pemimpin negara, tetapi kompetensi yang perlu dimiliki oleh setiap warga negara, terutama generasi muda. Pesan itu disampaikan oleh Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., kepada para mahasiswa saat memberikan Kuliah Umum bertema “Membangun Kesadaran Geopolitik Generasi Muda: Memahami […]

expand_less