Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Potensi Tekan Impor 75%, Reformasi Subsidi DME Jadi Kunci Keberhasilan

Potensi Tekan Impor 75%, Reformasi Subsidi DME Jadi Kunci Keberhasilan

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
  • visibility 30
  • comment 0 komentar

Jakarta – Arsitektur subsidi energi nasional kini berada di persimpangan jalan. Ketergantungan terhadap LPG impor yang kian masif tidak hanya membebani devisa, tetapi juga membuat belanja subsidi dalam APBN menjadi tidak optimal karena lebih banyak digunakan untuk menopang komoditas impor ketimbang menggerakkan sumber daya domestik.

Melansir Laporan Kinerja Ditjen Migas Kementerian ESDM tahun 2025, ketergantungan Indonesia terhadap gas impor terus memburuk dalam lima tahun terakhir.

Porsi impor LPG kini telah mendominasi lebih dari 75% konsumsi nasional. Pada 2021, dari konsumsi 8,36 juta ton, impor mencapai 6,34 juta ton. Angka ini melonjak menjadi 7,49 juta ton impor pada 2025 dari total konsumsi 9,24 juta ton.

“Devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja itu sekitar Rp120 triliun sampai Rp150 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia naik, pasti lebih besar lagi,” ujar Bahlil saat ditemui usai pelantikan pejabat eselon II di Kementerian ESDM di Jakarta pekan ini.

Selain tekanan devisa, Bahlil juga menyoroti beban subsidi LPG di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang terus merangkak.

Kementerian Keuangan mencatat belanja subsidi LPG mencapai Rp67,6 triliun pada 2021, melonjak menjadi Rp100,4 triliun pada 2022, kemudian sebesar Rp74,3 triliun pada 2023, Rp80,9 triliun pada 2024, dan mencapai Rp87 triliun pada 2025.

”Tidak ada cara lain dalam rangka efisiensi selain mencari jalan agar bahan baku yang tersedia di dalam negeri bisa dikonversi untuk mengganti LPG,” imbuh Bahlil.

Salah satu strategi yang digenjot guna menutup gap besar impor LPG ialah melalui hilirisasi batu bara kalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) yang dikembangkan oleh MIND ID, Pertamina, Bukit Asam, dan Pertamina Patra Niaga. Proyek ini telah diresmikan Percepatan Pengembangan Coal to DME oleh Presiden Prabowo dalam Rangkaian Groundbreaking Proyek Hilirisasi Ke-2 di akhir April 2026.

Sejumlah akademisi dan pengamat memberi catatan kritis atas grounbreaking proyek tersebut. Pengamat energi sekaligus Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Iwa Garniwa menilai keberhasilan DME sebagai substitusi LPG tidak hanya bergantung pada pembangunan pabrik, tapi juga butuh dukungan dari sisi insentif fiskal dan konsistensi kebijakan.

DME kata Iwa perlu disokong oleh kepastian harga batu bara dan stimulus kebijakan berupa subsidi agar harga jualnya lebih terjangkau diterima masyarakat.

”DME sangat sensitif terhadap harga batu bara dan capex gasifikasi itu tinggi. Jika harga batu bara di atas US$60 per ton, DME tidak kompetitif tanpa subsidi,’’ ujar Iwa.

Dalam hal ini, Iwa mendorong dilakukannya reformasi subsidi energi secara bertahap dari komoditas ke individu melalui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Tanpa reformasi ini, insentif untuk beralih ke jaringan gas (jargas), listrik, atau DME menjadi lemah.

Selain itu, pemerintah diminta mengembangkan indikator kinerja proyek ini. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah pabrik DME, melainkan dari penurunan volume impor LPG, penghematan subsidi, dan penurunan intensitas emisi per kapita.

”Diversifikasi energi rumah tangga adalah isu multidimensi yang menyangkut fiskal, ketahanan energi, lingkungan, dan keadilan sosial. Keberhasilannya bergantung pada konsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan dan kemampuan mengelola transisi secara berkeadilan,” jelas Iwa saat dihubungi. 

Tak hanya itu, pemerintah juga perlu menyusun peta jalan diversifikasi energi rumah tangga berdasarkan karakteristik wilayah.

Misalnya, pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) di kota besar yang dekat dengan jaringan transmisi gas, penggunaan kompor listrik di daerah dengan surplus daya listrik, serta pemanfaatan DME di wilayah non-pipa seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan.

Dengan skema tersebut, potensi substitusi LPG diperkirakan dapat mencapai 4,5 juta ton hingga 6,5 juta ton per tahun atau setara 55%-75% dari volume impor LPG saat ini.

Selain dukungan kebijakan, Pengamat Energi Migas Hadi Ismoyo juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan infrastruktur DME.

”Infrastruktur kompor DME sudah ada di Lemigas. Tidak masalah. Tinggal membuat pabrik skala besar. Danantara bisa kolaborasi dengan Pertamina yang sudah punya jaringan distribusi yang matang dan terukur,” ungkap Hadi.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Besi UNP untuk Gudang: Salah Ukuran Bisa Berisiko Besar

    Besi UNP untuk Gudang: Salah Ukuran Bisa Berisiko Besar

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Membangun gudang bukan sekadar mendirikan bangunan beratap luas. Di dalamnya ada beban barang, pergerakan forklift, getaran, bahkan potensi penambahan rak atau mezzanine di masa depan. Di sinilah Besi UNP sering digunakan sebagai balok anak, rangka sekunder, hingga struktur pendukung atap. Masalahnya, banyak proyek memilih ukuran UNP hanya berdasarkan harga bukan berdasarkan kebutuhan struktur. Dan ketika […]

  • Estimasi Waktu Produksi dan Pengiriman Banner di Supplier X Banner

    Estimasi Waktu Produksi dan Pengiriman Banner di Supplier X Banner

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Rincian waktu produksi menurut jenis banner dan bahan Di bagian ini kita ulas estimasi waktu produksi yang realistis berdasarkan jenis banner dan material yang umum digunakan. Angka berikut dibuat untuk pesanan standar tanpa permintaan desain khusus atau approval berulang. – PVC flex 440 gsm Produksi cetak untuk satu unit biasanya selesai dalam satu hingga dua […]

  • Dukung Infrastruktur Dasar Masyarakat, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I Regional 5 Terangi 101 Rumah Warga di Jember

    Dukung Infrastruktur Dasar Masyarakat, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I Regional 5 Terangi 101 Rumah Warga di Jember

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 12
    • 0Komentar

    JEMBER – Sebanyak 101 rumah warga Desa Curah Nongko, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mulai menikmati aliran listrik PLN sejak Jumat (9/5/2026). Penyambungan listrik baru tersebut mengakhiri penantian panjang warga yang mayoritas merupakan pekerja PTPN I Regional 5 Afdeling Trate, Kebun Kalisanen Kotta Blater. Program ini menjadi bagian dari komitmen PTPN I, Subholding Perkebunan […]

  • Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Terima Kunjungan Duke Corporate Education

    Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Terima Kunjungan Duke Corporate Education

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Bogor – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), entitas dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menerima kunjungan delegasi Duke Corporate Education (Duke CE) dalam rangka company visit yang bertujuan memperkuat kolaborasi di bidang pengembangan kepemimpinan, inovasi, serta implementasi praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) pada sektor perkebunan. Kunjungan ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan transformasi […]

  • Tips Cerdas Memilih Pipa Sesuai Kebutuhan Rumah dan Proyek Industri

    Tips Cerdas Memilih Pipa Sesuai Kebutuhan Rumah dan Proyek Industri

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle editor News
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Memilih pipa yang tepat sangat penting untuk menjaga keamanan, efisiensi, dan daya tahan instalasi rumah maupun proyek industri, karena setiap jenis pipa seperti galvanis, hitam, seamless, hingga stainless steel 201 dan 304 memiliki fungsi, ketahanan, serta kegunaan yang berbeda sesuai tekanan dan lingkungan pemakaian; oleh karena itu, pemilihan harus disesuaikan dengan kebutuhan sistem, ukuran, ketebalan, […]

  • Bitcoin Rebound dari Tekanan Akhir Juli, US.500 Jadi Ujian Berikutnya

    Bitcoin Rebound dari Tekanan Akhir Juli, US$66.500 Jadi Ujian Berikutnya

    • calendar_month 3 jam yang lalu
    • account_circle vritimes
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Jakarta, 9 Agustus 2026 — Pasar kripto mulai menunjukkan tanda pemulihan pada pekan pertama Agustus 2026. Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di kisaran US$64.400–US$64.500 pada 6 Agustus, naik sekitar 1,1–1,5% dalam tujuh hari setelah sebelumnya sempat turun menembus level US$64.000. Berdasarkan Market Outlook W1 Agustus 2026 FLOQ, Bitcoin bergerak dalam rentang US$62.241 hingga US$65.305 sepanjang sepekan […]

expand_less