Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Bank Sentral Didorong Perkuat Cadangan Emas, RI Punya 3.600 Ton

Bank Sentral Didorong Perkuat Cadangan Emas, RI Punya 3.600 Ton

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
  • visibility 23
  • comment 0 komentar

JAKARTA — Indonesia memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dan menempati posisi keempat dunia sebagai negara dengan cadangan terbesar. Namun, emas yang tercatat sebagai cadangan moneter Bank Indonesia (BI) baru mencapai 87,1 ton, atau sekitar 7,7% dari total cadangan.

Dengan kepemilikan tersebut, Indonesia berada di posisi ke-44 dunia dalam hal cadangan emas bank sentral. Angka tersebut terpaut jauh dari Amerika Serikat yang mencapai 8.133,5 ton, Jerman 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, dan China 2.346,4 ton.

Chairman Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mempertanyakan kecilnya porsi emas dalam cadangan BI, mengingat Indonesia memiliki kekayaan emas yang besar.

“Jadi pertanyaan kita kenapa Indonesia cuma sekian? Kenapa Bank Indonesia cuma sekian?” kata Irwandy dalam MINDialogue, Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Dia menyebut kepemilikan emas bank sentral RI juga masih di bawah sejumlah negara di kawasan. Singapura, misalnya, memiliki 194 ton, sedangkan Thailand mencapai 234 ton.

Menurut Irwandy, hal ini terjadi karena strategi BI selama ini lebih berorientasi pada cadangan valuta asing, terutama dolar Amerika Serikat. Aset tersebut dinilai lebih likuid sehingga dapat digunakan langsung ketika BI melakukan intervensi di pasar valuta asing.

“Rupanya strategi Bank Indonesia itu mudah-mudahan saya nggak salah, lebih berorientasi pada cadangan valuta asing. Dolar,” ujarnya.

Irwandy menyebut cadangan devisa nasional saat ini sekitar US$146 miliar atau setara dengan 5,5 bulan impor. Menurut dia, keterbatasan cadangan devisa nasional turut membatasi ruang untuk memperbesar kepemilikan emas.

“Yang persoalan kedua kenapa cuma 80 ton, keterbatasan total cadangan devisa nasional. Kita memang belum besar juga cadangan devisa nasionalnya,” kata Irwandy.

Lebih lanjut, Irwandy menilai strategi tersebut perlu dipertimbangkan kembali di tengah tren bank sentral dunia yang meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan.

Sejumlah negara, seperti China, Rusia, India, Turki, dan Polandia, terus menambah kepemilikan emas. Langkah tersebut antara lain didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar.

“Indonesia belum atau tidak mempunyai urgensi untuk melakukan diversifikasi dolar, padahal sekarang ini dedolarisasi sedang terjadi di dunia,” ujar Irwandy.

Karena itu, dia mengusulkan agar BI mulai menyerap sebagian produksi emas dalam negeri. Salah satu skema yang ditawarkan adalah pembelian sekitar 20 ton emas ketika produksi nasional mencapai 100 ton.

“Misalnya kalau kita produksi 100 ton ya, maka Bank Indonesia itu nambah 20 ton,” katanya.

Merujuk data Kemenko Perekonomian, Indonesia memiliki modal kuat untuk memperkuat ekosistem emas nasional.

Sebagai gambaran, di dalam Grup MIND ID PT Antam Tbk saat ini memiliki fasilitas pemurnian (refinery) berkapasitas 150 ton per tahun. Selain itu, terdapat Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia yang mampu memurnikan emas hingga 50 ton per tahun.

Sementara dari sektor swasta, smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) mampu mengolah emas dengan kapasitas 18 ton per tahun.

Adapun, potensi produksi bijih juga didukung oleh sejumlah perusahaan tambang lainnya, seperti PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebesar 2,4–2,7 ton, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 2,9 ton, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) 2,6 ton, PT Agincourt Resources (PTAR) 5,9–6,8 ton, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 2,2 ton per tahun.

Besarnya kapasitas tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat ekosistem emas nasional, yang pada akhirnya potensial untuk memperkuat cadangan devisa bank sentral. Atas dasar itulah, pemerintah terus mendorong Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan cadangan emasnya, sehinga semakin memperkuat stabilitas moneter dan ekonomi nasional.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • KLTC® Tunjuk Saskia Ratry Arsiwie sebagai Komisaris Utama, Perkuat Fokus pada Pengembangan Keluarga dan SDM

    KLTC® Tunjuk Saskia Ratry Arsiwie sebagai Komisaris Utama, Perkuat Fokus pada Pengembangan Keluarga dan SDM

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 49
    • 0Komentar

    KLTC® resmi menunjuk Saskia Ratry Arsiwie sebagai Komisaris Utama untuk memperkuat fokus pengembangan SDM melalui pendekatan keluarga dan perkembangan anak. Dengan latar belakang sebagai konsultan ilmu keluarga & perkembangan anak, Saskia membawa perspektif bahwa kualitas individu dan kepemimpinan tidak terlepas dari fondasi yang dibangun sejak usia dini. Langkah ini menjadi bagian dari strategi KLTC® dalam […]

  • Musim Liburan Sekolah Sebentar Lagi, Sudah Siapkan Dananya?

    Musim Liburan Sekolah Sebentar Lagi, Sudah Siapkan Dananya?

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Menjelang pertengahan tahun, banyak keluarga mulai menantikan musim liburan sekolah. Momen ini sering dimanfaatkan untuk bepergian bersama keluarga, mengunjungi sanak saudara, mengikuti aktivitas anak, atau sekadar menikmati waktu berkualitas di luar rutinitas sehari hari. Meski menyenangkan, liburan sekolah juga sering menjadi salah satu periode dengan pengeluaran yang cukup besar. Mulai dari biaya transportasi, akomodasi, tiket […]

  • Rangkaian koleksi Ramadhan dari Mulia Box yang menawarkan berbagai pilihan desain orisinal untuk mempercantik hantaran Idul Fitri.

    Mulia Box Luncurkan Koleksi Ramadhan 2026: Solusi Kemasan Premium Low-MOQ untuk UMKM

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 66
    • 0Komentar

    JAKARTA, 3 Maret 2026 – Memasuki musim perayaan Ramadhan 1447 H, Mulia Box, produsen kemasan inovatif nasional, resmi meluncurkan koleksi khusus Ramadhan 2026. Menjawab tantangan logistik dan stok yang sering dialami pelaku UMKM, koleksi ini hadir dengan sistem Low Minimum Order Quantity (MOQ) yang memungkinkan pembelian dalam jumlah satuan dan berstatus ready stock. Koleksi tahun […]

  • Kukuhkan One Avrist Synergy, Avrist Group Perkuat Kolaborasi Empat Entitas untuk Hadirkan Solusi Keuangan Terintegrasi

    Kukuhkan One Avrist Synergy, Avrist Group Perkuat Kolaborasi Empat Entitas untuk Hadirkan Solusi Keuangan Terintegrasi

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Jakarta, 03 September 2026 — Avrist Group hari ini mengukuhkan One Avrist Synergy, inisiatif kolaborasi strategis yang menyatukan empat entitas dalam grup untuk menghadirkan solusi proteksi dan perencanaan finansial yang lebih komprehensif. Inisiatif ini mengusung pendekatan “One Avrist, One Solution” sebagai landasan sinergi antarentitas melalui layanan keuangan yang lebih terintegrasi. Pengukuhan ini dilaksanakan secara simbolis […]

  • Bitcoin Tembus US.000, Pasar Diuji Transisi The Fed dan Perpecahan FOMC

    Bitcoin Tembus US$80.000, Pasar Diuji Transisi The Fed dan Perpecahan FOMC

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 41
    • 0Komentar

    [Jakarta, 5 Mei 2026] – Pasar global memasuki fase transisi yang krusial. Dalam satu minggu terakhir, investor dihadapkan pada tiga perkembangan utama: pertemuan terakhir Federal Reserve di bawah kepemimpinan Jerome Powell, meningkatnya perpecahan internal dalam Federal Open Market Committee (FOMC), serta volatilitas tajam di pasar kripto pasca pengumuman kebijakan moneter.  Kombinasi ini menunjukkan bahwa pasar tidak sekadar bereaksi terhadap peristiwa jangka pendek, tetapi sedang menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan global, likuiditas, dan risk appetite ke depan.  The Fed Memasuki Era Transisi, Ketidakpastian Masih Mendominasi  Pada 29 April, Jerome Powell memimpin pertemuan FOMC terakhirnya sebagai Ketua The Fed. Suku bunga dipertahankan di kisaran 3,50%–3,75% untuk ketiga kalinya berturut-turut, menegaskan pendekatan data-dependent di tengah tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.  Di saat yang sama, Komite Perbankan Senat AS meloloskan nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya dengan selisih tipis. Jika disahkan dalam voting penuh Senat dalam waktu dekat, Warsh akan resmi menggantikan Powell pada pertengahan Mei, menandai salah satu transisi kepemimpinan paling penting bagi pasar keuangan global tahun ini.  Namun, sinyal yang lebih dalam justru datang dari dinamika internal FOMC. Empat anggota menyampaikan dissent dalam satu keputusan, fenomena yang jarang terjadi dan mencerminkan perbedaan pandangan yang semakin tajam terkait arah kebijakan moneter ke depan.  Situasi ini memperkuat narasi higher-for-longer. Selama tekanan inflasi, terutama dari sektor energi dan ketegangan geopolitik global, belum mereda, ruang bagi The Fed untuk beralih ke kebijakan yang lebih akomodatif masih terbatas.  Bitcoin dan Pola Sell-the-News: Volatilitas Tanpa Perubahan Struktur  Di pasar kripto, Bitcoin saat ini bergerak di kisaran US$80.000–US$81.000*, mencerminkan fase konsolidasi setelah reaksi cepat pasca-FOMC. Berdasarkan analisis internal , harga Bitcoin sempat turun sekitar US$1.300 hanya dalam waktu 10 menit setelah pengumuman kebijakan, melanjutkan pola sell-the-news yang telah terjadi dalam 8 dari 9 pertemuan The Fed terakhir.  Fenomena ini menegaskan bahwa volatilitas pasca-FOMC merupakan respons jangka pendek terhadap likuiditas dan positioning pasar, bukan refleksi perubahan fundamental. Secara historis, periode 24–48 jam setelah pengumuman kebijakan sering kali dipenuhi fluktuasi tajam sebelum pasar kembali mengikuti arah tren yang lebih besar.  Di tengah tekanan jangka pendek tersebut, fondasi struktural pasar kripto tetap menunjukkan ketahanan. Arus dana institusional, khususnya melalui produk spot Bitcoin ETF, masih mencerminkan akumulasi yang konsisten. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar besar tetap berfokus pada narasi adopsi jangka panjang, bukan volatilitas berbasis peristiwa.  Dari sisi teknikal, […]

  • Digitalisasi Administrasi Pemerintahan dengan Tanda Tangan Elektronik

    Digitalisasi Administrasi Pemerintahan dengan Tanda Tangan Elektronik

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Digitalisasi administrasi dengan tanda tangan elektronik membantu instansi pemerintah mempercepat proses layanan, meningkatkan keamanan dokumen, dan mengurangi risiko pemalsuan. Melalui solusi seperti ezSign, transformasi layanan publik dapat dilakukan secara bertahap tanpa mengganggu operasional yang sedang berjalan. Proses administrasi di banyak instansi pemerintahan masih bergantung pada tanda tangan basah. Pejabat yang sedang dinas luar kota sering […]

expand_less