Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Bitcoin Kembali Tertekan, CPI dan The Fed Jadi Penentu Arah Berikutnya

Bitcoin Kembali Tertekan, CPI dan The Fed Jadi Penentu Arah Berikutnya

  • account_circle vritimes
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 5
  • comment 0 komentar

Jakarta, 5 September 2026 – Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah level psikologis US$80.000 setelah sempat menembus US$82.000 pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan kembali mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

Per sekitar pukul 09.00 WIB pada Sabtu (5/9), Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$79.578, melemah sekitar 1,9% dalam 24 jam. Dalam periode yang sama, BTC sempat menyentuh level tertinggi US$82.108 dan terendah sekitar US$78.706.

Tekanan terhadap Bitcoin meningkat setelah Bureau of Labor Statistics (BLS) AS melaporkan penambahan 162.000 lapangan kerja nonpertanian pada Agustus 2026, jauh di atas perkiraan ekonom. Tingkat pengangguran juga bertahan di level 4,1%. Data tersebut memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat dan memberi ruang lebih besar bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan membuka kembali kemungkinan kenaikan suku bunga.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa faktor makroekonomi masih menjadi salah satu penggerak utama pasar aset kripto dalam jangka pendek.

“Pergerakan Bitcoin saat ini memperlihatkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan likuiditas global. Data tenaga kerja AS yang kuat membuat investor kembali menghitung kemungkinan kebijakan The Fed yang lebih ketat. Jadi, koreksi ini lebih banyak mencerminkan perubahan sentimen makro dibandingkan perubahan fundamental Bitcoin itu sendiri,” ujar Yudho.

Bitcoin Uji Area Penting US$78.500–US$79.200

Dari sisi teknikal, data internal FLOQ melihat area US$78.500–US$79.200 menjadi zona yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek. Kemampuan Bitcoin mempertahankan area tersebut dapat menjadi fondasi untuk kembali menguji US$80.600 dan kemudian area US$82.000.

Sebaliknya, apabila tekanan jual berlanjut dan BTC kehilangan US$78.500 secara meyakinkan, ruang koreksi menuju area sekitar US$76.800 dapat kembali terbuka.

“Selama Bitcoin masih mampu mempertahankan area US$78.500 sampai US$79.200, kami melihat struktur pemulihannya belum sepenuhnya hilang. Pasar membutuhkan buying momentum baru untuk merebut kembali US$80.600 dan terutama US$82.000. Jika US$82.000 berhasil ditembus secara konsisten, ruang menuju US$85.000 akan kembali terbuka,” kata Yudho.

Meski tekanan makro meningkat, terdapat sinyal positif dari sisi permintaan institusional. Spot Bitcoin ETF di AS mencatat sekitar US$730,9 juta net inflow pada 3 September, menjadi salah satu arus masuk harian terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Arus dana tersebut terjadi ketika Bitcoin kembali menembus level US$82.000 sebelum akhirnya terkoreksi pascarilis data tenaga kerja AS.

Menurut Yudho, kondisi tersebut menunjukkan adanya tarik-menarik antara tekanan makro jangka pendek dan minat investor institusional terhadap aset kripto.

“Hal yang menarik adalah ketika harga mengalami volatilitas akibat faktor makro, kita masih melihat arus modal institusional masuk melalui ETF. Ini memberikan gambaran bahwa investor besar belum sepenuhnya meninggalkan Bitcoin. Karena itu, investor perlu membedakan volatilitas jangka pendek dengan perkembangan permintaan struktural yang terjadi di pasar,” jelasnya.

CPI dan Keputusan The Fed Jadi Katalis Berikutnya

Perhatian pasar kini beralih ke laporan inflasi AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis pada 11 September 2026. Data tersebut menjadi semakin penting setelah CPI AS pada Juli tercatat naik 3,4% secara tahunan. Angka inflasi berikutnya berpotensi menentukan seberapa agresif The Fed perlu merespons kondisi ekonomi AS.

Setelah laporan CPI, investor akan menghadapi agenda yang lebih besar melalui pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada 16 September.

Menurut FLOQ, kombinasi data inflasi dan keputusan The Fed akan menjadi dua katalis terpenting bagi arah Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan.

“Untuk beberapa hari ke depan, fokusnya bukan hanya apakah Bitcoin berada di US$79.000 atau US$80.000. Yang lebih penting adalah bagaimana data inflasi mengubah ekspektasi kebijakan The Fed. Jika tekanan inflasi mulai melandai dan The Fed memilih mempertahankan suku bunga, ruang pemulihan risk assets termasuk Bitcoin bisa kembali terbuka. Sebaliknya, inflasi yang masih tinggi dan sinyal kebijakan yang lebih hawkish berpotensi mempertahankan volatilitas,” ungkap Yudho.

Dengan kondisi tersebut, prospek Bitcoin dalam jangka pendek masih cenderung netral dengan volatilitas tinggi. Area US$78.500 menjadi level penting untuk menjaga struktur pemulihan, sementara US$82.000 menjadi resistance utama yang perlu ditembus untuk memberikan konfirmasi bullish yang lebih kuat.

Namun, di luar fluktuasi jangka pendek, berlanjutnya arus dana institusional menjadi salah satu faktor yang dapat menopang prospek pasar. Karena itu, pergerakan Bitcoin sepanjang September diperkirakan akan lebih banyak ditentukan oleh interaksi antara inflasi AS, kebijakan The Fed, kondisi likuiditas global, serta keberlanjutan permintaan dari investor institusional.

Disclaimer: Materi ini disampaikan untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk membeli maupun menjual aset kripto.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Dalam #HIC2026: Inovasi, Kolaborasi, dan Momentum Industri di Jakarta

    Di Dalam #HIC2026: Inovasi, Kolaborasi, dan Momentum Industri di Jakarta

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Jakarta, Indonesia — Hospitality Indonesia Conference ke 9 #HIC2026, yang merupakan bagian dari Hospitality Asia Event Series, sukses membawa 415 tamu unik selama 2 hari event, ini menjadi salah satu pengingat penting dalam kemajuan diskusi dan dialog, inovasi dan kolaborasi di sektor perhotelan Indonesia. Konferensi ini dilaksanakan pada tanggal 10-11 Februari 2026 di Le Meridien […]

  • Gayamharjo Naik Kelas! BRI Life dan BRI Research Institute Dorong Inovasi Singkong Jadi Pie Susu dari Tepung Mocaf

    Gayamharjo Naik Kelas! BRI Life dan BRI Research Institute Dorong Inovasi Singkong Jadi Pie Susu dari Tepung Mocaf

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 20
    • 0Komentar

    SLEMAN, 05 Juli  2026 – BRI Life kembali berkolaborasi BRI Research Institute (BRIRINS) untuk mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di Kalurahan Gayamharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Melalui Program CSR Pemberdayaan UMKM Tahap II, kedua lembaga berkomitmen memperkuat daya saing produk lokal dengan meingkatkan nilai tambah singkong yang awalnya bernilai jual rendah menjadi komoditas premium lewat kelompok UMKM […]

  • BP Tapera Kembali Toreh Sejarah, Akad Massal 62.710 KPR Sejahtera FLPP Bersama Presiden RI di Kabupaten Batang

    BP Tapera Kembali Toreh Sejarah, Akad Massal 62.710 KPR Sejahtera FLPP Bersama Presiden RI di Kabupaten Batang

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 13
    • 0Komentar

    BP Tapera dalam menyalurkan FLPP terus menunjukkan tren peningkatan, dimulai pada tahun 2020 sebesar 109.253 unit, kemudian di tahun 2021 meningkat menjadi 178.728 unit, diikuti tahun berikutnya di 2022 sebesar 226.000 unit, dan tahun 2023 sebesar 229.000 unit. Penyaluran dana FLPP sempat mengalami penurunan tahun 2024 sebesar 200.300 unit, yang kemudian kembali menunjukkan kenaikan di […]

  • Tingkatkan Keandalan Layanan, KAI Perkuat Infrastruktur Sistem Pemesanan Tiket

    Tingkatkan Keandalan Layanan, KAI Perkuat Infrastruktur Sistem Pemesanan Tiket

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle editor News
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Proses migrasi dan penguatan kapasitas Rail Ticketing System (RTS) ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026, mulai pukul 00.00 hingga 04.00 WIB. Selama empat jam tersebut, seluruh kanal pemesanan tiket online akan dinonaktifkan sementara untuk proses transisi ke sistem yang lebih modern. JEMBER – Guna memberikan kenyamanan ekstra bagi masyarakat dalam memesan tiket mudik […]

  • BRI Insurance dan Bank Bengkulu Perkuat Sinergi Strategis melalui Perlindungan Aset BPD Bengkulu

    BRI Insurance dan Bank Bengkulu Perkuat Sinergi Strategis melalui Perlindungan Aset BPD Bengkulu

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 10
    • 0Komentar

    PT BRI Asuransi Indonesia (BRI Insurance) bersama PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu (Bank Bengkulu) memperkuat sinergi strategis melalui Perjanjian Kerja Sama tentang Asuransi Umum Aset Bank yang ditandatangi langsung oleh CE BRI Insurance Bpk. Budi Legowo dan Direktur Utama BPD Bengkulu Bpk. H. Iswahyudi, SE., MM didampingi jajarannya. Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam mendukung […]

  • The May Edit: Panduan Gaya Kurasi Tekstur Kontemporer untuk Agenda Long Weekend Idul Adha, Silaturahmi, Kondangan, hingga Hangout

    The May Edit: Panduan Gaya Kurasi Tekstur Kontemporer untuk Agenda Long Weekend Idul Adha, Silaturahmi, Kondangan, hingga Hangout

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Oleh Tim Editorial Fuguku Mei selalu membawa dinamika sartorial yang menarik. Di antara padatnya jadwal undangan pernikahan (wedding season), persiapan momen silaturahmi perayaan, hingga rencana long weekend escape, kita kerap dihadapkan pada satu pertanyaan klasik: bagaimana menyusun ansambel yang praktis namun tetap mengintimidasi secara visual? Kuncinya terletak pada permainan dimensi dan kontras. Busana berpola minimalis […]

expand_less