FLOQ Catat 1,8 Juta Pengguna, Perkuat Ekosistem Keuangan On-Chain Bersama AWS
- account_circle vritimes
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar

Jakarta, 7 Agustus 2026 — Pertumbuhan jumlah investor kripto dan perkembangan teknologi blockchain membuka peluang baru bagi transformasi aset digital di Indonesia. Founder dan CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis,menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aset kripto telah berkembang menjadi bagian dari industri jasa keuangan yang lebih luas.
Dalam presentasinya di AWS Summit Jakarta 2026, Yudhono menyampaikan bahwa Indonesia saat ini memiliki lebih dari 20 juta investor aset kripto. Nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang 2025 juga telahmencapai lebih dari Rp400 triliun, sementara sekitar satu dari 14 penduduk Indonesia tercatat telah berinvestasi pada aset kripto.
“Ini bukan lagi hanya cerita tentang kripto. Ini sudah menjadi cerita tentang industri jasa keuangan,” ujar Yudho dalam presentasinya di AWS Summit Jakarta 2026 dapa Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurut Yudho, tingkat penetrasi aset kripto di Indonesia yang masih berada di kisaran 7% menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan industri masih terbuka lebar. Peluang tersebut juga semakin besar seiringberkembangnya stablecoin, tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA), serta integrasi kecerdasan buatan dengan sistem keuangan berbasis blockchain.
Secara global, nilai transaksi stablecoin disebut telah mencapai sekitar US$33 triliun sepanjang 2025, tumbuh 72% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai aset dunia nyata yang telah ditokenisasi dan ditempatkan secara on-chain telah melampaui US$35 miliar.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi blockchain tidak lagi terbatas pada perdagangan aset kripto. Infrastruktur on-chain mulai digunakan untuk pembayaran, tokenisasi surat berharga, dana investasi, komoditas, deposito, hingga pengembangan sistem keuangan yang dapat diprogram.
“Pertanyaannya bagi Indonesia bukan lagi apakah layanan keuangan akan bergerak secara on-chain, tetapi siapa yang akan membangun jembatan menuju ekosistem tersebut,” kata Yudho.
Pertumbuhan FLOQ
Di tengah pertumbuhan industri tersebut, FLOQ mencatat perkembangan bisnis yang signifikan sejak proses pembangunan platform dimulai pada Januari 2025. Perusahaan kemudian meluncurkan platformnya pada Mei 2025 atau sekitar empat bulan setelah proses pengembangan dimulai.
Pada hari peluncuran, platform FLOQ menerima lebih dari 600.000 trafik secara bersamaan. FLOQ juga menjadi aplikasi dengan jumlah unduhan tertinggi di Indonesia pada 27 Mei 2025. Perusahaan menyatakan seluruhproses deposit dan transaksi tetap berjalan tanpa downtime pada hari pertama peluncuran.
Memasuki satu tahun operasional, FLOQ telah memiliki sekitar 1,8 juta pengguna. Nilai dana fiat dan aset kripto yang ditempatkan pengguna melalui platform tersebut telah melampaui Rp1 triliun.
FLOQ juga memperoleh pendanaan sebesar US$11 juta serta mendapatkan penghargaan sebagai salah satu platform perdagangan aset kripto dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia pada 2025. Selain pertumbuhanpengguna, perusahaan menempatkan kepatuhan, keamanan, dan kemampuan menjaga kepercayaan pengguna sebagai bagian utama dari pengembangan produknya.
“Pertumbuhan adalah bagian yang lebih mudah. Produk yang sesungguhnya adalah bagaimana kami menjaga kepercayaan pengguna dalam skala yang semakin besar,” ujar Yudhono.
Kolaborasi FLOQ dan AWS
Untuk mendukung peningkatan jumlah pengguna dan aktivitas transaksi, FLOQ membangun infrastrukturnya di atas teknologi Amazon Web Services sejak hari pertama pengembangan.
Pemanfaatan infrastruktur AWS memungkinkan FLOQ menyesuaikan kapasitas komputasi berdasarkan peningkatan jumlah transaksi. FLOQ menggunakan sejumlah layanan AWS, termasuk AWS Lambda, Amazon Aurora, dan AWS Nitro Enclaves, untuk mendukung skalabilitas, pengelolaan data, serta keamanan proses transaksi.
Sistem FLOQ juga dijalankan menggunakan arsitektur hot-hot pada dua Availability Zone di AWS Asia Pacific Region Jakarta. Arsitektur tersebut dirancang agar layanan, termasuk proses penarikan aset, tetap berjalanapabila terjadi gangguan pada salah satu zona.
Dalam proses pengamanan transaksi blockchain, penandatanganan transaksi dilakukan melalui lingkungan komputasi yang terisolasi menggunakan AWS Nitro Enclaves. Dengan sistem tersebut, kunci penandatanganantransaksi tidak terekspos kepada jaringan, pihak eksternal, maupun personel internal perusahaan.
Setiap permintaan penarikan juga melalui sejumlah tahapan pemeriksaan, mulai dari verifikasi permintaan oleh platform kustodian, pencocokan dengan sistem perdagangan, pemeriksaan transaksi ganda, hingga proses anti-money laundering sebelum transaksi diteruskan ke jaringan blockchain.
“Kolaborasi dengan AWS memberikan kami fondasi untuk membangun infrastruktur yang aman, elastis, dan dapat beroperasi selama 24 jam. Infrastruktur yang menjadi penghubung layanan keuangan tradisional denganekosistem on-chain tidak boleh mudah terganggu,” jelas Yudho.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
- Penulis: vritimes


