Asia Memasuki Era Keemasan Olahraga Raket, Indonesia Muncul sebagai Pasar dengan Pertumbuhan Pesat
- account_circle adm9l9jps
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar

Bali, 20 Februari 2026 — Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga raket mengalami pertumbuhan global yang signifikan. Dari tenis, squash, padel hingga pickleball, semakin banyak orang menjadikan olahraga ini bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan interaksi sosial. Laporan ITF Global Tennis Report 2024 mencatat lebih dari 106 juta orang di 199 negara aktif bermain tenis, baik secara amatir maupun profesional. Di luar tenis, squash dimainkan oleh lebih dari 20 juta orang di 185 negara. Sementara itu, padel dan pickleball muncul sebagai dua cabang olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia, mencerminkan pergeseran minat masyarakat terhadap olahraga yang inklusif dan sosial.
Gelombang pertumbuhan ini juga terasa kuat di Asia, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap olahraga raket menunjukkan peningkatan yang konsisten, ditandai dengan bertambahnya fasilitas, komunitas, hingga turnamen di berbagai kota. Padel misalnya, mengutip Indonesia Padel Report 2025, telah memasuki fase ekspansi nasional dengan pertumbuhan mencapai 295 persen sepanjang 2025. Hampir setiap hari, Indonesia menambah sekitar satu klub padel baru dan lebih dari tiga lapangan baru, menunjukkan sinyal kuat terhadap tingginya minat pasar dan investasi di sektor ini.
Di tengah dinamika tersebut, Liga.Tennis hadir bukan sekadar sebagai pelaku industri, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang turut mendorong pertumbuhan olahraga raket di Indonesia. Sejak berdiri pada 2017, Liga.Tennis mengembangkan jaringan klub dengan visi membangun pengalaman bermain yang konsisten, profesional, dan berorientasi pada komunitas.
Founder Liga.Tennis, Dima Shcherbakov menyampaikan, “Olahraga raket sedang memasuki era keemasan. Bukan hanya tenis sebagai cabang klasik, tetapi juga padel, squash, dan pickleball yang berkembang sangat cepat. Pertumbuhan ini perlu diimbangi dengan ekosistem yang sehat, fasilitas yang berkualitas, program pelatihan yang terstruktur, serta pengalaman bermain yang membuat orang ingin kembali,” ujar pria yang biasa disapa Dimas ini.
Pendekatan tersebut menjadi fondasi model operasional Liga.Tennis, yang memadukan manajemen modern, standar layanan yang terukur, serta pemanfaatan teknologi melalui Liga App. Saat ini, Liga.Tennis mengoperasikan delapan klub yang tersebar di Bali, Solo, dan Sumba–Nusa Tenggara Timur, dengan tingkat okupansi rata-rata mencapai 85 persen. Di luar operasional harian, Liga.Tennis juga aktif mengembangkan komunitas melalui berbagai inisiatif dan turnamen, termasuk Liga.Tennis Open dan World Pickleball Championship, yang secara konsisten menarik partisipasi domestik maupun internasional.
Keunggulan lain Liga.Tennis terletak pada aspek coaching excellence dan program pelatihan terstruktur. Mulai dari Junior Academy untuk anak usia 5–12 tahun hingga program latihan intensif bagi pemain profesional. Pendekatan berbasis pengalaman dan komunitas tersebut berdampak langsung pada kinerja bisnis perusahaan. Pada periode 2024–2025, Liga.Tennis mencatat kenaikan pendapatan tahunan sebesar 35 persen, dengan margin laba bersih mencapai 31 persen. Pada periode yang sama, laba bersih perusahaan tumbuh 105 persen secara year-on-year.
Ke depan, Liga.Tennis membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk investor untuk pengembangan lokasi baru. Seiring ekspansi yang berlangsung cepat, Liga.Tennis juga secara aktif membuka peluang bagi talenta profesional mulai dari staf operasional hingga pelatih.
Selain ekspansi klub, Liga.Tennis juga menjajaki kolaborasi strategis dengan operator hotel dan venue olahraga raket yang memiliki fasilitas olahraga yang belum termanfaatkan secara optimal. Salah satu contohnya adalah lapangan di Hilton Resort Nusa Dua yang, setelah dikelola oleh Liga.Tennis berhasil mencatatkan peningkatan tingkat okupansi hingga dua kali lipat.
Bagi Calvin Juso Handono, member Liga.Tennis sejak 2019, pengalaman di Liga.Tennis melampaui sekadar aktivitas olahraga. “Sejak awal saya merasa seperti di rumah. Ada banyak klub tenis, tetapi tidak ada yang memberikan rasa memiliki seperti Liga.Tennis,” ujarnya.
Menurut Calvin, konsistensi pengalaman dan atmosfer komunitas menjadi pembeda utama. “Di klub mana pun yang dikunjungi, kualitas dan suasananya terasa sama. Bagi saya, inilah yang memberikan nilai jangka panjang bagi Liga.Tennis. Perasaan inilah yang ingin saya hadirkan bagi masyarakat di Solo melalui padel. Sebuah rasa memiliki, di mana orang benar-benar merasa seperti di rumah dan merasakan dukungan tulus dari pelatih,” tambah Calvin yang berprofesi sebagai seorang dokter dan kini menjadi investor untuk Liga.Tennis Solo, klub Liga.Tennis pertama di Pulau Jawa.
Ke depan, Liga.Tennis menargetkan pengelolaan 77 klub dalam 10 tahun ke depan. Dengan dukungan aset digital seperti Liga App yang hampir memiliki 100.000 member, Liga.Tennis juga menyiapkan langkah ekspansi ke pasar regional, khususnya Asia Tenggara.
“Sektor olahraga raket menyimpan potensi besar, baik dari sisi bisnis maupun dampak sosial. Keterlibatan di dalamnya bukan hanya tentang peluang ekonomi, tetapi juga tentang membangun komunitas yang lebih sehat dan aktif,” tutup Dimas.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES
- Penulis: adm9l9jps


