Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Belajar dari Indonesia: Ketika Sebuah Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup

Belajar dari Indonesia: Ketika Sebuah Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup

  • account_circle vritimes
  • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
  • visibility 19
  • comment 0 komentar

Oleh Gunjan Prasad*

Jakarta — Salah satu konsekuensi tak terduga ketika membangun kehidupan di negara lain adalah tanpa disadari kita berubah menjadi seorang antropolog. Selama hampir dua belas tahun Indonesia menjadi rumah bagi keluarga kami, saya merasa cukup hanya dengan mengamati.

Baru ketika diminta menulis refleksi ini saya mulai mencari kata-kata untuk menjelaskan apa yang selama ini saya rasakan. Saya bertanya kepada teman-teman Indonesia, mencarinya di Google, bahkan bertanya kepada ChatGPT apakah bahasa Indonesia memiliki istilah untuk menggambarkan berbagai nilai yang diam-diam saya kagumi selama tinggal di sini. Sebagian memang memiliki padanan kata. Namun sebagian lainnya, seperti martabat yang tenang dalam cara masyarakat Indonesia menjalani hidup, terasa sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Tulisan ini lahir dari berbagai pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan saya di Indonesia: rumah, keluarga, lingkungan sekitar, sekolah anak-anak, spiritualitas, makanan, hingga kebudayaan.

Pelajaran pertama yang saya dapatkan dari Indonesia datang jauh sebelum saya mengetahui bahwa nilai itu memiliki sebuah nama.

Pelajaran itu saya temukan di rumah.

Apabila salah satu anggota staf rumah tangga kami menyelesaikan pekerjaannya lebih dahulu, ia akan membantu rekan lainnya tanpa diminta. Ketika ada yang sedang sakit, pekerjaan berpindah tangan begitu saja, hampir tanpa terlihat. Tidak pernah terdengar pertanyaan, “Itu tugas siapa?” Mereka hanya melihat apa yang perlu dilakukan, lalu mengerjakannya bersama. Rumah kami terasa berjalan bukan sebagai tempat kerja dengan pembagian tugas yang kaku, melainkan sebagai sebuah komunitas kecil.

Awalnya saya mengira kami hanya beruntung memiliki orang-orang yang luar biasa.

Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa yang saya saksikan sebenarnya adalah salah satu naluri budaya paling mendasar di Indonesia.

Gotong royong.

Dalam bahasa Inggris istilah ini sering diterjemahkan sebagai mutual cooperation. Namun terjemahan itu terasa terlalu kaku. Gotong royong bukan sekadar bekerja sama karena seseorang meminta bantuan. Nilai itu lahir dari keyakinan bahwa kesejahteraan saya dan kesejahteraan Anda saling berkaitan.

Begitu saya mulai memahami maknanya, saya melihat gotong royong hadir hampir di mana-mana.

Saya menemukannya kembali di sekolah internasional tempat anak-anak kami belajar. Seperti banyak keluarga ekspatriat lainnya, kami datang dengan harapan yang tidak jauh berbeda. Kami ingin anak-anak berprestasi, menemukan bakat mereka, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Sekolah tentu mendorong mereka untuk meraih prestasi. Namun pada saat yang sama, sekolah juga mengajarkan sesuatu yang lebih penting, yaitu bahwa keberhasilan tidak boleh diraih dengan mengorbankan orang lain. Di ruang kelas, lapangan olahraga, kegiatan seni, maupun proyek pelayanan masyarakat, anak-anak terus menerima pesan yang sama. Jika kita memiliki kesempatan untuk berhasil, maka kita juga memiliki tanggung jawab membantu orang lain berkembang bersama kita. Prestasi memang penting, tetapi memberikan ruang bagi orang lain untuk berhasil sama pentingnya.

Ada lagi satu kata yang menurut saya hampir mustahil diterjemahkan dengan tepat, yaitu ramah.

Bahasa Inggris biasanya menerjemahkannya sebagai friendliness. Namun bagi saya, ramah lebih merupakan cara menyambut seseorang. Sebuah kemampuan sederhana untuk membuat orang lain merasa diterima bahkan sebelum mereka melakukan apa pun.

Saya menemukannya di tempat-tempat yang paling biasa.

Saat mewawancarai narasumber ketika masih menjadi jurnalis lepas, berbincang dengan pengemudi Grab, bermain bridge, duduk di salon langganan, berbelanja di pasar tradisional, hingga dalam percakapan-percakapan kecil yang diawali dengan bahasa Indonesia saya yang masih terbata-bata.

Lebih sering daripada yang saya bayangkan, kesalahan saya dalam berbahasa tidak disambut dengan koreksi, melainkan dengan senyum dan kegembiraan yang tulus. Sebagai seorang ekspatriat, saya tidak pernah merasa harus “membuktikan diri” agar diterima. Keramahan di Indonesia bukan sekadar membuat orang merasa disambut, melainkan membuat mereka hampir tidak pernah merasa sebagai orang asing.

Kemudian saya mengenal makna ikhlas.

Selama tinggal di Indonesia, kami berkesempatan bekerja bersama banyak orang Indonesia yang luar biasa. Etos kerja mereka sangat tinggi, loyalitasnya tidak pernah diragukan, standar kerjanya sangat baik, dan semangat belajar mereka selalu menginspirasi.

Namun, yang paling membekas justru bukan semua itu.

Yang paling saya ingat adalah betapa kecilnya keinginan mereka untuk mencari pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan. Kini saya memahami bahwa mungkin itulah makna ikhlas: melakukan sesuatu sepenuh hati tanpa terus-menerus berharap dipuji atau diakui.

Bersamaan dengan itu saya juga belajar mengenai harga diri.

Di balik kesopanan masyarakat Indonesia tersimpan rasa hormat terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Ketika kepercayaan rusak atau rasa hormat hilang, jarang sekali saya melihat kemarahan yang meledak-ledak. Yang lebih sering terjadi justru seseorang memilih menjaga jarak dengan tenang. Ada hal-hal yang tidak dapat diperbaiki hanya melalui penjelasan atau negosiasi.

Indonesia juga memiliki satu kata yang sangat saya sukai: adem.

Kata ini bukan hanya berarti sejuk. Adem adalah perasaan ketika segala sesuatu terasa tenang dan berada pada tempatnya. Itulah yang selalu saya rasakan setiap kali duduk bermain bridge di Jakarta.

Indonesia melahirkan banyak pemain bridge terbaik yang pernah saya temui. Kemampuan teknis mereka luar biasa dan mereka selalu mengikuti perkembangan strategi terbaru. Namun yang paling mengesankan bukanlah kecerdasannya, melainkan ketenangannya. Mereka tidak pernah merasa perlu memamerkan kemampuan. Di Indonesia, rasa percaya diri dan kerendahan hati ternyata dapat berjalan berdampingan.

Saya juga mengira selama ini telah memahami arti sabar.

Ternyata Indonesia mengajarkan makna yang jauh lebih dalam.

Sabar bukan sekadar kemampuan menunggu, tetapi keyakinan bahwa proses tidak harus selalu dipercepat. Saat membesarkan dua putra kami hingga beranjak dewasa, saya sering mengingat pelajaran tersebut. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa dipaksa. Kita hanya bisa merawatnya dengan penuh kasih dan percaya bahwa semuanya akan berkembang pada waktunya sendiri.

Dan mungkin sabar selalu berjalan berdampingan dengan sahabatnya yang paling setia: syukur.

Sabar mengajarkan kita untuk percaya pada sesuatu yang masih berproses. Syukur mengingatkan kita untuk menghargai apa yang telah kita miliki hari ini.

Setiap kali kami memulai perjalanan, sopir kami selalu mengucapkan doa singkat. Ketika kami tiba di tujuan, doa lain kembali dipanjatkan. Tidak ada seremoni. Tidak ada penonton. Hanya ungkapan syukur yang sederhana.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa rasa syukur tidak harus menunggu peristiwa besar dalam hidup. Tiba di tujuan dengan selamat pun sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur. Pelajaran sederhana itu kini menjadi salah satu yang paling saya hargai.

Ada satu bagian yang sengaja tidak saya ceritakan di sini.

Hubungan saya dengan makanan Indonesia rasanya layak mendapat tulisan tersendiri.

Cukuplah saya katakan bahwa isi dapur kami pun perlahan berubah. Ketumbar dan jintan kini berbagi tempat dengan kemiri, terasi, daun jeruk, dan kecap manis. Berbagai resep yang dahulu saya coba karena rasa penasaran kini justru menjadi hidangan favorit keluarga, bahkan lebih sering diminta dibanding makanan yang kami nikmati sejak kecil. Tanpa saya sadari, perubahan isi dapur itu ternyata sedang menceritakan kisah yang jauh lebih besar.

Baru ketika menulis refleksi ini saya menyadari betapa dalam Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami.

Kami kini sedikit lebih lambat menghakimi orang lain, sedikit lebih cepat merangkul mereka, sedikit lebih sabar, dan jauh lebih mudah bersyukur.

Mungkin memang begitulah hidup di negara lain dalam waktu yang cukup lama.

Suatu hari kita menyadari bahwa negeri itu tidak lagi sekadar tempat tinggal sementara. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita, dan perlahan ikut membentuk siapa diri kita sebenarnya.

*Gunjan Prasad adalah penulis asal India yang telah tinggal di Indonesia selama hampir 12 tahun. Melalui pengalaman hidup bersama keluarganya di Indonesia, ia banyak menulis tentang budaya, masyarakat, pendidikan, serta pengalaman lintas budaya yang memperkaya hubungan antara Indonesia dan India.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Penulis: vritimes

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dukung Pemerataan Internet Nasional, MyRepublic Air Sukses ULO di Lampung

    Dukung Pemerataan Internet Nasional, MyRepublic Air Sukses ULO di Lampung

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Proses Uji Laik Operasi (ULO) pada akhir Februari telah sukses dijalankan oleh layanan MyRepublic Air. Upaya memperluas akses internet berkualitas di Sumatra terus dilakukan MyRepublic Indonesia. Proses Uji Laik Operasi (ULO) pada akhir Februari telah sukses dijalankan oleh layanan MyRepublic Air. Pelaksanaan ULO yang dilakukan secara daring ini menandai kesiapan MyRepublic Air untuk segera beroperasi […]

  • Pelindo Parepare Siagakan Layanan Pelabuhan Jelang Iduladha 2026

    Pelindo Parepare Siagakan Layanan Pelabuhan Jelang Iduladha 2026

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Parepare, Mei 2026 – Menjelang perayaan Iduladha 2026, aktivitas di kawasan pelabuhan diprediksi mengalami peningkatan, baik arus penumpang maupun distribusi barang. Menyikapi hal tersebut, PT Pelindo Multi Terminal Branch Parepare memastikan pelayanan dan fasilitas pelabuhan tetap optimal untuk mendukung kelancaran aktivitas masyarakat. Branch Manager Pelindo Multi Terminal Parepare, Beny, mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah persiapan […]

  • Penawaran Ramadan di Sari Pacific Jakarta, Autograph Collection

    Penawaran Ramadan di Sari Pacific Jakarta, Autograph Collection

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Jakarta, 23 Februari 2026 –  Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Sari Pacific Jakarta, Autograph Collection menghadirkan rangkaian pengalaman yang dirancang untuk mempererat kebersamaan. Dari sajian berbuka puasa yang hangat, bingkisan penuh makna, hingga paket menginap yang nyaman, setiap detail dipersiapkan untuk menemani tamu menjalani Ramadan dengan lebih berkesan.  Nuansa Ramadan Kaya Rasa Saat adzan Maghrib […]

  • Holding Perkebunan Nusantara melalui RPN Hadirkan Museum Gula Indonesia: Rumah Sejarah dan Inovasi Pergulaan

    Holding Perkebunan Nusantara melalui RPN Hadirkan Museum Gula Indonesia: Rumah Sejarah dan Inovasi Pergulaan

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Pasuruan – Sejarah baru industri gula nasional terukir pada Rabu (29/4). Di Gedung P3GI, Kota Pasuruan, PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) melalui Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), salah satu entitas dari Holding Perkebunan Nusantara tersebut menggelar soft launching Museum Gula Indonesia dalam rangkaian Pertemuan Teknis IKAGI (Ikatan Ahli Gula Indonesia) 2026. Museum Gula Indonesia […]

  • Dari C-Suite ke Founder Posthinks Agency: Kenapa Semakin Banyak Eksekutif Senior Pilih Bangun Agency Sendiri di Usia Produktif?

    Dari C-Suite ke Founder Posthinks Agency: Kenapa Semakin Banyak Eksekutif Senior Pilih Bangun Agency Sendiri di Usia Produktif?

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Ada momen di mana saya duduk di ruangan yang nyaman, jabatan yang tertulis jelas di kartu nama, dan gaji yang masuk otomatis setiap tanggal satu lalu bertanya: seberapa lama saya mau terus begini? Pertanyaan itu bukan muncul karena tidak bahagia. Justru sebaliknya saya sedang di titik terbaik karier korporat saya. Chief Sales & Marketing Officer, […]

  • Prospek Kerja Lulusan SATU University Bandung di Era Digital

    Prospek Kerja Lulusan SATU University Bandung di Era Digital

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle vritimes
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Prospek kerja lulusan SATU University Bandung tentu sangat luas karena kampus akan selalu melahirkan wisudawan andal dari berbagai jurusan yang tengah dibutuhkan industri terkini. SATU University merupakan member dari BINUS Higher Education yang terkenal dengan reputasinya di tingkat internasional. Tentu tak mengherankan apabila prospek kerja yang menjanjikan menjadi salah satu daya tarik SATU University. Mahasiswa […]

expand_less